Komentar: mengenai Re-ekspor kontainer ilegal

6 04 2011

Dikutip dari
Sumber : Koran Tempo 05 April 2011,hal. B1

==============================
JAKARTA – Pemerintah akan mengirim kembali (reekspor) 88 kontainer berisi ikan impor ilegal yang ditahan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Pada tahap pertama, sebanyak 74 kontainer akan dikembalikan ke negara asal dan negara lainnya.

“Sisa kontainer yang masih tertahan akan dilihat dulu dokumen-dokumen penolakannya,” kata Kepala Pusat Komunikasi Badan Karantina Kementerian Kelautan dan Perikanan Hari Ma-ryadi kemarin. Setiap kontainer berisi 25,8-26 ton ikan.

Kasus ini berawal dari ditemukannya sekitar 200 kontainer berisi ikan impor ilegal. Ikan yang diimpor terdiri atas ikan kembung, ikan asin, dan ikan makerel.

Puluhan kontainer ikan ilegal, kata dia, akan dikembalikan ke negara asal impor, seperti Cina, Pakistan, Amerika Serikat, Thailand, dan Myanmar. Dari jumlah ini, 51 kontainer ikan asal Cina seluruhnya dikembalikan ke negara itu. Delapan kontainer ikan asal Pakistan hanya 2 kontainer yang dikembalikan. Sedangkan dari 12 kontainer ikan asal Amerika, sebanyak 5 kontainer dire-ekspor. Adapun 9 kontainer ikan ilegal dari Thailand semuanya dikembalikan dan dari 2 kontainer asal Myanmar hanya satu kontainer yang dikembalikan.

==============================

Jika ditinjau kembali agaknya kebijakan pemerintah untuk me re-ekspor kontainer-kontainer ilegal tersebut kurang tepat. Karena kondisi di lapangan menunjukkan ketersedian bahan baku pengalengan sangat kurang. Sebagai contoh perikanan lemuru di Selat Bali (lokasi perikanan yang khas) hampir setahun sedang panceklik, hal tersebut diduga karena pengaruh periode La-Nina. Dimana diduga kolom renang lemuru berubah. Industri pengalengan sardin disana menjadi bingung mencari bahan baku, dan terpaksa dengan margin keuntungan yang tipis mereka mengimpor ikan dari China walaupun dengan ukuran yang kecil dan kualitas yang lebih rendah serta harga yang mahal dibandingkan dengan harga bahan baku lokal (Hasil Survei IUU Fishing, 2011).
Disisi lain peran pemerintah dalam hal ini sangat kurang, pemerintah tidak memberikan alternatif solusi mengenai hal tersebut. Menurut hemat penulis seharusnya kontainer tersebut dilakukan penyitaan, dan segera dilelang kepada perusahaan Indonesia. Mengingat kulitas ikan akan cepat sekali menurun. Walalupun begitu perlu juga diperhatikan asal dan kondisi (kesehatan dan bebas kontaminan) ikan tersebut. Agar tidak menjadi masalah yakni wabah penyakit ikan dikemudian hari.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: