Serat Alami

4 01 2010

Jika pada Artikel sebelumnya membahas tentang bahan benang dan jaring, maka pada artikel ini dibahas beberapa jenis bahan benang dan jaring dari serat alami, yaitu:

a. Manila

Serat ini berbahan dasar dedaunan dan tangkai daun pohon Pisang. Nama asli untuk manila adalah Abaca, namun lebih dikenal dengan nama manila. Serat manila awalnya berasal dari Manila (ibu kota Philipina) (Klust, 1983b).

Manila terdiri dari bundel panjang atau gabungan serat yang disatukan dengan karet atau lapisan pohon yang mengandung lignin. Sama halnya dengan serat-serat yang lain, manila juga temasuk ke dalam serat teknis. Penomoran manila bervariasi muai dari 15 – 30 tes dengan diameter 0.13 – 0,22 mm (Klust, 1983b).

b. Sisal

Serat sisal diproduksi dari bahan dasar daun dari tanaman Sisal Agave yang banyak tumbuh di Afrika Timur, Amerika tengah dan Selatan, Indonesia, dan Haiti. Nomor benang yang tersedia untuk serat sisal adalah 23 – 45 tex. Dibandingkan dengan Manila serat Sisal lebih unggul dalam hal tensile strength, panjang serat, penomoran, keseragaman, kelenturan, ketahanan terhadap abrasi, dan kemuluran dalam air (Klust, 1983b).

c. Coir

Coir merupakan serat alami yang berbahan serabut kelapa. Coir memiliki panjang 15 – 30 cm . Serat coir memiliki dua warna warna kuning kecokelatan dan merah kecokelatan. Sebagai serat alami coir dapat diandalkan, karena ketahanannya terhadap kelapukan. Ketahanan tersebut merupakan akibat dari kandungan asam silicic dan lignin (Klust, 1983b).

d. Cotton

Cotton merupakan serat alami yang berasal dari tumbuhan. Komposisi cotton didominasi oleh selulosa (substasi karbohidrat tumbuhan) 88 – 96%. Nama cotton diambil dari nama tumbuhan, yaitu tumbuhan cotton. Tumbuhan cotton merupakan tanaman dengan genus Gossypium, yang merupakan famili Malvaceae (UNCTAD, -). Untuk gambar serat cotton di bawah mikroskop dapat dilihat pada Gambar 1.

Sumber: E4S, –

Gambar 1 Serat cotton.

Panjang seratnya bervariasi tergantung pada jenis dan kualitas cotton, panjangnya berkisar 10 – 65 mm. diameter serat 11 – 22 ¼ mm. Cotton mampu menahan beban 25 – 35 cN/tex dengan breaking elongation 7 – 9%. Katun lebih kuat dalam basah (E4S, -).

e. Jute

Jute adalah serat yang didapat dari kulit batang tanaman Corchorus capsularis dan Corchorus olitorius. Tanaman jute yang ditanam untuk diambil seratnya mempunyai batang kecil, tinggi, dan lurus. Tinggi pohon jute antara 1,5 – 4,8 m; diameter batang 1,25 – 2 cm (Soeprijono et al., 1973).

f. Henep

Henep adalah serat yang diperoleh dari batang tanaman Cannabis sativa. Tanaman henep menghasilkan cairan yang mengandung narkotik marijuana, sehingga dibeberapa daerah  penanaman henep dilarang. Kompisisi serat kering henep adalah selulosa ±75%, herniselulosa 17%, pektin 0,9%, lignin 3,6%, zat-zat yang larut dalam air 2,7%, dan lilin 0.8% (Soeprijono et al., 1973).

g. Llama

Serat llama merupakan serat yang diperoleh hewan sejenis unta yang berada di Amerika Selatan. Jenisnya ada beberapa macam, yaitu alpaca, llama, vicuna, guanaco. Kesemuanya hidup pada ketinggian altitude Andes (Binhaitimes, 2005a).

h. Silk

Silk merupakan serat yang berasal dari serangga, yaitu ulat cocoon. Filament tunggal dari cocoon dapat mencapai panjang 1600 m. serat silk termasuk serat hewan karena struktur proteinnya. Serat silk terdiri atas tiga jenis, yaitu luster, drape dan strength. Ketiganya dibedakan atas tahapan dalam proses pembuatannya (Binhaitimes, 2005b).

i. Sutera

Sutera adalah serat yang diperoleh dari sejenis serangga yang disebut Lepidoptra. Serat sutera yang berbentuk filament dihasilkan oleh larva ulat sutera waktu membentuk kepompong. Spesies utama yang dipelihara untuk menghasilkan sutera adalah Bombyx mori (Soeprijono et al., 1973).

j. Wool

Serat wool diperoleh dari bulu domba. Serat wool berbeda dengan serat lain, karena struktur kimianya. Struktur kimia mempengaruhi tekstur, elastisitas, serabut, dan formasi crimp. Serat wool merupakan serat protein, komposisi serat wool adalah lebih dari 20 jenis asam amino. Serat wool juga mengandung sedikit lemak, kalsium, dan sodium (Binhaitimes, 2005c).

Sumber:

Prasetyo, Andhika P. 2009. Kekuatan Putus (Breaking Strength) Benang  dan  Jaring  PA Multifilamen  pada  Penyimpanan  di Ruang  Terbuka  dan Tertutup. Skripsi [tidak dipublikasikan]. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, FPIK-IPB.

Binhaitimes – Natural Fibres. 2005a. Llama. Tersedia[terhubung tidak berkala]. http://www.binhaitimes.com/Llama.html. [25 April 2008]

Binhaitimes – Natural Fibres. 2005b. Silk. [terhubung tidak berkala]. http://www.binhaitimes.com/Silk.html. [25 April 2008]

Binhaitimes – Natural Fibres. 2005c. Wool. [terhubung tidak berkala]. http://www.binhaitimes.com/Wool.html. [25 April 2008]

Klust, Gerhard. 1983b. Fibre Ropes for Fishing – FAO Fishing Manual. Surrey: Adlard & Son Ltd.

Soeprijono, P., . 1973. Serat-serat Tekstil. Bandung; Institut Teknologi Tekstil. 394 hal.

E4S – Environmental Teaching Resources. -. Cotton. [terhubung tidak berkala]. http://www.e4s.org.uk/textilesonline/content/6library/report1/textile_fibres/cotton.htm. [24 Juli 2008]

[UNCTAD] United Nations Conference on Trade and Development. -. Cotton: Description and Technical Features. [terhubung tidak berkala]. http://r0.unctad.org/infocomm/anglais/COTTON/characteristics.htm. [13 Juli 2008]


Actions

Information

One response

13 03 2012
anyun

aaa ini lengkap banget! makasih infonya kak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: