Salinitas (Salinity)

28 12 2009

Salinitas didefinisikan sebagai jumlah garam dalam gram yang terkandung dalam satu kilogram air laut dimana iodin dan bromin digantikan nilainya oleh klorin, semua karbonat diubah menjadi oksida dan semua bahan organik teroksidasi dengan sempurna (Pickard, 1983). Salinitas akan mempengaruhi densitas, kelarutan gas, tekanan osmotik dan ionik air. Semakin tinggi salinitas, maka tekanan osmotik air akan semakin tinggi pula. Salinitas merupakan parameter kimia yang penting di laut dan menjadi faktor pembatas karena hampir semua organisme di laut hanya dapat hidup pada daerah yang perubahan salinitasnya sangat kecil, walaupun ada organisme laut yang mampu bertolerasi terhadap perubahan salinitas yang tinggi.

Salinitas di perairan samudera berkisar antara 34o/oo sampai 35 o/oo (Nontji,1987). Di perairan Indonesia yang termasuk iklim tropis, salinitas meningkat dari arah barat ke timur dengan kisaran antara 30-35 o/oo. Air samudera yang memiliki salinitas lebih dari 34 o/oo ditemukan di Laut Banda dan Laut Arafuru yang diduga berasal dari Samudera Pasifik (Wyrtki,1961).

Pola distribusi vertikal menurut Ross (1970) dalam Rosmawati (2004), sebaran menegak salinitas dibagi menjadi 3 lapisan yaitu lapisan tercampur dengan ketebalan antara 50-100 m dimana salinitas hampir homogen , lapisan haloklin yaitu lapisan dengan perubahan sangat besar   dengan bertambahnya kedalaman 600-1000 m dimana lapisan tersebut dengan tegas memberikan nilai salinitas minimum. Adapun sebaran horizontal salinitas di lautan diketahui bahwa semakin ke arah lintang tinggi maka salinitas akan semakin tinggi. Dengan kata lain salinitas lautan tropis lebih rendah dibanding dengan salinitas di lautan subtropis. Dalam pola distribusi secara horizontal, daerah yang memiliki salinitas tertinggi berada pada daerah lintang 30oLU dan 30oLS, kemudian menurun ke arah lintang tinggi dan daerah khatulistiwa.  hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Presipitasi di daerah tropis jauh lebih tinggi, sehingga terjadi pengenceran oleh air hujan.
2. Semakin bertambahnya lintang, maka suhu akan semakin turun akibat perbedaan penyinaran sinar matahari. Ketika terjadi pendinginan hingga membentuk es, maka serta merta es itu akan melepaskan partikel garam (es akan tetap tawar). Sehingga akumulasi senyawa garam akan banyak terbentuk di lintang tinggi.
Selain perbedaan lintang, salinitas suatu wilayah perairan bergantung pada topografi daerah tersebut. Hal tersebut terkait dengan ada tidaknya limpasan air tawar yang berasal dari sungai menuju muara. Akibatnya adanya limpasan (run off) maka akan terjadi pengadukan yang berdampak pada pengenceran

Sebaran salinitas dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan (evaporasi), curah hujan (presipitasi) dan aliran sungai (run off) yang ada di sekitarnya (Nontji, 1987). Salinitas di perairan samudera dapat berubah menjadi rendah dari kisaran jika ada masukan air tawar yang cukup banyak dari sungai–sungai yang besar atau bahkan dapat mencapai nilai yang lebih tinggi bila tidak ada masukan air tawar dari daratan dan penguapan di permukaan sangat tinggi (King, 1963). Perubahan salinitas di perairan bebas ( laut lepas) relatif kecil dibandingkan perairan pantai yang memiliki masukan  massa air tawar dari sungai (Laevastu and Hayes, 1981 dalam Harjoko, 1995).

Sumber:

Harjoko, Benny Baruna. 1995. perbedaan Tingkat Konsentrasi Oksigen Terlarut Terhadap Perkembangan Stadium Zoea 1 sampai Postilarva 5 udang windu (Panaesus monodon fabricus). Skripsi. Bogor: Program Studi Budidaya perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

King, C.A.M.1963. Introduction to Coastal Oceanography. McGraw Hill. New York

Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta.

Pickard, G.L. 1983. Descriptive Physical Oceanography, An Introduction. Pergamon Press. Oxford. 200 p.

Rosmawati. 2004. Kondisi Oseanografi  Perairan Selat Tiworo Pada Bulan Juli – Agustus 2002. Skripsi. Program Studi Ilmu Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Wyrtki, K. 1961. Physical Oceanography of The Southest Asian Water. NAGA report. Volume 2. The University of California. La Jolla, California.


Actions

Information

4 responses

30 03 2010
hanggar

yoho.. andika.. makasih ya infonya

6 04 2010
andhikaprima

OK gar….
Sama2.
Sukses ya skripsinya…

22 04 2010
hanggar

siiip

20 03 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: