Tingkah Laku Ikan terhadap Cahaya

12 03 2010

Umumnya organisme hidup yang media hidupnya di air terangsa atau tertarik dengan sinar atau cahaya (phototaxis positif), karena itu iakn selalu berusaha mendekati sumber cahaya dan berkumpul disekitarnya (Subani dan Barus, 1989). Lebih jauh lagi Ayodhyoa (1985) menjelaskan bahwa peristiwa berkumpulnya ikan di bawah cahaya dapat dibedakan  sebagai berikut:

1. Peristiwa langsung: yaitu ikan-ikan tersebut memang tertarik oleh cahaya lalu berkumpul (phototaxis positif), dan

2. Peritiwa tak langsung; yaitu karena adanya cahaya emnjadikan plankton-plankton dan ikan-ikan kecil berkumpul, lalu ikan-ikan sasaran tangkapan datang mendekat dan berkumpul dengan tujuan untuk mencari makan berupa plankton atau ikan-ikan kecil tersebut.

Dragesund (1985), menemukan bahwa kadang-kadang ikan menunjukkan gerakan vertikal ke atas dengan cepat menuju sumber cahaya (lampu) yang secara tiba-tiba dinyalakan, dan beberapa menit kemudian mereka akan bubar atau turun ke bawah sampai pada jarak tertentu.

Sumber:
Wahyono, A dan S.P. Prabowo. Sistem Operasi Kapal Purse Seine Asal Jawa dengan Nelayan Pantai Kalimantan Selatan di Selat Makasar. Jurnal Ariomma Vol. 25 No. 22-26 Th. 2009. hal 1-15

Advertisements




Pemberian Tanda pada Ikan

12 03 2010

Pemberian tanda pada ikan ada dua macam:

1. Marking

Marking merupakan pemberian tanda pada tubuh ikan buka berupa benda asing. Tanda yang dimaksud dalam kategori ini adalah pemotongan sirip, pemberian lubang pada tutup insang dan pemberian tato.

2. Tagging

Tagging adalah pemberian tanda pada tubuh ikan dengan membubuhkan benda asing. Benda plastik yang digunakan ialah benda-benda yang tidak mudah berkarat seperti perak, almunium, nikel, plastik, ebonitt, selluloid, dan lain-lain. Pada tag ini dapat diberikan tanggal, nomor seri atau kode lainnya yang dapat memerikan keterangan atau pesan kepada yang menemukan ikan yang telah diberikan tanda tersebut.

Tujuan pemberian tanda pada ikan ialah mengenal kembali ikan yang telah diberi tanda. Kegunaannya antara lain untuk mempelajari:
A. Parameter populasi
– Kepadatan
– Kecepatan mortalitas
– Kecepatan ekploitasi
– Kecepatan recruitmen
B. Kecepatan dan arah ruaya
C. Pertumbuhan dan penentuan umur
D. Tingkah laku

Beberapa pertimbangan dalam pemberian tanda pada ikan ialah:
1. Tujuan pemberian tanda
2. Lama kegiatan
3. Cara pengembalian ikan bertanda
4. Macam dan jumlah ikan yang terlibat
5. Tenaga kerja yang tersedia untuk memberi tanda

Selain itu bebarapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemberian tanda adalah:
1. Tanda yang diberikan tidak mengganggu pergerakan atau daur hidup ikan tersebut
2. Tanda mudah dikenalai
3. Ikan yang dipasangi tanda bukan merupakan ikan berumur pendek
4. Diusahakan tidak melukai ikan yang berakibat fatal bagi ikan yang ditandai

Sumber:
Effendi, M. I. 2002. Biologi Perikanan. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama.





Retribusi Nelayan Dihapuskan: Tanggapan

14 01 2010

Oleh:
Andhika P Prasetyo
Alumni Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Angkatan 2005 (42)

Bahwasanya sejak Januari 2010 pemerintah dalam hal ini Departemen Kelautan dan Perikanan rnenghapuskan berbagai retribusi yang dibebankan kepada nelayan. Kebijakan tidak populer bagi pemerintah ini patut disambut baik. Pemerintah berani mengambil resiko dengan mengurangi pemasukan dari retribusi. Namun diharapkan dengan dihapusnya retribusi tidak berarti pelayanan terhadap nelayan menjadi tidak baik, justru lebih baik lagi. Untuk itu pemerintah dalam hal ini Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dirasa perlu untuk memberikan dukungan berupa dana kepada pengelolaan fasilitas-fasilitas perikanan agar dengan berkurangnya pemasukan dana, tetap ada dana untuk operasional dan pemeliharaan.

Berdasarkan koran Republika,14 Januari 2010 Hal.6

“Kebijakan tersebut telah disetujui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad. setelah menyerahkan bantuan 95 unit kapal motor untuk nelayan di Pelabuhan Piaang Tanjung Pinang. Ibu kota Kepulauan Riau. yang dikutip Antara, Rabu (13/1).

Dia mengatakan, nelayan dibebaskan dari retribusi angkutan, lelang. dan tangkapan lkan. Pembebasaan retribusi cukup diatur oleh pemerintah daerah.

“Bupati, wali kota, dan gubernur dapat meneruskan kebijakan tersebut dengan mengeluarkan surat keputusan setelah dibahas bersama DPRD.” ujamya.

Fadel mengatakan, penghapusan retribusi sejalan dengan misi pemerintah. yaitu meningkatkan kesejahteran nelayan. Hal ini karena masyarakat miskin di Indonesia masih didominasi oleh nelayan dan petani.

“Tapi, saat ini petani di Indonesia mulai mengalami peningkatan kesejahteraan, sementara kelompok nelayan rnasih banyak yaag miskin.”katanya.

Sejumlah daerah telah rnenerapkan kebijakan penghapusan retribusi bagi para nelayan. Pelaksanaaan program itu menjadi kevvajiban pemerintah daerah sebagai upaya peningkatan kesejahteraan nelayan. “Kami berharap tidak ada lagi pungutan-pungutan yang dikenakan kepada nelayan.” katanya.

Baru-baru ini. kata dia, nelayan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. menggelar aksi unjuk rasa secara besar-besaran. Salah satu aspirasi yang disarnpaikan adalah penghapusan retribusi yang dikenakan kepada mereka.

“Saya sudah meminta kepada pemerintah setempat untuk merealisasikan keinginan masyarakat nelayan tersebut.” katanya. (Beddewo)

Tanggapan:

Kebijakan mendobrak dan pro rakyat ini perlu didukung. Mengingat komunitas nelayan masih menjadi strata perkejaan yang masih termarjinalkan. Perlu dukungan yang serius untuk meningkatkan Kesejahteraan nelayan. Peran Perguruan Tinggi khusunya yang terkait dengan bidang perikanan harus aktif memberikan masukan berupa inovasi kebijakan, pandangan atas kebijakan tanpa menghakimi serta menurunkan civitas perikanan (mahasiswa) untuk berbuat nyata kepada nelayan.

Namun sekedar mengingatkan banyak kebijakan pemerintah yang ada bersifat responsif dan temporal. Ganti menteri akan ganti kebijakan hampir total berbeda. Ini membuat kebijakan yang mulai baik prospeknya harus surut kembali. Selain itu kebijakan Top-Down bukan tak baik, karena dengan kebijakan Top-Down (Diktator, red) dianggap perlu untuk melakukan dobrakan, namun tetap berdasarkan pertimbangan yan sitematis dan meminimalkan kerugian. Kebijakan Top-Down sebaiknya diimbangi dengan mendengarkan pendapat grass root dalam hal ini nelayan. Caranya dengan melakukan tukar pendapat dengan nelayan dan melakukan evaluasi yang sebenar-benarnya evaluasi.

Bukan tak mungkin dengan dukungan berbagai pihak Perikanan akan bangkit dari mati surinya, benar2 merdeka!!

Apa pun maksud kebijakan dari pemerintah, diharapkan tujuannya adalah memajukan masyarakat perikanan.





Pengawetan Benang dan Jaring

4 01 2010

Klust (1983a) menjelaskan bahwa tujuan dari pengawetan adalah untuk meningkatkan ketahanan benang dan jaring terhadap pembusukan. Sejumlah metode pengawetan telah dikembangkan oleh nelayan, lembaga penelitian perikanan, industri kimia, dan industri tekstil. Metode yang digunakan nelayan umumnya adalah penggunaan ter batu bara, ter kayu atau karbon, dengan atau tanpa dicampur dengan minyak tanah atau benzene. Metode lain adalah penyamakkan dengan ekstrak kulit kayu pohon. Penggunaan persenyawaan metalik, seperti potasium bichromate, copper naphtenate, copper sulphate, coprous, oxide (seperti testalin) diperkenalkan oleh lembaga-lembaga penelitian perikanan dan industri kimia. Dari aneka macam metode pengawetan, 2 metode yang sangat efisien adalah 1) metode testalin dan 2) metode tannin + potassium bichromate.

1) Metode testalin

Pertama-tama benang dan jaring didihkan selama 30 menit dalam larutan yang mengandung 2% tannin (catechu atau ekstrak mangrove) dengan tambahan 1% coprous oxide (testalin). Setelah jaring dikeringkan perlakuan diulangi dengan menambah 2% tannin, tetapi tanpa testalin. Sebagai tambahan, ketika masih basah jaring dimasukkan ke dalam carbolineum.

2) Metode tannin + potassium bichromate

Mula-mula benang dan jaring direbus selam 30 menit dalam larutan 2% tannin. Setelah dikeringkan, jaring diletakkan ke dalam larutan 3% potassium bichromate selama 1 jam. Setelah dibilas dengan air, jaring dikeringkan. Proses ini dulangi lagi dengan larutan 2% tannin. Jika benang dan jaring dimasukkan kembali ke dalam larutan carbolineumthree-bath-method”, maka akan diperoleh hasil pengawetan terbaik.

Pengaruh pengawetan yang dilakukan dengan menggunakan berbagai metode pengawetan sangat dipengaruhi oleh kohesi antara bahan pengawet dan serat. Ter dan carbolineum tidak dapat melapisi permukaan benang dan jaring secara rapat, tetapi tetap menyisakan celah. Penggunaan kedua bahan pengawet tersebut kurang efektif jika dibandingkan dengan kedua metode di atas. Kedua metode akan menyebabkan bakteri tidak dapat menembus kulit luar serat. Keuntungan lainnya, zat pengawet yang digunakan oleh kedua metode tersebut tidak mudah dibersihkan dengan air. Benang kapas yang diawetkan dengan kedua metode ini akan memiliki daya tahan yang tinggi terhadap pembusukan (Klust, 1983a).





Unsur Cuaca yang Mempengaruhi Ketahanan Benang dan Jaring

4 01 2010

Saat alat tangkap dioperasikan atau  tidak sedang dioperasikan alat tangkap tetap akan terpengaruh  oleh unsur-unsur cuaca. Unsur-unsur cuaca tesebut akan mempengaruhi daya tahan benang dan jaring (Klust, 1983a). Unsur-unsur cuaca yang berpengaruh terhadap daya tahan benang dan jaring adalah:

a. Intensitas Radiasi Matahari

Menurut Turyanti et al.(2006) intensitas radiasi matahari (emittance) ialah kerapatan aliran energi cahaya yang dipancarkan oleh suatu benda atau permukaan. Satuan yang digunakan adalah W.m-2.

Cahaya sendiri didefinisikan sebagai radiasi elektromagnetik yang dapat ditangkap mata manusia, tetapi pada buku ini yang dimaksud dengan cahaya akan pula mencakup radiasi elektromagnetik pada kisaran panjang gelombang yang tidak dapat ditangkap mata manunsia, yakni mencakup cahaya inframerah dan ultraviolet (Lakitan, 1994).

Sehubungan  dengan sifat fisika cahaya, maka ada beberapa hal yang harus diingat kembali, yaitu:

  1. Berkas cahaya terdiri dari beberapa komponen dengan panjang gelombang yang berbeda, sebagaimana didemonstrasikan oleh Newton tahun 1966 dengan menggunakan prisma.
  2. Cahaya bergerak lebih lambat pada media yang lebih rapat dibanding pada media yang lebih renggang. Sebagai contoh cahaya bergerak lebih lambat di dalam air dibandingkan pada udara.
  3. Cahaya dapat pula dipandang sebagai kumpulan paket diskrit (kuanta) dimana masing-masing memiliki energi yang spesifik.

Intensitas penyinaran dapat diukur dengan 3 jenis alat yang umum digunakan, yaitu fotometer, quantum meter, dan radiometer.

b. Lama Penyinaran

Pada saat bumi mengelilingi  matahari, posisi sumbu bumi tidak selalu tegak lurus terhadap garis hubung antara inti bumi dengan inti matahari. Garis hubung antara inti bumi dengan inti matahari pararel dengan radiasi matahari. Sudut yang terbentuk bervariasi sekitar 90 ± 23,5°C. Variasi dari sudut yang terbentuk ini menyebabkan garis edar matahari secara teratur bergeser ke belahan bumi utara ke belahan bumi selatan (Lakitan, 1994).

Pergeseran garis edar matahari ini menyebabkan perubahan panjang hari (lama penyinaran) yang diterima pada lokasi-lokasi di permukaan bumi. Perubahan panjang hari tidak begitu besar pada daerah tropis yang dekat dengan garis ekuator. Untuk lokasi-lokasi di belahan bumi utara (BBU), lama penyinaran yang panjang (> 12 jam) akan terjadi saat garis edar matahari berada antara garis ekuator dengan garis lintang 23,5°LU. Lama penyinaran pendek (<12 jam), terjadi pada saat garis edar matahari di belahan bumi selatan (BBS) (Turyanti et al., 2006).

Lama penyinaran dapat diukur dengan alat yang diberi nama Campbell-Stokes.  Prinsip kerja alat tesebut adalah mengukur lama penyinaran berdasarkan kertas grafik khusus yang terbakar akibat fokus penyinaran oleh bola kristal jernih (Turyanti et al., 2006).

c. Hujan

Hujan merupakan satu bentuk presipitasi, atau turunan cairan dari angkasa, seperti salju, hujan es, embun, dan kabut. Hujan terbentuk apabila titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Tidak semua air hujan sampai ke permukaan bumi, sebagian menguap ketika jatuh melalui udara kering, sejenis presipitasi tersebut yang dikenali sebagai virga (Turyanti et al., 2006).

Hujan memainkan peranan penting dalam kitaran hydrologik dimana kelembaban dari laut menguap, bertukar menjadi awan, terkumpul menjadi awan, lalu turun kembali ke bumi, dan akhirnya kembali ke laut melalui sungai dan anak sungai untuk mengulangi daur ulang itu semula (Turyanti et al., 2006).

Jumlah air hujan diukur menggunakan pengukur hujan. Data tersebut dinyatakan sebagai kedalaman air yang terkumpul pada permukaan rata, dan diukur kurang lebih 0,25 mm. Biasanya hujan memiliki kadar asam pH 6. Hujan di bawah pH 5,6, dianggap hujan asam (Turyanti et al., 2006).

d. Angin

Angin  merupakan efek dari gradien tekanan, gaya Coriolis, gaya apung, dan gaya friksi. Ketika perbedaan tekanan terjadi antara dua massa udara yang berdekatan, udara akan bergerak dari daerah dengan tekanan tinggi menuju daerah bertekanan rendah. Akibat rotasi planet, aliran akan dipengaruhi oleh gaya Coriolis, di daerah yang cukup jauh dari equator dan cukup tinggi dari permukaan. Secara luas yang mempengaruhi pergerakan global angin ialah perbedaan kalor antara equator dan kutub (perbedaan penyerapan dari energi matahari antara kedua zona iklim) dan rotasi dari bumi (Turyanti et al., 2006).

Campbell (1986) menyebutkan bahwa ada tiga sifat angin yang dapat dirasakan secara langsung oleh orang awam, yakni: (1) angin mennyebabkan tekanan terhadap permukaan yang menentang arah angin tersebut, (2) angin mempercepat pendinginan dari benda panas; dan (3) kecepatan angin sangat beragam dari tempat ke tempat dari waktu ke waktu.

e. Kelembaban (humidity)

Kelembaban adalah jumlah uap air yang terkandung dalam udara. Istilah kelembaban biasanya digunakan dalam kehidupan sehari-hari berupa kelembaban relatif (Buck, 1970). Menurut Lakitan (1994), data klimatologi untuk kelembaban udara yang umum dilaporkan adalah kelembaban relatif (relative humidity, disingkat RH). Kelembaban relatif adalah perbandingan antara tekanan uap air aktual (yang terukur) dengan tekanan uap air pada kondisi jenuh. Rumus untuk menentukan relative humidity (RH) adalah sbb (Buck, 1970):

Dimana:

ρA : Tekanan uap air aktual;

ρa : Tekanan uap air pada kondisi jenuh.

Selain kelembaban relatif, kelembaban juga ada yang disebut kelembaban absolut. Kelembaban absolut dianalogikan jika semua air dalam satu m3 dikondensasikan ke dalam suatu wadah, wadah tersebut dapat menjadi timbangan kelembaban absolut. Kelembaban absolut memiliki nilai yang berkisar dari 0 gram/m3 saat udara kering hingga 30 gram/m3 saat uap air menjadi jenuh pada suhu 30°C.

Kelembaban relatif sangat penting dalam memperkirakan cuaca. Kelembaban mengindikasikan likelihood dari presipitasi, embun atau kabut (Turyanti et al., 2006).

f. Suhu

Suhu merupakan karakteristik inherent, yang dimiliki oleh suatu benda yang berhubungan dengan panas dan energi. Jika panas dialirkan pada suatu benda, maka suhu benda tersebut akan meningkat; sebaliknya suhu benda akan turun jika benda yang bersangkutan kehilangan panas. Akan tetapi hubungan antara satuan panas (energi) dengan satuan suhu bukan merupakan suatu konstanta, karena besarnya peningkatan suhu akibat penerimaan panas dalam jumlah tertentu akan dipengaruhi oleh daya tampung panas (heat capacity) yang dimiliki oleh benda penerima tersebut (Lakitan, 1994).

Definisi suhu secara objektif adalah ukuran relatif dari kondisi termal yang dimiliki oleh suatu benda. Besarnya suhu diukur dengan menggunakan thermometer. Suhu sendiri memiliki beberapa satuan, seperti Kelvin (°K), Celcius (°C), Fahrenheit (°F), dan Reamur (°R) (Buck, 1970).

Suhu udara akan berfluktuasi dengan nyata selama setiap periode 24 jam. Fluktuasi suhu udara dan suhu tanah berkaitan erat dengan proses pertukaran energi yang berlangsung di atmosfir. Pada siang hari, sebagian dari radiasi matahari akan diserap oleh gas-gas atmosfer dan partikel-partikel padat yang melayang di atmosfer. Serapan energi radiasi matahari ini akan menyebabkan suhu udara meningkat. Suhu udara harian maksimum tercapai beberapa saat seteleh intensitas cahaya maksimum tercapai. Intensitas cahaya maksimum tercapai pada saat berkas caahaya jatuh tegak lurus, yakni pada waktu tengah hari (Lakitan, 1994).

Sebagian radiasi pantulan dari permukaan bumi juga akan diserap oleh gas-gas dan partikel-partikel atmosfer tersebut. Karena kerapatan udara dekat permukaan lebih tinggi dan lebih berkesempatan untuk menyerap radiasi pantulan dari permukaan bumi, maka pada siang hari suhu udara dekat permukaan akan lebih tinggi dibandingkan pada lapisan udara yang lebih tinggi; sebaliknya pada malam hari, terutama pada saat menjelang subuh, suhu udara dekat permukaan menjadi lebih rendah dibandingkan dengan suhu pada lapisan udara yang lebih tinggi (Lakitan, 1994).





Serat Sintetis

4 01 2010

. Polyester (PES)

Serat PES dikembangkan pada tahun 1940 – 1941 oleh J. R. Whinield dan J. T. Dickson dari Inggris. Polyester dihasilkan dari Polikondensasi terephatic acid dan alcohol ethyleneglycol. Hasil dari senyawa kimia dari asam dan alkohol disebut ester sehingga istilah untuk serabut yang dihasilkan menjadi polyester. Pada mulanya serat ini mempunyai nama perdagangan Terylene (Klust, 1983a).

c. Polyethylene (PE)

Serat PE dikembangkan oleh Ziegler (Jerman) pada permulaan tahun 1950. Sebelum tahun 1950 teknik polimerisasi (UK) memerlukan tekanan tinggi sebesar 1.000 atm atau lebih. Setelah 1950 dikembangkan teknik pembuatan PE yang dilakukan dengan tekanan lebih rendah dan dengan katalisator organometal, seperti alumunium alkyl. Serat yang diproduksi dengan teknik ini mempunyai sifat-sifat fisik yang lebih baik. Monomer ethylene sebagai bahan dasar polyethylene secara normal diperoleh dengan petroleum (Klust, 1983a).

Molekul polyethylene dibuat dari proses inisiasi radikal bebas ke bentuk cabang sehingga menjaga molekul yang cocok tetap bersama. Teknik pembuatan PE berkembang dengan penggunaan katalis seperti Cr2O3, dengan begitu dihasilkan molekul PE dengan cabang yang sedikit. Molekul PE dengan rantai lurus yang disatukan akan menghasilkan PE yang transparan, kaku, dan kuat dibandingkan dengan PE dengan densitas rendah (MPC Faculty, 2008). Struktur kimia polyethylene disajikan pada Gambar 4.

Sumber: IDES, 2008 digambar ulang oleh Prasetyo, 2009

Gambar 4 Struktur kimia Polyethylene (PE).

d. Polypropylene (PP)

Dalam pembuatan PP digunakan teknik yang sama dengan pembuatan serat PE. Bedanya adalah jika PE menggunakan monomer ethylene, maka PP menggunakan monomer propylene. Serat PP dikembangkan pada tahun 1954 oleh Natta (Italy). Bahan ini semula dikenal dengan nama perdagangan Meraklon (Klust, 1983a). Struktur kimia polypropylene disajikan pada Gambar 5.

Sumber: ISSS, – digambar ulang oleh Prasetyo, 2009

Gambar 5 Struktur kimia Polypropylene (PP).

Menurut 3D Chem (2007) orientasi relatif dari tiap grup methyl (CH3) relatif terhadap grup methyl pada monomer tetangga. Seperti halnya vinyl polimer lain, PP juga tidak dapat dibuat dengan radikal polimerisasi.

e. Polyvinyl chloride (PVC)

PVC dikembangkan oleh F. Klate dan H. Hubbert (Jerman) dari monomer vinyl chloride. PVC merupakan serat sintesis pertama yang dihasilkan dalam skala industri (1934). Dalam bidang perikanan PVC yang lebih dikenal dengan “Pe Ce” merupakan serat yang pertama kali memperlihatkan sifat yang tahan pembusukan (Klust, 1983a).

3D Chem (2007) menjelaskan bahwa PVC yang diproduksi dengan polimerisasi dari monomer vinyl chloride menggunakan petroleum lebih sedikit. Banyak produk vinyl mengandung zat kimia tambahan yang merubah konsistensi kimiawi produk. Beberapa zat kimia tambahan yang disebut zat aditif dapat meluluhkan produk vinyl. Untuk membuat PVC fleksibel maka ditambahkan zat yang disebut plasticizers. Perkembangan teknologi telah mampu mendaur ulang PVC, proses ini disebut dengan “Vinyloop” yang dikembangkan oleh negara Eropa dan Jepang. Struktur kimia polyvinyl chloride disajikan pada Gambar 6.

Sumber: IDES, 2008 digambar ulang oleh Prasetyo, 2009

Gambar 6 Struktur kimia PVC (Polyvinyl chloride).

f. Polyvinylidene chloride (PVD)

PVD dikembangkan pada tahun 1939 di USA bahan ini dihasilkan dari co-polimerisasi dari campuran vinylidene chloride (sekurang-kurangnya 80%) dan komponen kedua, misalnya vinyl chloride. Dalam komposisi ini PVD dikenal dengan nama Saran. Kelompok lain dari chloro fibre yang diperoleh dengan Co-polimerisasi dikenal dengan nama “Vinyon” (USA) (Klust, 1983a).

g. Polyvinly alkohol (PVA)

PVA merupakan hasil penelitian dari W. O. Hermaun dan W. Haeknel pada tahun 1931. Di Jepang PVA telah berkembang pesat sejak tahun 1938. PVA dikembangkan lagi dengan pemberian tingkat asetilasi yang tinggi agar tidak larut dalam air. Pengembangan PVA tersebut disimbolkan dengan PVAA, contoh produk PVAA adalah Kuralon (Klust, 1983a).

Sumber:

Prasetyo, Andhika P. 2009. Kekuatan Putus (Breaking Strength) Benang  dan  Jaring  PA Multifilamen  pada  Penyimpanan  di Ruang  Terbuka  dan Tertutup. Skripsi [tidak dipublikasikan]. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, FPIK-IPB.

Klust, Gerhard. 1983a. Bahan Jaring untuk Alat Penangkapan Ikan. Edisi ke-2. (Penterjemah Team BPPI Semarang). Terjemahan dari  Netting Materials for Fishing Gear. Semarang: BPPI Semarang. 187 hal.





Serat Alami

4 01 2010

Jika pada Artikel sebelumnya membahas tentang bahan benang dan jaring, maka pada artikel ini dibahas beberapa jenis bahan benang dan jaring dari serat alami, yaitu:

a. Manila

Serat ini berbahan dasar dedaunan dan tangkai daun pohon Pisang. Nama asli untuk manila adalah Abaca, namun lebih dikenal dengan nama manila. Serat manila awalnya berasal dari Manila (ibu kota Philipina) (Klust, 1983b).

Manila terdiri dari bundel panjang atau gabungan serat yang disatukan dengan karet atau lapisan pohon yang mengandung lignin. Sama halnya dengan serat-serat yang lain, manila juga temasuk ke dalam serat teknis. Penomoran manila bervariasi muai dari 15 – 30 tes dengan diameter 0.13 – 0,22 mm (Klust, 1983b).

b. Sisal

Serat sisal diproduksi dari bahan dasar daun dari tanaman Sisal Agave yang banyak tumbuh di Afrika Timur, Amerika tengah dan Selatan, Indonesia, dan Haiti. Nomor benang yang tersedia untuk serat sisal adalah 23 – 45 tex. Dibandingkan dengan Manila serat Sisal lebih unggul dalam hal tensile strength, panjang serat, penomoran, keseragaman, kelenturan, ketahanan terhadap abrasi, dan kemuluran dalam air (Klust, 1983b).

c. Coir

Coir merupakan serat alami yang berbahan serabut kelapa. Coir memiliki panjang 15 – 30 cm . Serat coir memiliki dua warna warna kuning kecokelatan dan merah kecokelatan. Sebagai serat alami coir dapat diandalkan, karena ketahanannya terhadap kelapukan. Ketahanan tersebut merupakan akibat dari kandungan asam silicic dan lignin (Klust, 1983b).

d. Cotton

Cotton merupakan serat alami yang berasal dari tumbuhan. Komposisi cotton didominasi oleh selulosa (substasi karbohidrat tumbuhan) 88 – 96%. Nama cotton diambil dari nama tumbuhan, yaitu tumbuhan cotton. Tumbuhan cotton merupakan tanaman dengan genus Gossypium, yang merupakan famili Malvaceae (UNCTAD, -). Untuk gambar serat cotton di bawah mikroskop dapat dilihat pada Gambar 1.

Sumber: E4S, –

Gambar 1 Serat cotton.

Panjang seratnya bervariasi tergantung pada jenis dan kualitas cotton, panjangnya berkisar 10 – 65 mm. diameter serat 11 – 22 ¼ mm. Cotton mampu menahan beban 25 – 35 cN/tex dengan breaking elongation 7 – 9%. Katun lebih kuat dalam basah (E4S, -).

e. Jute

Jute adalah serat yang didapat dari kulit batang tanaman Corchorus capsularis dan Corchorus olitorius. Tanaman jute yang ditanam untuk diambil seratnya mempunyai batang kecil, tinggi, dan lurus. Tinggi pohon jute antara 1,5 – 4,8 m; diameter batang 1,25 – 2 cm (Soeprijono et al., 1973).

f. Henep

Henep adalah serat yang diperoleh dari batang tanaman Cannabis sativa. Tanaman henep menghasilkan cairan yang mengandung narkotik marijuana, sehingga dibeberapa daerah  penanaman henep dilarang. Kompisisi serat kering henep adalah selulosa ±75%, herniselulosa 17%, pektin 0,9%, lignin 3,6%, zat-zat yang larut dalam air 2,7%, dan lilin 0.8% (Soeprijono et al., 1973).

g. Llama

Serat llama merupakan serat yang diperoleh hewan sejenis unta yang berada di Amerika Selatan. Jenisnya ada beberapa macam, yaitu alpaca, llama, vicuna, guanaco. Kesemuanya hidup pada ketinggian altitude Andes (Binhaitimes, 2005a).

h. Silk

Silk merupakan serat yang berasal dari serangga, yaitu ulat cocoon. Filament tunggal dari cocoon dapat mencapai panjang 1600 m. serat silk termasuk serat hewan karena struktur proteinnya. Serat silk terdiri atas tiga jenis, yaitu luster, drape dan strength. Ketiganya dibedakan atas tahapan dalam proses pembuatannya (Binhaitimes, 2005b).

i. Sutera

Sutera adalah serat yang diperoleh dari sejenis serangga yang disebut Lepidoptra. Serat sutera yang berbentuk filament dihasilkan oleh larva ulat sutera waktu membentuk kepompong. Spesies utama yang dipelihara untuk menghasilkan sutera adalah Bombyx mori (Soeprijono et al., 1973).

j. Wool

Serat wool diperoleh dari bulu domba. Serat wool berbeda dengan serat lain, karena struktur kimianya. Struktur kimia mempengaruhi tekstur, elastisitas, serabut, dan formasi crimp. Serat wool merupakan serat protein, komposisi serat wool adalah lebih dari 20 jenis asam amino. Serat wool juga mengandung sedikit lemak, kalsium, dan sodium (Binhaitimes, 2005c).

Sumber:

Prasetyo, Andhika P. 2009. Kekuatan Putus (Breaking Strength) Benang  dan  Jaring  PA Multifilamen  pada  Penyimpanan  di Ruang  Terbuka  dan Tertutup. Skripsi [tidak dipublikasikan]. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, FPIK-IPB.

Binhaitimes – Natural Fibres. 2005a. Llama. Tersedia[terhubung tidak berkala]. http://www.binhaitimes.com/Llama.html. [25 April 2008]

Binhaitimes – Natural Fibres. 2005b. Silk. [terhubung tidak berkala]. http://www.binhaitimes.com/Silk.html. [25 April 2008]

Binhaitimes – Natural Fibres. 2005c. Wool. [terhubung tidak berkala]. http://www.binhaitimes.com/Wool.html. [25 April 2008]

Klust, Gerhard. 1983b. Fibre Ropes for Fishing – FAO Fishing Manual. Surrey: Adlard & Son Ltd.

Soeprijono, P., . 1973. Serat-serat Tekstil. Bandung; Institut Teknologi Tekstil. 394 hal.

E4S – Environmental Teaching Resources. -. Cotton. [terhubung tidak berkala]. http://www.e4s.org.uk/textilesonline/content/6library/report1/textile_fibres/cotton.htm. [24 Juli 2008]

[UNCTAD] United Nations Conference on Trade and Development. -. Cotton: Description and Technical Features. [terhubung tidak berkala]. http://r0.unctad.org/infocomm/anglais/COTTON/characteristics.htm. [13 Juli 2008]