Konsultasi: Dampak Perubahan Iklim terhadap Perikanan

2 11 2010

Posting berikut merupakan hasil korespondensi dengan Bu Ana Turyati, S.Si, M.T dosen Departemen Meterologi Terapan, Fakultas Matematikan dan IPA, Institut Pertanian Bogor serta beberapa dosen Meteorologi Terapan yakni Pak Ahkmad Faqih, S.Si dan Pak Perdinan, S.Si, M.Sc.

Terima kasih atas perhatian Bapak/Ibu semua atas ilmu yang diberikan.
========================

PENDAHULAN
A. Instability atmosphere
Dalam teori meteorologi ada berbagai metode yang digunakan untuk menentukan ketidakstabilan atmosfer: misalnya:  Convective Available Potential Energy (CAPE). adapun untuk penentuan atmospheric instability index menggunakan K_index, Lifted Index, yang dihitung berdasarkan temperature and wind sheer atmosfer pada level 1000 dan 850/700 mb. Info lengkap tentang CAPE bisa dibaca disini: http://en.wikipedia.org/wiki/Convective_available_potential_energy.

B. Weather extreme
Info lengkap tentang weather extreme bisa dibaca disini: http://www.climate.org/topics/extreme-weather/index.html

Perlu dimengerti sebelumnya mengenai pengertian cuaca buruk dengan weather extreme. Instability atmofer bisa diartikan cuaca buruk, sementara cuaca extreme berkaitan dengan kejadian yang dapat menimbulkan kerusakan. Misal: tornado, angin puting beliung. El Nino dan La Nina  sendiri tidak termasuk weather extreme tapi kejadian yang mempengaruhi climate variability. Akan tetapi suhu sangat panas saat El Nino berakibat drought termasuk Weather Extreme.

Dalam penentuan index weather extreme sendiri saya [Pak Perdiana0, red] belum menemukan. Namun climate variability dapat dideteksi dengan menggunakan Southern Oscillation Index, Pacific Decadal Oscillation, Indian Ocean Dipole dll.

Dalam kejadian extreme juga digunakan skala, misal untuk Tornado: Fujita Tornado Scale. Penggunaannya mirip dengan scala Ricther untuk gempa bumi.   Jadi lebih pada index untuk kejadian untuk observasi/bencana yang ditimbulkan, bukan index untuk mendeteksi kejadian, seperti SOI misalnya untuk El Nino.

=======================================
Adapun pertanyaan yang saya ajukan ialah:
=======================================

1. Apakah ada parameter kuantitatif yang menjelaskan fenomena cuaca buruk seperti nilai SOI?

Sudah saya coba jawab diatas. Hanya yang perlu diperhatikan adalah SOI digunakan untuk melihat indikasi El Nino atau La Nina, bukan cuaca buruk, melainkan climate variability saja. Kejadian yang diakibatkan El Nino dan La Nina seperti temperature sangat extreme dan intensitas hujan extreme yang bisa dikategorikan weather extreme. Saat nilai SOI tinggi tidak serta merta suhu atau intensitas hujan menjadi extreme.

2. Bagaimana penagruh siklok tropis terhadap cuaca di perairan indonesia?

Buku Meteorologi yang diterbitkan ITB sudah membahas ini. Di wikipedia juga ada: http://id.wikipedia.org/wiki/Siklon_tropis. secara ringkas siklon tropis ialah terbentuknya pusat tekanan rendah di daerah tropis, sehingga bisa terjadi badai. Secara meteorologi bila ada pusat tekanan rendah udara menuju kesitu kemudian naik, menjadi awan dan hujan di daerah tersebut. Hanya saja untuk siklon tropis, tekanannya rendah dan permukaannya biasanya non-topography. Sehingga menyebabkan angin yang kencang.

3. Apakan ITCZ mempunyai nilai index kuantitatif?
ITCZ jelas mempengaruhi curah hujan di Indonesia. Selama ini saya belum menemukan index untuk ITCZ. ITCZ merupakan siklus (sitem sirkulasi udara global). Pergantian hujan dan kemarau di Indonesia dipengaruhi oleh ITCZ. Definisi ITCZ ialah “Near the equator, from about 5° north and 5° south, the northeast trade winds and southeast trade winds converge in a low pressure zone known as the Intertropical Convergence Zone or ITCZ”.

4. Saya berminat untuk mengkaji dampak perubahan iklim terhadap perikanan tangkap. Berdasarkan literatur salah satu dampaknya ialah intensitas cuaca buruk yang meningkat.
by: Pak Akhmad Faqih

Kalau dikaitkan dengan perubahan iklim dan cuaca buruk. Sampai saat ini setahu saya model-model iklim belum memiliki resolusi yang cukup mumpuni untuk dapat menangkap kejadian-kejadian extreme. Indikasi adanya kejadian extreme dari luaran model biasanya adalah olahan secara statistik. Misalnya apakah perubahan iklim akan meningkatkan kejadi El Nino? Setahu saya model-model perubahan iklim dengan resolusi 2.5 derajat belum bisa mendeteksi kejadian iklim extreme. Downscaling dengan menggunakan model-model regional sendiri pun masih merupakan pertanyaan besar untuk mendeteksi climate extreme event? Kalau memang berminat bisa melakukan riset dengan menggunakan data sirkulasi udara atas GCMs/RCMs untuk mengkaji atmospheric stability saat kejadian2 extreme dibandingkan dengan data observasi berdasarkan radio sonde misalnya. Ini akan jadi kajian yang menarik. Tapi untuk kearah aplikasi seperti yang dinginkan (perikanan tangkap) masih perlu beberapa tahap lagi, apalagi kalau mau sampai menyusun index.

Kalau menurut saya, jika ingin dikaitkan dengan perikanan tangkap kenapa tidak dikaji ‘El Nino events in Indonesia under current climatic change’, sebab setahu saya saat El Nino, ikan-ikan di perairan Jawa dan Bali akan meningkat sebab mereka berenang menuju daerah upwelling. Pertanyaanya adalah apakah perubahan iklim mempercepat kejadian El Nino di Indonesia. kajian bisa secara statistik atau secara meteorologi (seperti yang saya jelaskan sebelumnya).


Actions

Information

One response

13 05 2011
jhienny farenheit

hmmmmm….. bagusssss…….. semangat bro!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: