Faktor yang Mempengaruhi Kekuatan Benang dan Jaring

4 01 2010

2.3.1 Penggunaan dan Penanganan (Handling)

Menurut Klust (1983b), menjelaskan bahwa alat tangkap yang berbahan dasar benang dan jaring seharusnya terhindar dari penyinaran oleh matahari atau kontak dengan permukaan yang panas secara berlebihan. Batas teratas suhu yang mampu ditolerir oleh serat sintesis adalah 70°C. Selain radiasi matahari, radiasi ultraviolet (UV) juga dapat menyebabkan kerusakan pada alat tangkap. Sehingga untuk mengurangi kerusakan akibat radiasi matahari sebaiknya alat tangkap tersebut dalam kondisi terlindung dari sinar matahari langsung saat penyimpanan (Saravanan, 2007). Kebiasaan nelayan juga berperan penting terhadap kerusakan benang dan jaring. Sebagai contoh  penanganan yang tepat dan penyimpanan pada ruang terlindung sangat baik untuk mengurangi efek kerusakan serat sintetis akibat pengaruh langsung dari radiasi matahari (Warenzeichenverband, 1959 vide Al-Oufi et al., 2004)

Rahardjo (1978) vide Robinson (1982) menjelaskan bahwa alat tangkap yang terbuat dari jaring ketika dioperasikan akan memperoleh gaya-gaya yang dari luar (eksternal force) dan gaya yang berasal dari alat tangkap (internal force). Gaya luar timbul akibat dari pengaruh gelombang, arus, water resistance dan gesekan dengan dasar perairan. Adapun internal force dalam disebabkan oleh berat jaring itu sendiri beserta komponennya. Fridman (1988) menegaskan  bahwa dalam pembuatan alat tangkap yang menggunakan jaring haruslah memperhatikan spesifikasi jaring, seperti ukuran mata, kontruksi benang, dan jenis serat harus dipilih berdasarkan kondisi daerah penangkapan  ikan (DPI) dan jenis ikan yang menjadi target tangkapan (target species).

Untuk menghindari terbelitnya tali, benang, dan jaring, maka perlu penanganan yang baik saat merapihkan, perhatian arah gulungan dan arah pintalan. Arah pintalan yang dimaksud adalah arah pintalan Z atau S (Klust, 1983b).

2.3.2 Air

Serat alami menyerap air sehingga meningkatkan ukuran diameter dan panjang serat. Tali serat alami menjadi kaku, lebih berat serat lebih sulit untuk ditangani. Selama perendaman dalam waktu yang lama serat alami tersebut akan mengalami pembusukan, berkurangannya kekuatan putus dan berkurangnya ketahanan gesekan. Akibatnya serat tersebut akan cepat rusak. Pembusukan serat alami akan mengakibatkan serat tersebut lapuk, apek, dan rapuh. Sedangkan untuk tali yang terbuat dari serat sintesis tidak terpengaruh oleh air, kecuali tali PA yang mungkin mengalami sedikit penurunan breaking strength dan pengerutan jika tidak dikeringkan (Klust, 1983b).

2.3.3 Cahaya, Suhu dan Zat Kimia

Pencahayaan sinar matahari memberikan pengaruh terbesar terhadap pengurangan kekuatan putus (breaking strength) suatu benang dan jaring hingga akhirnya benang dan jaring tersebut rusak. Benang dan jaring seharusnya terlindung dari radiasi matahari ketika digunakan dalam operasi penangkapan atau ketika sedang tidak digunakan. Hal ini penting apalagi alat tersebut dioperasikan di daerah beriklim tropis, dimana radiasi matahari sangat tinggi. Perlindungan dengan pemberian warna (disarankan hitam) atau dengan mengaplikasikan penstabil cahaya (dalam kegiatan manufaktur). Kerusakan juga dapat dikurangi dengan memilih jenis benang dan jaring yang sensitifitasnya kurang (Klust, 1983b).

Penyinaran oleh matahari atau kontak dengan permukaan yang panas secara berlebihan seharusnya dihindari. Batas teratas suhu yang mampu ditolerir oleh PE adalah 40 – 50°C dan 70°C untuk serat lainnya (Klust, 1983b).

Serat alami lebih riskan terhadap zat kimia dibandingkan dengan serat sintesis. Serat alami sangat sensitif terhadap asam. Serat sintesis juga mengalami kerusakan jika terkena zat kimia tertentu (Klust, 1983b).

2.3.4 Fouling

Fouling adalah penutupan oleh organisme hidup, baik hewan maupun tumbuhan pada alat tangkap, kapal, dan bangunan air. Contoh organisme penyebab fouling adalah alga hijau (Chlorophyceae), diatoms (Diatomeae), hydroid polyps (Hydroidea), anemon laut (Actiniaria), polychaetes (Serpulidae), barnacles (Cirripedia), bryozoans (bryozoa), amphipods (Amphipoda), dll. Di seluruh dunia terdapat lebih dari 130 spesies baik tumbuhan maupun hewan air yang dapat menyebabkan fouling. Fouling dapat terjadi karena perubahan kondisi lingkungan perairan tersebut, seperti perubahan kadar nutrisi, dan DO (Disolve Oxygen) perairan tersebut. Dengan adanya fouling maka alat tangkap akan menjadi bertambah beratnya akibat penumpukan organisme pada alat tangkap. Beberapa organisme penyebab fouling menyebabkan kerusakan mekanik dan sulit untuk dibersihkan. Untuk mengurangi fouling maka saat ini digunakan zat kimia untuk mengurangi organisme yang dilapisi pada alat kapal  atau bangunan air, zat kimia tersebut dikenal dengan sebutan anti-fouling (Klust, 1983b).

2.3.5 Ketegangan Berlebih (Overstressing)

Ketegangan berlebih merupakan akibat dari kelebihan muatan, muatan kaget serta pemuatan berlebih yang sering. Akibatnya benang dan jaring akan mengalami kemuluran permanen (permanent elongation), dengan kata lain benang dan jaring tidak mampu untuk kembali ke bentuk dan ukurannya semula. Untuk itu perlu pengujian kapasitas maksimum muatan yang dapat ditahan oleh benang dan jaring, sehingga benang dan jaring tidak mengalami ketegangan berlebih. Kemuluran permanen dapat mengindikasikan keliatan (toughness) suatu benang dan jaring (Klust, 1983b).

2.3.6 Pembelitan (Kinking)

Pada tali-tali utama, resiko terbelit merupakan penyebab kerusakan yang umum terjadi. Pengaruh utama dari terbelitnya benang dan jaring adalah perubahan struktur yang permanen. Saat digunakan benang dan jaring yang terbelit akan mengakibatkan terjadinya tegangan yang berlebih dibandingkan dalam kondisi normal, kondisi ini memungkinkan benang dan jaring terputus. Akibat perubahan struktur maka bagian yang terbelit akan mempunyai ketahanan terhadap gesekan yang rendah. Akhirnya kekuatan putus akan mengalami penurunan. Selain itu tali yang terbelit akan sulit untuk digulung. Penanganan yang dilakukan untuk menghindari terbelitnya tali dan benang dan jaring adalah penanganan yang baik saat merapihkan, perhatian arah gulungan, dan arah pintalan (Z atau S) (Klust, 1983b).

2.3.7 Gesekan (Abrasion)

Gesekan merupakan penyebab lain yang umum terjadi pada benang dan jaring. Gesekan menyebabkan kerusakan pada benang dan jaring. Gesekan pada alat tangkap terjadi umumnya pada alat tangkap yang dioperasikan di dasar perairan atau di karang. Akibat gesekan tersebut, maka benang dan jaring akan terkikis hingga akhirnya breaking strength benang dan jaring tersebut mengalami penurunan (Klust, 1983b).

2.3.8 Umur (Ageing)

Benang dan jaring tidak akan rusak bila digunakan dan disimpan dengan baik, kualitasnya akan tetap terjaga untuk jangka waktu tertentu. Seperti material lain, material serat akan berubah yang berimplikasi terhadap sifat fisik benang dan jaring. Jika dianalogikan proses ini bisa disebut sebagai penuaan (ageing) (Klust, 1983b). Perubahan akibat umur yang terjadi bisa sangat kompleks, seperti perubahan  struktur molekul dari material serat, yang bergantung pada waktu, dan kondisi lingkungan (Klust, 1983b).

Sumber:

Prasetyo, Andhika P. 2009. Kekuatan Putus (Breaking Strength) Benang  dan  Jaring  PA Multifilamen  pada  Penyimpanan  di Ruang  Terbuka  dan Tertutup. Skripsi [tidak dipublikasikan]. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, FPIK-IPB.

Klust, Gerhard. 1983a. Bahan Jaring untuk Alat Penangkapan Ikan. Edisi ke-2. (Penterjemah Team BPPI Semarang). Terjemahan dari  Netting Materials for Fishing Gear. Semarang: BPPI Semarang. 187 hal.

___________. 1983b. Fibre Ropes for Fishing – FAO Fishing Manual. Surrey: Adlard & Son Ltd.

Fridman, A. L. 1988. Calculation for Fishing Gear Design. Cambridge: Fishing News Books Ltd. 237 pp.

Robinson, S. 1982. Pengaruh Tipe Simpul (knot) Nylon Multifilamen terhadap Nilai Knot Strength [Karya ilmiah]. Bogor: Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor. 42 hal.

Saravanan, D. 2007. UV Protection Textile Materials. AUTEX Volume 7/Number 1: pp 53-62. [terhubung tidak berkala]. http://www.autexrj.org. [20 Maret 2009]

Al-Oufi, H., McLean, E., Kumar, A.S., Claereboundt, M. Al-Habsi, M. 2004. The Effects of Solar Radiation Upon Breaking Strength and Elongation of Fishing Nets. Fiheries Research Volume 66: pp 115-119. [terhubung tidak berkala]. http://elsevier.com/locate/fishres. [15 Maret 2009]


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: