About Tuna

15 09 2009

Tidak ada ikan yang lebih mengagumkan di samudra-samudra dunia daripada para tuna sirip biru besar, yang dapat tumbuh hingga sepanjang 3,65 meter, berbobot 680 kilogram, dan hidup selama 30 tahun.

Meski ukurannya tambun ia merupakan ciptaan hidrodinamik yang luar biasa, mampu berenang dengan kecepatan 40 kilometer per jam dan menyelam hingga kedalaman kurang lebih 1 kilometer. Tidak seperti ikan-ikan lain pada umumnya, ia memiliki sistem peredaran darah yang hangat yang membuatnya mampu melanglang hingga ke wilayah Arktika hingga ke daerah tropis.

Sang raksasa, atau sirip biru Atlantik, memiliki kelebihan lainya, sesuatu yang membuat jumlahnya kini berkurang: daging perutnya yang nikmat, dan berlapis lemak, diperhitungkan sebagai sushi terbaik di dunia. Dalam dasawarsa terakhir, sebuah armada canggih, sering kali dipandu oleh pesawat-pesawat pengintai, telah mengikuti si sirip biru besar dai ujung Mediterania hingga ke ujung lainya, setiap tahunnya menjaring puluhan ribu ikan, kebanyakan secara ilegal. Para sirip biu digemukkan di lepas pantai dalam kerangkeng-kerangkeng bawah air sebelum ditembak dan dipotong-potong untuk pasar sushi dan steik di Jepang, Amerika dan Eropa. Begitu banyak sirip biru yang telah ditangkap dari laut Mediterania sehingga populasinya hampir terancam punah.

”ketakutan besar saya adalah kemungkinan bahwa kini sudah terlambat,” kata Sergi Tudela, seorang ahli biologi kelautan asal Spanyol yang bekerja dengan World Wildlife Fund, yang memimpin perjuangan untuk mengontrol penagkapan sirip biru. ”saya memiliki gambaran yang sangat nyata alam pikiran saya. Gambaran tersebut merupakan migrasi besar-besarn para banteng di Amerika bagian barat pada awal abad ke-19. hal tersebut sama dengan tuna sirip biru di Mediterania, sebuah migrasi hewan dalam jumlah yang besar. Kita sedang menyaksikan ini, sekarang di depan mata kita.”

Berkurangnya jumlah sirip biru merupakan cerminan atas beragam masalah yang terjadi pada dunia perikanan global saat ini; meningkatnya daya bunuh teknologi penangkapan ikan, jaring tersembunyi yang terdiri dari perusahaan-perusahaan internasional yang mengeruk keuntungan dari bisnis tersebut, tidak efektifnya pengaturan dan penegakkan hukum dari aparat berwenang, dan konsumen yang tidak memperdulikan nasib ikan yang mereka pilih untuk dibeli.

Samudra dunia kini telah kekurangan keanekaragaman hayatinya. Ahli-ahli biologi kelautan berbeda pendapat mengenai jumlah penuruann tersebut, beberapa berpendapat bahwa ikan-ikan besar lautan telah menurun 80 hingga 90 persen, sementara yang lain mengatakan penurunan tidak sebanyak itu. Namun mereka semua berpendapat bahwa, di sebagian besar tempat, terlalu banyak perahu mengejar terlalu sedikit ikan.

Spesies-spesies terkenal seperti ikan cod telah berkurang dari Laut Utara hingga Georges Bank di New England. Di Laut Mediterania, 12 spesies ikan hiu telah punah akibat komersialisasi, dan ikan pedang disana, yang seharusnya tumbuh hingga setebal tiang telepon, ditangkap ketika anak-anak, dan dimakan  sat ukurannya baru mencapai sebuah pemukul bisbol. Dengan perairan di belahan Bumi bagian utara yang telah habis ditangkapi, penangkap ikan komersial telah telah beralih ke selatan, membuat daerah pemancingan yang dulunya sudah ramai menjadi semakin padat. Di lepas pantai Afrika Barat, penagkap-penangkap ikan yang kurang terkontrol, baik lokal maupun asing menghabiskan ikan dari perairan produktif di lempeng benua, menguraingi nelayan Senegal, Ghana, Guinea, Angola, dan negara-negara lainnya dari sumber utaam protein keluarga masing-masing. Di Asia, begitu banyak perahu telah memancing di perairan Teluk Thailand dan Laut Jawa hingga persedian ikan mendekati penghabisan. ” Lautan menderita akibat banyak hal, namun penangkapan ikan yang membabi-buta adalah ancaman utamanya,” kaya Joshua S. Reichert dari Pew Charitable Trust.

”Kejam” mungkin tuduhan yang terlalu keras terhadap profesi memancing dan tentunya tidak berlaku lagi bagi semua orang yang menajalankannya namun bagaimana lagi cara menggambarkan para penangkapikan hiu, yang membunuh sepuluh jutaan hiu setiap tahunnya, sebagian besar dipotong hidup-hidup untuk diambil siripnya untuk sup sirip ikan hiu dan dibiarkan tenggelam ke dasar laut utuk mati? Atau memancing dengan rawai, yang berkilo-kilometer umpan kailnya menarik perhatian-dan menenggelamkan-makhluk seperti kura-kura loggerhead dan elang laut yang mengembara?

Apakah kita akan mengamini kehilangan tersebut karena ikan hidup di dunia yang tidak dapat kita lihat? Apabila sang sirip biru besar hidup di darat, ukurannya, kecepatannya dan migrasinya yang besar-besaran akan memastikan namanya melegenda, dengan pengunjung yang berduyun-duyun datang untuk mengambil gambarnya di taman-taman nasional. Tetapi karena ia hidup dilaut, keagunganya-yang sebanding dengan seekor singa-berada jauh dari pemahaman kita.

Salah satu Ironi-dan tragedi dari perburuan sirip biru Mediterania adalah kegiatan prokreasi para ikan yang membuat mereka berada alam gengaman armada para pemancing. Di musim semi dan musim panas, ketika air menghangat, kawanan sirip biru naik ke permukaan untuk bertelur. Melintasi lautan, mengambang pada sisi tubuhnya dan menampakkan perut keperakkannya yang lebar, betina-betina besar masing-masing mengeluarkan puluhan juta telur, dan para jantan menyemprotkan sperma yang tampak seperti awan. Dari udara, di hari tenang, kesibukkan reproduksi tersebut-kilauan ikan-ikan, riak-riak air laut, tumpahan telur dan sperma-dapat dilihat oleh pesawat-pesawat pengintai berkilo-kilometer jauhnya, yang memanggil para penangkap ikan.

Suatu pagi yang hangat di bulan Juli, di tengah peraitan biru yang transparan, sebelah barat pulau Spanyol bernama Ibiza, enam perahu purse-seine (Pukat cincin) dari tiga perusahaan bersaing berlayar mencari tuna sirip biru besar. Perahu-perahu pukat cincin itu dipimpin oleh tiga pesawat pengintai yang membelah langit layaknya burung pemangsa. Di tengah aksi tersebut Txema Galaz Ugalde, seorang biologi kelautan Basque, penyelam, dan penagkap ikan yang membantu menjalankan Ecolofish, satu dari 69 peternakan tuna, atau operasi penggemukan, yang telah muncul sepanjang laut Mediterania. Sebuah perusahaan kecil Ecolofish memiliki lima pukat cincin, saingan besar utamanya hari itu adalah perusahaan besar penagkap tuna di Mediterania, Francisco Fuentes dari Ricardo Fuentes & sons, yang operasi skala industrinya telah mengurangi jumlah sirip biru besar.

Saya bersama Galaz di aats La Viveta Segunda-sebuah perahu pendukung sepanjang 22 meter yang merupakan bagian dari pasukan penangkap ikan yang terdiri atas perahu penyelam dan perahu penderek kerangkeng-kerangkeng yang mengikuti para pukat cincin. Sekitar pukul 11 siang, pesawat-pesawat pengintai mengindentifikasi sekawanan ikan, membuat para pukat cincin melaju dengan kecepatan 36 km/jam. Tangkapan yang dipertaruhkan cukup tinggi. Bahkan kawanan kecil sebanyak 200 sirip biru dapat, bila digemukkan, mngeruk lebih dari setengah juta dollar dipasar jepang. Galaz mengintip melalui teropongnya ketika sebuah pukat Ecolofish mencapai kawanan tersebut terlebih dahulu, dan mulai mengitarinya dengan jaring sepanjang 1,6 kilometer.

”ia, memancing!” teriak Galaz. ”ia memperbaiki jaring!”. kemenangan tersebut bukan kemenangan tunggal. Sebelum perahu Ecolofish dapat menyelesaikan lingkarannya, sebuah pukat Fuentes melaju ke depan dan berhenti tidak jauh dari jaring yang terbuka. Didalam sebuah peraturan yang berlaku dalam penangkapan sirip biru Mediterania yang bebas untuk siapa pun ini, pendekatan simbolis tersebut memperbolehkan perahu yang  bersaing untuk membagi hasil tagkapannnya separuh separuh.

Dalam beberapa jam berikutnya, Galaz dan penyelam-penyelamnya memindahkan ikan-ikan tersbut-163 sirip biru, rata-rata berbobot 136 kilogram-dari jaring pukat cincin ke dalam kerangkeng bawah air, sebuah penampungan berdiameter 48 meter, dengan rangka plastik yang kuat yan menopang sebuah jaring berat ketika kerangkeng, yang sudah penuh diisi ribuan sirip biru yang tertangkap dalam beberapa hari sebelumnya, disejajarkan dangan jaring pukat cincin, Galaz mengundangku masuk kedalam air.

Berenang bersama tuna terasa memukai namun meresahkan. Sirip biru besar, seperti yang dikatakan Galaz, ”seperti misil, siap untuk kecepatan dan kekuatan.” punggung mereka berwarna abu-abu kapal perang dihiasi barisan gerigi kecil berupa sirip berwarna kuning. Sisi tubuh mereka terlihat bagaikan krom dan baja yang telah ditempa: beberapa diantaranya memiliki garis biru terang. Ikan-ikan yang lebih besar, berbobot lebih dari 226 kilogram, panjangnya kurang lebih 2,5 meter.

Setelah melepas ikatan pada pintu masuk kerangkeng jaring raksasa, Galaz dan penyelam-penyelamnya mulai menggiring ikan. Lepas satu per satu dari jalur spiral yang dijalaninya, para sirip biru meluncur masuk kedalam kerangkeng layaknya topedo.

Hasil tangkapan Ecolofish merupakan bagian dari 32.000 ton tangkapan legal tahunan di Laut Mediterania dan timur Atlantik. Namun jumlah sesungguhnya, lebih mendekati jumlah 50.000 dan 60.000 ton. Kelompok yang diberi wewenang untuk mengatur jumlah pennagkapan sirip biru, International Commission dor Conservation of Atlantik Tuna-(ICCAT). Mengetahui armada-armada penangkapan ikan secara terang-terangan telah menyalahi kuota yang ditetapkan. Para ilmuan memperkirakan apabila penangkapan ikan berlanjut dengan laju yang terjadi saat ini, persediaan ikan pada suatu saat pasti akan habis. Namun, terlepas dari peringatan keras dari para biolog, ICCAT-yang beranggotakan 43 negara- menolak untuk mengurangi kuotanya secara signifikan November lalu, dengan keberatan dari perwakilan AS, Kanada, dan segelintir negara lainnya. Karena sirip biru terkadang bermigrasi menyebarangi lautan Atlantik, ilmuan-ilmuan Amarika dan nelayan yang mematuhi kuota kecil di lepas pantai masing-masing, telah lama meminta dilakukannya pengurangan kuota penangkapan di Mediterania.

Kisah mengenai tuna sirip biru yang besar dimulai dalam jumlahnya yang berlebih, membelah selat-selat Gibraltar setiap musim semi, menyebar keseluruh penjuru Laut Mediterania untuk bertelut. Selama satu abad, para nelayan mengembangkan cara untuk memperpanjang jaring-jaring dari tepi pantai untuk mencegat ikan-ikan tersebut dan mengarahkan mereka ke tempat-tempayt yang besar, di mana mereka dibantai,. Menjelang pertengahan 1800-an, seratus penangkap tuna- yang dikenal sebagai tonnara di Italia dan almandraba di Spanyol- memanen hingga 15.000 ton sirip biru tiap tahunnya. Penangkapan ikan tersebut berjalan berkelanjutan, memberi penghidupan bagi ribuan pekerja dan keluarga masing-masing.

Kini, hampir semua usaha penangkapan ikan telah ditutup. Hanya sekiarselusin yang masih bertahan. Penutupan bukan hanya disebabkan oleh berkurangnya jumlah ikan, namun juga pembangunan di sepanjang pantai dan pencemaran.

Kesulitan besar yang dialami sirip biru Atlantik dimulai pada pertengan 1900-an. Saat itu, jumlah tuna sirip biru selatan-yang, bersama dengan sirip biru pasifik dan sirip biru Stlantik, menjadi tiga spesies sirip biru dunia, yang semuanya dihargai sebagai bahan baku sushi- telah ditangkapi hingga tersisa antara 6 sampai 12 persen dari jumlahnya semula di Lautan Pasifk selatan dan Samudra Hindia. Ketika orang-orang jepang mencari sumber-sumber baru, mereka beralih ke Mediterania, di mana persediaan sirip biru masih cukup besar.

Pada tahun 1996, orang-orang Kroasia yang telah mengembangkan teknik penggemukkan sirip biru  selatan di Australia mendirikan peternakan tuna  Mediterania yang pertama, di Laut Adriatik Prosesnya cukup sederhana, sirip biru yang baru ditangkap, dipindahkan ke kerangkeng lepas pantai, di mana- selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun- mreka diberi makan ikan-ikan berminyak seprti anchovie atau sarden untuk membuat daging mereka memiliki kandungan lemak tinggi yang sangat dihargai di jepang.

Gencarnya produksi sirip biru Mediterania yang berlemak-dengan keuntungan tinggi-menimbulkan serentetan kejaian yang terbukti penuh bencana. Armada penagkapan ikan di Mediterania telah menambah kemampuan tangkapnya hingga tiga kali lipat, dengan armada penangkapan sirip biru bejmlah total 1.700 kapal, termasuk 314 pukat cincin. Dengan memperbesar masalah yang sudah ada, kemunculan peternakan tuna membuat Uni Eropa dan pemerintahan negara-negara lain sulit untuk menetapkan kuota. Sirip biru yang dijaring di laut, dipindahkan ke dalam kerangkeng di laut, digemukkan di lepas pantai, dibunuh di lepas pantai, dan dibekukkan di atas kapal-kapal Jepang.

Berkembangnya peternakan tuna berarti sirip biru sedang dihapus dari semua tahapan hidupnya. Di Kroasia, contohnya, industri tersebut hampir seluruhnya berpusat pada kegiatan penggemukkan anak-anak tuna selama dua hingga tiga tahun, yang berarti ikan-ikan tersebut dibunuh sebelum mereka sempat bertelur. Di tempat lainya seperti di Kepulauan Balearic, betina-betina besar, yang mampu menghasilkan 40 juta telur, sedang dihapus keberadaannya dalam jangka waktu sepuluh tahun, populasi sirip biru telah diturunkan secara drastis.

”Apa yang terjadi sekarang, mirip dengan apa yang pernah terjadi pada Cod,” kata Jean-marc Fromentin, ahli biologi kelautan dan ahli sirip biu yang bekerja dengan IFREMER, Lembaga Riset Prancis untuk Eksploitasi Laut. ”Anda tidak melihat penurunannya secara langsung karena Anda telah mengalami penumpukkan biomassa yang besar.”

Di jantung aktivitas perikanan, ada Francisco Fuentes dan perusahaannya yang berada di Cartagena, Ricardo Fuentes & sons, yang menurut pakar industri, mengontrol 60 persen bisnis peternakan sirip biru rakasasa Mediterania, mengeruk keutungan lebih dari 220 juta dollar setahunnya, menurut sumber-seumber industri. (seorang Juru bicara Fuentes mengatakan bahwa keuntungan besar yang diperolehnya hanya setengah dari jumlah tersebut). Bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan raksasa Jepang, Mitsui, Mitsubishi, dan Maruha, Fuentes Group- dengan bantuan subsidi ari UE dan Spanyol-telah membeli kerangkeng-kerangkeng laut, perahu derek, dan perahu-perahu pendukung yang dibutuhkan untuk operasi penggemukkan berskala besar. Fuentes & Sons juga membentuk kerja sama dengan perusahaan-perusahan Prancis dan Spanyol yang memiliki 20 pukat cincin-kapal lima juta dollar yang dilengkapi dengan sistem sonar berkekuatan tinggi dan jaring-jaring yang mampu mengelilingi 3.000 sirip biru dewasa.

Dengan Fuentes Group dan mitra kerja samanya yang memimpin usaha, armada penangkapan  ikan sirip biru secara metodik menargetkan ikan-ikan yang berada di perarairan tempat bertelur di dekat Eropa, kemudian mengalihkan perhatiannya ke wilayah-wilayah yang tak terjamah. Tempat perlindungan yang terkaya ini adalah Teluk Sindra di Libia. ”tempat tersebut merupakan akuarium tuna di Mediterania,” Ingat RobertoMielgo Bregazzi, seorang konsultan peternakan tuna yang pertama kali mengunjungi Teluk Sidra enam tahun yang lalu. ”saya belum pernah melihat yang seperti itu sebelumnya. Bobot rata-rata seekor sirip biru sekitar 272 kilogram. Tempat tersebut merupakan salah satu Shangrila tuna terakhir.”

Mielgo Brezzzagi, seorang berkebangsan Spanyol yang lincah dan mantan penyelam professional yang mengepalai Advanced Tuna Raching Technologies, telah bertekad untuk mengungkap penangkapan sirip biru IUU-ilegal, tak terdaftar, dan tak terregulasi. Dengan jaringan luas yang terdiri atas orang-orang dalam, termasuk juga informasi yang terpublikasi, ia menulis laporan-laporan panjang yang merinci bisnis IUU sirip biru. Menggunakan data rahasia seperti kapasitas dan jadwal pelayaran alat pendingin Jepang, ia menunjukkan bahwa armada penangkap ikan tuna di Mediterania telah mengambil dua kali lipat kuota legal tahunannnya

Mielgo Breggazi mengatakan bahwa Ricardo Fuentes & Sons dan seorang mitra Prancis yang bekerja sama dengan Perusahaan Libia, Ras el Hillal, untuk menagkap sirip biru raksasa di perairan Libia, Mielgo Breggazii mengatakan bahwa Seif al Islam Qaddafi, puta pemimpin Libia, Muammar Qaddafi, memiliki ketertarikan finansial terhadap Ras el Hillal dan telah mengeruk jutan dollar dari usaha penangkapan sirip biru. Mielgo Breggazi memperhitungkan bahwa, selama empat tahun terakhr, armada penangkap sirip biru telah menjaring lebih dari 10.000 ton sirip biru setiap tahunnya di perairan Libia. Sebagian merupakan tangkapan legal bagi kuota kapal Libia, Spanyol, dan Prancis, namun sebagian besar tampaknya merupakan tangkapan Ilegal.

David Martinez Canabate, asisten manajer dari Fuentes Group, mengatrakan bahwa perusahaannya secara ”mutlak” tidak memiliki hubungan apapun dengan keluarga Qaddafi dan bahwa semua tuna sirip bitu yang ditangkap, dijual, atau diternakkannya telah ditangkap secara legal dan dicatat dengan benar oleh aparat ICCAT dan Spanyol.

Ia membenarkan bahwa sirip biru telah ditangkap secara berlebihan, kebanyakan oleh perusahaan yang tidak beternak tuna namun menjualnya segera setelah dijaring. Armada dari negara-negara lain juga menangkap sirip biru tanpa mematuhi Quota dari ICCAT dan menternakkannya secara Ilegal, kata Martinez. ia mengatakan bahwa informasi Mielgo Breggazi banyak yang salah atau, lebih parah, beriktikad buruk dan bahwa Fuentes Group telah emndukung peraturan-peraturan konservasi yang lebih ketat. ”kami lebih memikirkan masa depan tuna dibandingkan dengan siapapun,” kata Martinez. ”Kami hdup dari sumber daya ini.”

Sebenarnya, sirip biru Libia dan Mediterania lainya telah sangat membanjiri pasar sehingga pasar jepang menimbun 20.000 ton ikan di dalam alat-alat pendingin raksasa. Jumlah berlebih tersebut telah menurunkan harga bagi para nelayan dalam beebrapa tahun terakhir, hingga kisaran tiga dan delapan dollar perkilogram. Tetap saja, harga sirip biru yang ditangkap setiap tahunnya di Libia, kemudian digemukkan selama beberapa bulan, kasarnya mencapai 400 juta dollar di pasar Jepang.

Pelanggaran yang dilakukan oleh armada penangkap sirip biru menjadi jelas saat menghadiri sebuah kunjunagn di Pulau Lampedusa di Italia, selatan Sisilia. Untuk memberi Tuna istirahat sepanjang puncak musim bertelur, peraturan UE dan ICCAT melarang pesawat pengintai mengudara pada bulan Juni. Namun, peraturan tersebut sering kali diabaikan.

Saya ikut terbang suatu pagi di bulan Juni bersama Eduardo Domaniewicz, seorang pilot Argentina-Amerika yang telah mengindentifikasi tuna bagi kapal-kapal pukat cincin milik Prancis dan Italia sejak 2003. yang duduk didepannya adalah pengintai Domaniewicz, Alfonso Consiglio. Mereka mnenyisir perairan antara Lampedusa dan Tunisia, dam mereka tidak sendirian: tiga pesawat pengintai lainya juga sedang berkeliling secara ilegal, memberitahukan penampakan tuna kepada sebagian  dari 20 pukat cincin di perairan di bawahnya.

Domaniewicz mengalami konflik batin. Ia senang terbang dan dibayar dengan baik. Ia percaya penerbangan bulan Juli nya legal, karena Italia tidak pernah menyetujui larangan tersebut. Namun setelah tiga tahun mengintai untuk armada penangkap sirip biru, ia muak dengan penagkapan ikan yang tak terkendali. Sesaat sebelum mendarat di Lampedusa, ia telah memperhatikan dua armada pukat cincin menjaring 378.000 kilogram sirip biru.

”Sulit bagi ikan untuk melarikan diri-semuanya serba canggih,” kata Domaniewicz

Alfonso Consiglio, yang keluarganya memiliki sebuah armada pukat cincin, juga tercabik-cabik. ”harganya juga semakin murah karena semakin banyak tuna yang ditangkap,” katanya. ”senjataku satu-satunya hanya dengan menangkap lebih banyak ikan. Ini seperti lingkaran setan.”

Bagaimana cara menghentikan lingkaran setan ini? Bagaimana  cara mencegah armada-armada penangkap ikan dunia menjalankan bunuh diri ekologi dan ekonomi dengan mengosongkan lautan dari tuna sirip biru, hiu, cod dan haddodck, sea bass, hake, red snapper, orange roughy, grouper, grenadier, sturgeon, plaice, rockfish, skate dan spesies lainya?

Para ahli setuju bahwa, pertama, lautan di dunia harus diatur sebagai sebuah ekosistem, tidak hanya sebagai gudang yang dapat dipakai oleh industri perikanan untuk memperoleh protein sesuka hati mereka. Kedua, dewan pengatur yang mengawasi penangkapan ikan seperti ICCAT, yang telah lama didominasi oleh kepentingan komersial, harus membagi kekuasaan dengan ilmuwan dan pencinta lingkungan.

Lebih lanjut, pemerintahan-pemerintahan yang harus mengurangi empat juta kapal penangkap ikan di dunia-hampir dua kali lipat yang dibutuhkan untuk menangkap ikan di laut secara berkelanjutan- dan memotong subsidi pemerintah yang diperkirakan sebesar 25 miliar dollar yang diberikan setiap tahunnya kepada industri perikanan.

Agen-agen penangkap ikan hrus menetapkan kuota yang ketat dan menjalankannya. Bagi sirip biru raksaa Mediterania, hal tersebut berarti menutup usaha penangkapan ikan sepanjang musim bertelur dan menambah bobot minimum tangkapan secara substansial.

Langkah penting lainya adalah pembentukkan kawasan perlindungan laut yang luas. Yang penting  dalah kampanye yang dilakukan oleh kelompok-kelompok seperti Stewardship Council, yang bekerja sama dengan konsumen dan juga pembeli raksasa, untuk mempromosikan perdagangan ikan-ikan yang ditangkap secara berkelanjutan,

Berita dari lini  depan perikanan tidak selamanya suram.

Tentunya jika manajemen perikanan yang stabil berjalan,

populasi ikan-dan industri perikanan, pastilah sehat.

Perubahan fundamental yang harus dilakukan adalah

perubahan pola pikir manusia, bahwa makhlut laut

sama pentingnya dengan kehidupan di darat.

sumber : Majalah National Geographic Indonesia


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: