Nelayan Tegal Mulai Terjerat Rentenir

15 09 2009

TEGAL

Ratusan nelayan tradisional di Kelurahan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal mulai mengalami paceklik, akibat menurunnya hasil tangkapan yang mereka peroleh. Bahkan, sejumlah nelayan terpaksa meminjam ke rentenir, untuk menyambung hidup.

Warsono (35), nelayan pencari teri di Kelurahan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, Jumat (12/9) mengatakan, hasil tangkapan turun sejak sepekan lalu. Hal itu akibat munculnya ombak dan angin besar. “Ombak tinggi, mencapai dua meter. Angin juga kencang, sehingga jaring sulit ditarik,” ujarnya.

Ia mencari teri dengan menggunakan perahu tradisional, mulai pukul 06.00 hingga 12.00, dengan jarak tempuh dua kilometer. Satu perahu berisi sekitar 15 hingga 20 anak buah kapal (ABK).

.

Sebelumnya, hasil tangkapan teri bisa mencapai satu ton sekali melaut. Namun saat ini hanya sekitar 70 hingga 100 kilogram sekali melaut. Bahkan menurut dia, hasil tangkapan teri yang diperolehnya hari itu kurang dari 50 kilogram.

Warsono mengatakan, akibat sedikitnya hasil tangkapan, harga teri naik dari Rp 4.000 menjadi Rp 6.500 per kilogram. Meskipun demikian, kenaikan harga tersebut tetap tidak menguntungkan bagi nelayan.

Pasalnya sekali melaut, biaya perbekalan mencapai Rp 250.000. Setelah dikurangi biaya perbekalan, hasil penjualan teri harus dibagikan kepada pemilik kapal dan ABK. “Kalau hasilnya sedikit, ABK cuma gigit jari, ndak dapat apa-apa,” katanya.

Rusban (40), nelayan lainnya mengatakan, selain teri, tangkapan ikan, udang, dan rajungan juga menurun. Sebelumnya, ia bisa mendapatkan 30 kilogram udang sekali melaut, namun saat ini hanya sekitar lima kiogram. “Sekarang semua sedang sepi,” ujarnya.

Padahal saat ini, kebutuhan nelayan meningkat, karena mendekati lebaran. Mereka harus membelikan pakaian untuk anak-anak, serta menyediakan keperluan lebaran lainnya.

Menjelang lebaran ini, nelayan mulai paceklik, kata Alek (35), nelayan teri lainnya. Akibatnya, banyak nelayan yang terpaksa me ncari pinjaman ke rentenir, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Para rentenir tersebut berkeliling dari satu rumah nelayan ke nelayan lain.

Selain harus membayar bunga, nelayan juga terkena potongan pinjaman. Sebagai contoh, setiap meminjam Rp 100.000, nelayan hanya menerima Rp 90.000. Dalam waktu satu bulan, uang harus kembali sebesar Rp 120.000. “Hari ini pinjam, besok sudah mulai ditagih. Mencicilnya tergantung kesepakatan,” katanya.

Meskipun memberatkan, nelayan tidak memiliki pilihan lain. Selama ini, mereka mengaku sulit mendapatkan pinjaman dari lembaga keuangan, seperti bank karena tidak memiliki agunan.

Ketua Badan Pengawas KUD Karya Mina Kota Tegal, Tambari Gustam mengatakan, untuk membantu nelayan pada saat paceklik, koperasi menyalurkan bantuan beras. Bantuan diberikan sejak awal bulan puasa lalu, untuk semua anggota dan janda jompo.

Besarnya beras yang dibagikan sekitar 120 ton. Masing-masing nelayan mendapatkan sekitar 10 kilogram


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: