Konsultasi: Dampak Perubahan Iklim terhadap Perikanan

2 11 2010

Posting berikut merupakan hasil korespondensi dengan Bu Ana Turyati, S.Si, M.T dosen Departemen Meterologi Terapan, Fakultas Matematikan dan IPA, Institut Pertanian Bogor serta beberapa dosen Meteorologi Terapan yakni Pak Ahkmad Faqih, S.Si dan Pak Perdinan, S.Si, M.Sc.

Terima kasih atas perhatian Bapak/Ibu semua atas ilmu yang diberikan.
========================

PENDAHULAN
A. Instability atmosphere
Dalam teori meteorologi ada berbagai metode yang digunakan untuk menentukan ketidakstabilan atmosfer: misalnya:  Convective Available Potential Energy (CAPE). adapun untuk penentuan atmospheric instability index menggunakan K_index, Lifted Index, yang dihitung berdasarkan temperature and wind sheer atmosfer pada level 1000 dan 850/700 mb. Info lengkap tentang CAPE bisa dibaca disini: http://en.wikipedia.org/wiki/Convective_available_potential_energy.

B. Weather extreme
Info lengkap tentang weather extreme bisa dibaca disini: http://www.climate.org/topics/extreme-weather/index.html

Perlu dimengerti sebelumnya mengenai pengertian cuaca buruk dengan weather extreme. Instability atmofer bisa diartikan cuaca buruk, sementara cuaca extreme berkaitan dengan kejadian yang dapat menimbulkan kerusakan. Misal: tornado, angin puting beliung. El Nino dan La Nina  sendiri tidak termasuk weather extreme tapi kejadian yang mempengaruhi climate variability. Akan tetapi suhu sangat panas saat El Nino berakibat drought termasuk Weather Extreme.

Dalam penentuan index weather extreme sendiri saya [Pak Perdiana0, red] belum menemukan. Namun climate variability dapat dideteksi dengan menggunakan Southern Oscillation Index, Pacific Decadal Oscillation, Indian Ocean Dipole dll.

Dalam kejadian extreme juga digunakan skala, misal untuk Tornado: Fujita Tornado Scale. Penggunaannya mirip dengan scala Ricther untuk gempa bumi.   Jadi lebih pada index untuk kejadian untuk observasi/bencana yang ditimbulkan, bukan index untuk mendeteksi kejadian, seperti SOI misalnya untuk El Nino.

=======================================
Adapun pertanyaan yang saya ajukan ialah:
=======================================

1. Apakah ada parameter kuantitatif yang menjelaskan fenomena cuaca buruk seperti nilai SOI?

Sudah saya coba jawab diatas. Hanya yang perlu diperhatikan adalah SOI digunakan untuk melihat indikasi El Nino atau La Nina, bukan cuaca buruk, melainkan climate variability saja. Kejadian yang diakibatkan El Nino dan La Nina seperti temperature sangat extreme dan intensitas hujan extreme yang bisa dikategorikan weather extreme. Saat nilai SOI tinggi tidak serta merta suhu atau intensitas hujan menjadi extreme.

2. Bagaimana penagruh siklok tropis terhadap cuaca di perairan indonesia?

Buku Meteorologi yang diterbitkan ITB sudah membahas ini. Di wikipedia juga ada: http://id.wikipedia.org/wiki/Siklon_tropis. secara ringkas siklon tropis ialah terbentuknya pusat tekanan rendah di daerah tropis, sehingga bisa terjadi badai. Secara meteorologi bila ada pusat tekanan rendah udara menuju kesitu kemudian naik, menjadi awan dan hujan di daerah tersebut. Hanya saja untuk siklon tropis, tekanannya rendah dan permukaannya biasanya non-topography. Sehingga menyebabkan angin yang kencang.

3. Apakan ITCZ mempunyai nilai index kuantitatif?
ITCZ jelas mempengaruhi curah hujan di Indonesia. Selama ini saya belum menemukan index untuk ITCZ. ITCZ merupakan siklus (sitem sirkulasi udara global). Pergantian hujan dan kemarau di Indonesia dipengaruhi oleh ITCZ. Definisi ITCZ ialah “Near the equator, from about 5° north and 5° south, the northeast trade winds and southeast trade winds converge in a low pressure zone known as the Intertropical Convergence Zone or ITCZ”.

4. Saya berminat untuk mengkaji dampak perubahan iklim terhadap perikanan tangkap. Berdasarkan literatur salah satu dampaknya ialah intensitas cuaca buruk yang meningkat.
by: Pak Akhmad Faqih

Kalau dikaitkan dengan perubahan iklim dan cuaca buruk. Sampai saat ini setahu saya model-model iklim belum memiliki resolusi yang cukup mumpuni untuk dapat menangkap kejadian-kejadian extreme. Indikasi adanya kejadian extreme dari luaran model biasanya adalah olahan secara statistik. Misalnya apakah perubahan iklim akan meningkatkan kejadi El Nino? Setahu saya model-model perubahan iklim dengan resolusi 2.5 derajat belum bisa mendeteksi kejadian iklim extreme. Downscaling dengan menggunakan model-model regional sendiri pun masih merupakan pertanyaan besar untuk mendeteksi climate extreme event? Kalau memang berminat bisa melakukan riset dengan menggunakan data sirkulasi udara atas GCMs/RCMs untuk mengkaji atmospheric stability saat kejadian2 extreme dibandingkan dengan data observasi berdasarkan radio sonde misalnya. Ini akan jadi kajian yang menarik. Tapi untuk kearah aplikasi seperti yang dinginkan (perikanan tangkap) masih perlu beberapa tahap lagi, apalagi kalau mau sampai menyusun index.

Kalau menurut saya, jika ingin dikaitkan dengan perikanan tangkap kenapa tidak dikaji ‘El Nino events in Indonesia under current climatic change’, sebab setahu saya saat El Nino, ikan-ikan di perairan Jawa dan Bali akan meningkat sebab mereka berenang menuju daerah upwelling. Pertanyaanya adalah apakah perubahan iklim mempercepat kejadian El Nino di Indonesia. kajian bisa secara statistik atau secara meteorologi (seperti yang saya jelaskan sebelumnya).





Introduksi: Dampak Perubahan Iklim terhadap Perikanan

2 11 2010

Berdasarkan definisi yang diberikan oleh UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change), climate change ialah perubahan iklim yang disebabkan oleh aktifitas manusia baik secara langsung maupun tidak langsung yang merubah komposisi dari atmosfer global termasuk variabilitas iklim alami. Hasil temuan Parry et al. (2007) pengaruh perubahan iklim dan variabilitas di wilayah asia dibuktikan dengan meningkatnya intensitas cuaca buruk dalam skala regional selama abad 20. Hasil prediksi Third Assessment Report (TAR) menyatakan bahwa rata-rata setiap daerah akan menghangat 3°C hingga 2050 dan 5°C pada dekade 2080. Kenaikan suhu udara permukaan diproyeksikan akan terjadi terutama di semua musim di wilayah Asia bagian utara. Dampak perubahan iklim yang terjadi diproyeksikan akan meningkatkan siklus hidrologi dan meningkatnya rata-rata curah hujan tahunan, implikasinya potensi ancaman banjir akan meningkat.

Perubahan iklim akan meningkatkan tingkat ketidakpastian terhadap variasi populasi ikan secara temporal maupun spasial, kestabilan dan daya dukung habitat serat interakasi ekosistem (Kirby et al., 2009 dalam Grafton, 2009). Pengaruh jangka pendek dari perubahan iklim hanya akan berdampak pada beberapa ekosistem saja, namun dalam jangka panjang akan mengakibatkan pengaruh tidak langsung terhadap ekosistem lautan (Cinner et al., 2009 dalam Grafton, 2009). Dampak perubahan iklim secara umum tidak terduga dan non-linear (Brander, 2008 dalam Grafton, 2009), dan bias terhadap tekanan penangkapan. Sebagai contoh akibat tekanan penangkapan ialah terjadinya pergeseran spesies dari trofik terbawah, seperti ubur-ubur (Kirby et al., 2009 dalam Grafton, 2009).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian 1995
Beberapa penelitian telah dilakukan pada periode ini. Hadi (1995) melakukan penelitian mengenai analisis daerah penangkapan ikan tongkol terhadap pola penyebaran suhu permukaan laut di Laut Jawa. Pergerakan arus ke arah Timur terjadi pada musim barat (Desembe-Februari), saat terjadi pergerakan tersebut membawa massa air bersalinitas rendah. Rata-rata SPL Karimun Jawa sebesar 24,35°C dan Bawena 24,79°C. Pada musim peralihan I (Maret-Mei), arus permukaan di Laut Jawa tidak menentu, kisaran salinitas rendah dan SPL cenderung meningkat. Kondisi tersebut diikuti oleh hasil tangkapan tongkol yang meningkat. Pada musim timur (Juni-Agustus), arus permukaan berbalik ke arah Barat dengan salinitas yang tinggi dan kisaran suhu yang rendah. Selanjutnya pada musim peralihan II (September-November), arus kembali tidak menentu diikuti salinitas yang tinggi dengan SPL yang rendah. Pada kondisi tersebut hasil tangkapan tongkol meningkat.
Penelitian Widodo (1995) mengenai pengaruh SPL terhadap fluktuasi hasil tangkapan layang menunjukkan CPUE layang tertinggi terjadi pada bulan Juli-September yang merupakan musim timur. Analisis regresi yang dilakukan menunjukkan kenaikan SPL akan berakibat menurunnya hasil tangkapan layang. Namun saat curah hujan tinggi, maka hasil tangkapan akan meningkat.
Penelitian senada juga dilakukan oleh Susanto (1995), yaitu analisa hubungan faktor oseanografi dan meteorologi terhadap penangkapan ikan di perairan Cilacap. Hasil analisis menunjukkan suhu dan arus berpengaruh secara nyata terhadap fluktuasi hasil tangkapan. Sedangkan salinitas dan kecepatan angin tidak berpengaruh secara nyata terhadap fluktuasi hasil tangkapan.

Penelitian 1999
Devi (1999) telah melakukan kajian yang berkaitan dengan SPL di Perairan Selatan Bali-Nusa Tenggara Barat, hasil pengolahan data citra menunjukkan SPL optimum bulan April, Mei, Juni, Juli dan Agustus berturut-turut sebesar 27,5°C; 30,5°C; 27,5°C; 29°C dan 24,5°C.

Penelitian 2000
Silalahi (2000) yang melakukan penelitian mengenai distribusi ikan pelagis terhadap SPL di Perairan Selat Sunda menemukan SPL di daerah DPI pada bulan Juli di sekitar Teluk Paraja hingga Anyer dan sekitar pulau Rakata berkisar antara 28°C-30°C.

Penelitian 2002
Penelitian Amri (2002) yang dilakukan selama periode 2000-2001 di Selat Sunda menunjukkan sebaran suhu permukaan laut (SPL) di Selat Sunda merupakan pencampuran massa air. Massa air hangat di sebelah timur dan utara selat dan massa air yang lebih dingin di bagian selatan dan barat selat. Akibat pertemuan massa air tersebut terjadi proses upwelling. Salinitas perairan lebih tinggi pada musim peralihan I (MP I) dan musim timur (MT), yaitu 32,7-33,7%. Sedangkan pada musim barat (MB) dan musim peralihan II salinitas lebih rendah yakni 31‰ (rata-rata bulanan).
Widianingsih (2002) melakukan penelitian mengenai korelasi anomali suhu permukaan laut Nino-3,4 terhadap curah hujan di daerah Lampung. Analisis menunjukkan musim kemarau berkorelasi negatif dengan anomali SPL Nino-3,4. Sedangkan musim hujan anomali SPL Nino-3,4 tidak berkorelasi dengan anomali curah hujan.

Penelitian 2003
Kajian mengenai beberapa parameter oseanografi juga dilakukan pada tahun 2002, namun daerah kajian bergeser sedikit ke arah Timur, yakni Teluk Palabuhanratu yang dilakukan oleh Handayani (2003). Hasil temuannya ialah SPL terendah terjadi pada bulan Juli-September, dan naik pada bulan Mei-Desember. Jumlah hari dan curah hujan cenderung tinggi pada bulan November-Februari dan turun pada bulan Juni-September. Adapun fluktuasi kecepatan angin bulanan tertinggi pada bulan Desember-Maret. Analisis regresi menunjukkan fluktuasi kondisi cuaca berbanding terbalik terhadap CPUE.
Anggraini (2003) melakukan kajian SPL kaitanyan dengan musim penangkapan ikan cakalang di Perairan Mentawai, Sumatera Barat. Pengolahan data citra memperoleh rata-rata SPL pada bulan Desember, Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober dan November masing-masing berkisar antara 21-26°C; 21-24°C dan 23-2524,5°C; 29-31°C; 23-25°C; 24-26°C; 23-26°C; 29-30°C; 29-30°C; 26-27°C; 26-28°C dan 26-28°C.

Penelitian 2004
Harini (2004) melakukan penelitian pendugaan pola arus permukaan yang diturunkan dari data satelit Altimetri Topex/Poseidon. Hasil analisis data diperoleh kecepatan arus permukaan di wilayah ekuator cenderung tinggi, hal tersebut terjadi karena adanya pengaruh gaya coriolis. Adapun kecepatan arus permukaan di sebalah utara ekuator secara berturut-turut bekurang dari Timur menuju ke barat, yaitu dari Samudera Pasifik sampai dengan Selat Makassar bagian Utara. Pola pergerakan arus hasil pengolahan data menunjukkan kemiripan dengan analisis pola arus hasil kajian Lagerloef et al. (2001) dalam Harini (2004).
Risandi (2004) dalam kajian SPL, siklon tropis dan curah hujan menemukan kejadian siklon tropis bulanan di Samudera Pasifik dan Samudera Hindia pada umumnya tidak terpengaruh oleh fenomena ENSO. Namun ENSO menunjukkan pengaruh pada bulan-bulan tertentu di Samudera Pasifik bagin barat, Pasifik bagian timur dan Samudera Atlantik. Korelasi yang positif ditunjukkan antara kejadian siklon tropis di Samudera Pasifik dan Hindia bagian selatan dengan kenaikan curah hujan bulanan di Pulau Jawa. Selain itu hubungan yang positif ditunjukkan pula anatara SPL dan kenaikan curah hujan di Pulau Jawa.

Penelitian 2005
Hasil penelitian yang dipublikasi tahun 2005 yang dilakukan oleh Mintoro (2005) dan Nikyuluw (2005) sama difokuskan parameter oseanografi di Selat Bali hubungannya dengan kelimpahan ikan lemuru. Hasil penenlitian Nikyuluw (2005) diperoleh hubungan yang cukup erat antara suhu, klorofil-a dan anomali paras laut terhadap jumlah hasil tangkapan lemuru di Selat Bali. Mitoro (2005) melakukan penelitian yang fokus terhadap fenomena upwelling di Selat Bali. Selat Bali merupakan daerah yang potensial untuk terjadi upwelling kareana pengaru arus khatulistiwa selatan dan angin muson tenggara yang intensif pada musim timur. Namun pada bulan Oktober perairan Selat Bali masih mengalami upwelling, walaupun angin muson barat mulai berpengaruh.

Penelitian 2006
Senin (2006) dalam penelitiannya mengenai konsentrasi klorofil-a dan SPL hasil citra satelit Aqua MODIS di Perairan Dalam dan Luar Teluk Tomini 2005 menunjukkan kisaran konsentrasi klorofil-a pada musim barat, peralihan I, musim timur dan musim peralihan II masing-masing berkisar antara 0,1313-0,2191 mg/m3; 0,1113-0,2845 mg/m3; 0,1543-0,3573 mg/m3 dan 0,1224-0,2646 mg/m3. Sedangkan SPL rata-rata pada musim barat, peralihan I, musim timur dan musim peralihan II masing-masing berkisar antara 28,8-29,1°C; 28,8-29,5°C; 27,8-29,2°C; 27,8-29,2°C.
Fatma (2006) melakukan penelitian senada dengan citra Terra-MODIS di Perairan Selatan Jawa menemukan kisaran SPL pada musim barat dan musim timur berturut-turut 28-31°C dan 26,7-29,3°C. Sedangkan kisaran konsentrasi klorofil-a pada musim barat dan musim timur berturut-turut 0,2-0,6 mg/m3 dan 0,4-0,6 mg/m3.
Syafi’i (2006) melakukan penelitian senada dengan citra Terra-MODIS di Perairan Natuna menemukan kisaran SPL pada musim barat dan musim timur berturut-turut 24-29°C dan 28-32°C. Sedangkan kisaran konsentrasi klorofil-a pada musim barat dan musim timur berturut-turut 0,11-2,59 mg/m3 dan 0,10-3,68 mg/m3.

Penelitian 2007
Ayuningtyas (2007) melakukan kajian SPL dan konsentrasi klorofil-a di Perairan Barat Laut Aceh sebelum dan sesudah tsunami. Hasil menunjukkan sebelum tsunami SPL dan klorofil-a berturut-turut berkisar antara 29,19-29,46°C dan 0,23-0,30 mg/m3, sedangkan pasca tsunami kisaran SPL dan klorofil-a masing-masing 27,04-30,90°C dan 0,20-0,45 mg/m3.

Penelitian 2008
Simbolon & Tadjuddah (2008) telah melakukan penelitian di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara mengenai pendugaan front dan upwelling dari citra SPL dan klorofil-a. Hasil penelitian menunjukkan pada musim barat SPL dan konsentrasi klorofil-a di perairan Wakatobi berturut-turut 27,5°C dan 1,35 mg/m3, sedangkan pada musim peralihan barat-timur bernilai 26,7°C dan 0,78 mg/m3. Hasil analisis menunjukkan pada musim barat dan musim peralihan barat-timur tidak ditemukan adanya indikasi upwelling. Namun fenomena thermal front ditemukan pada musim barat dan musim peralihan barat-timur.
Rudiastuti (2008) melakukan hal senanda di Laut Arafura, hasil yang diperoleh menunjukkan konsentrasi klorofil pada musim timur dan musim barat masing-masing 0,24 mg/m3 dan 0,16 mg/m3. Adapun rata-rata SPL pada musim timur dan musim barat masing-masing dan 25,45 °C dan 30,76 °C.
Murianto (2008) malakukan pemodelan iklim dengan model REMO. Hasil simulasi menunjukkan bahwa bulan April dan Agustus merupakan bulan yang sensitif terhadap terhadap perubahan SPL. Sedangkan bulan Febuari merupakan bulan yang paling stabil terhadap perubahan SPL. Pada bulan Maret-April-Mei dan Juni-Juli-Agustus adalah musim yang paling sensitif terhadap perubahan SPL. Musim Desember-Januari-Februari yang merupakan puncak musim hujan adalah musim memberikan respon terendah terhadap perubahan SPL. Dari hasil skenario tiga, peningkatan SPL sebesar 1°C akan meningkatkan curah hujan tahunan sebesar 20 % terhadap curah hujan normal. Pada suhu diatas 29,5°C seluruh curah hujan harian mengalami kenaikan, pada suhu dibawah 29,5°C dan diatas 29,1°C terdapat beberapa data curah hujan yang mengalami penurunan, dan sebagian besar data mengalami kenaikan curah hujan sebesar 50 %. Untuk suhu dibawah 90,1°C terjadi fluktuasi perubahan curah hujan yang tidak berpola.

Penelitian 2009
Basuma (2009) dalam penelitiannya mengenai konsentrasi SPL hasil citra satelit Aqua MODIS di Perairan Binuangeun menunjukkan kisaran SPL rata-rata pada Bulan Maret, April dan Mei masing-masing berkisar antara 24C-28°C; 25C-29°C dan 25C-29°C.

KESIMPULAN SEMENTARA
Penelusuran literatur yang secara komprehensif mengenai perubahan iklim sulit ditemukan, sehingga pendekatan dampak perubahan iklim dilihat dari perubahan parameter lingkungan. Berdasarkan pengumpulan literatur yang telah dilakukan, diketahui bahwa parameter lingkungan (osenaografi dan metorologi) cukup berpengaruh terhadap kelimpahan sumberdaya ikan. Analisis data lebih lanjut dapat mengetahui apakah ada pengaruh perubahan iklim terhadap parameter lingkungan. Namun perlu diperhatikan apakah fluktuasi hasil tangkapan terjadi akibat perubahan parameter lingkungan karena perubahan iklim atau sebagai akibat tekanan penangkapan. Hipotesis yang kami ajukan adalah pengaruh peningkatan intensitas cuaca buruk yang terjadi sebagai akibat perubahan iklim, sehingga berpengaruh terhadap jumlah hasil tangkapan. Oleh karena itu perlu parameter kuantitatif yang menjelaskan peningkatan intensitas cuaca buruk. Salah satu parameter yang mungkin digunakan untuk mejelaskan cuaca buruk ialah siklon tropis dan ITCZ (Inter Tropical Convergen Zone).

DAFTAR PUSTAKA
Amri, Khairul. 2002. Hubungan Kondisi Oseanografi (Suhu Permukaan laut, Klorofil-a dan Arus) dengan Hasil Tangkapan Ikan Pelagis Kecil di Perairan Selat Sunda. Tesis (tidak dipublikasikan). Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.Parry, M.L., O.F. Canziani, J.P.

Palutikof, P.J. van der Linden and C.E. Hanson (eds). 2007. Contribution of Working Group II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. USA: Cambridge University Press.

Grafton , R. Quentin. 2009. Adaptation to Climate Change in Marine Capture Fisheries. Environmental Economics Research Hub Research Reports. ISSN 1835-9728. Australia: The Australian National University.

Hadi, Samsul. 1995. Analisa Daerah Penangkapan Ikan Tongkol di Laut Jawa dengan Memanfaatkan Data Satelit NOAA-AVHRR/2 Melalui Pola Penyebaran Suhu Permukaan Laut. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.Harini,

Wahju Sri. 2004. Pola Arus Permukaan di Wilayah Perairan Indonesia dan Sekitarnya yang diturunkan Berdasarkan Data Satelit Altimetri TOPEX/POSEIDON. Tesis (tidak dipublikasikan). Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Mintoro, Huring Sanji. 2005. Studi Upwelling di Perairan Selat Bali pada Bulan Oktober 2004. Skripsi (tidak dipublikasikan). Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.

Nikyuluw, Lucky Leonard Upulatu. 2005. Kajian Variasi Musiman Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-a dalam Hubungannya dengan Penangkapan Lemuru di Perairan Selat Bali. Tesis (tidak dipublikasikan). Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Susanto. 1995. Studi Hubungan Faktor-Faktor Oseanografi dan Meteorologi terhadap Penangkapan Ikan di Perairan Cilacap dan Sekitarnya dengan Mempergunakan Set Gillnet. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.

Widianingsih, Sri Agustina. 2002. Analisis Korelasi Anomali Suhu Permukaan Laut Nino-3,4 dengan Curah Hujan Daerah Lampung. Skripsi (tidak dipublikasikan). Jurusan Geofisika dan Metorologi, FMIPA-IPB.

Widodo, Rukminto Wahyu. Hubungan Suhu Permukaan laut dan Curah Hujan dengan Fluktuasi Hasil Tangkapan Ikan Layang (Decapterus spp.) di Perairan Bawean, Jawa Timur. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.

Simbolon, Domu dan T. Muslim. 2008. Pendugaan Front dan Upwelling Melalui Interpretasi Citra Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-a di perairan Wakatobi Sulawesi Tenggara. Buletin PSP Vol. XVII no. 3: 362-371.

Rudiastuti, Aninda Wisaksanti. 2008. Studi Sebaran Klorofil-a dan Suhu Permukaan Laut (SPL) serta Hubungannya dengan Distribusi Kapal Penangkap Ikan Melalui Teknoogi Vessel Monitoring System (VMS). Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.

Ayuningtyas, Anggie . 2007. Kajian Perubahan Konsentrasi Klorofil-a dan Suhu Permukaan Laut di Barat Laut Perairan Aceh Sebelum dan Sesudah Tsunami dengan Menggunakan Citra Satelit Aqua Modis. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.

Fatma, Erika. 2006. Pendugaan Sebaran Suhu Permukaan Laut dn Konsentrasi Klorofil di Perairan Selatan Jawa Menggunakan Citra Satelit Terra Modis. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.

Senin. 2006. Sebaran Konsentrasi Klorofil-a dan Suhu Permukaan Laut dari Citra Satelit Aqua Modis di Dalam dan Luar Perairan Teluk Tomini Tahun 2005. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.

Anggraini, Nora. 2003. Hubungan Suhu Permukaan Laut terhadap Pola Musim Penangkapan Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) di Perairan Mentawai, Sumatera Barat. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.

Silalahi, Jefri. 2000. Analisis Distribusi Jenis Ikan Pelagis Kecil di Perairan Selat Sunda Dikaitkan dengan Citra Suhu Permukaan laut dari Satelit NOAA/AVHRR. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.

Devi, Ade Rachmawati. 1999. Studi Tentang Hubungan Daerah Penangkapan Ikan Tuna (Thunnus sp.) di Perairan Selatan Bali-NTB dengan Suhu Permukaan Laut Satelit NOAA-AVHRR. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.

Pardede, Shinta Trilestari. 2001. Pola Perubahan Suhu Permukaan Laut di Sekitar Perairan Laut Jawa dan laut Flores dari Data Citra NOAA/AVHRR dan Hubungannya dengan Fenomena Bleaching pada Ekosistem Terumbu Karang di Perairan Bali. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.

Risandi. 2004. Departemen Meteorologi Terapan, FMIPA-IPB.

Murianto. 2008. Departemen Meteorologi Terapan, FMIPA-IPB.





TEMUAN IKAN MOLA (Fam. MOLIDAE) DI PANTAI LUWUK, BANGGAI, SULAWESI TENGAH

23 08 2010

Oleh:
Suwarso (Peneliti BRPL)
Duto Nugroho (Peneliti BRPL)
Abdullah Ali (Dinas Kelautan dan Perikanan, Kb. Banggai)

PENDAHULUAN
Pada tanggal 16 November 2007 telah tertangkap secara tidak sengaja seekor ikan ukuran besar berwarna abu-abu kecoklatan, berkulit tebal dan ’kasap’, yang dianggap ’aneh’ di perairan pantai Luwuk (Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah). Dikatakan aneh karena nelayan tidak mengenal ikan tersebut karena belum pernah menangkapnya, sehingga hal ini dikatakan kejadian luar biasa. Sehubungan dengan hal tersebut telah dilakukan pengamatan terhadap specimen, observasi lapangan serta wawancara, yang dilaksanakan pada tanggak 7-10 Desember 2007. Kegiatan merupakan kordinasi antara Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Banggai di Luwuk dengan Balai Riset Perikanan Laut Jakarta. Pengamatan ditujukan untuk mengetahui nama SPECIES, sifat/karakter biologi, aspek lingkungan dan kemungkinan prospeknya.

HASIL
1. Pengamatan biologi dan Identifikasi
Pengamatan meliputi pengukuran, ciri-ciri morfologi untuk keperluan identifikasi, pengamatan isi lambung dan sampling jaringan. Identifikasi jenis (SPECIES) dan FAMILI mengikuti Nakabo (2002) dan Hutchins (1999). Hasil pengamatan, pengukuran dan identifikasi sebagai berikut:

Ciri Morfologi

Bentuk tubuh oval, berwarna coklat dengan spot-spot putih di badannya; kulit kasap (leathery). Panjang total dari ujung kepala sampai ujung ekor (clavus) 200 cm; tinggi badan 125 cm; berat tubuh sekitar 240 kg. Gill opening berupa lubang kecil yang terletak
didepan dasar sirip dada (pectoral-fin); mata kecil. Mulut terminal, kecil; empat gigi (bukan gigi palatine) berfusi membentuk karakteristik ’beak’ pada masing-masing rahang yang tanpa suatu median suture; ciri Ordo Tetraodontiformes.

Sirip dorsal (atas) dan sirip anal (bawah) bentuknya sama (triangular), besar sangat menonjol. Panjang sirip dorsal 84 cm dengan 16 jari-jari sirip lunak (soft spine rays), sirip anal panjang 82 cm dengan 15 soft spine rays. Panjang dari ujung-ujung sirip atas dan sirip bawah 270 cm. Sirip dada (pectoral fin) kecil membulat (ini merupakan ciri genus Mola; Nakabo, 2002), posisinya midlateral. Sirip perut (pelvic fin) absen.

Sirip ekor tidak ada tetapi berupa pseudo-caudal fin yang disebut clavus (ciri Fam. Molidae); clavus bentuknya membulat, disokong oleh elemen fin-rays (sebenarnya berasal dari sirip dorsal dan sirip anal yang bermigrasi) sebanyak 16 buah; ciri species Mola ramsayi yang membedakannya dengan species Mola mola (Common Mola) yang hanya memiliki 12-13 fine rays pada clavusnya (Hutchins In Carpenter & Niem, 2001).

Klasifikasi
Phylum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Tetraodontiformes
Famili : Molidae
Genus : Mola
Species : Mola ramsayi

Keterangan:
Terdapat 3 genera dari Famili Molidae, yaitu Masturus, Mola dan Ranzania; sedang yang lebih sering ditemukan adalah genus Mola. Species Mola mola merupakan species yang lebih umum (tipikal Fam. Molidae), sedang species Mola ramsayi dilaporkan ditemukan di perairan Afrika Selatan dan Australia (Bass et al., 2005).

Isi Lambung dan Gonad
Melalui pembedahan bagian abdominal dapat diambil isi lambungnya. Lambung (gut) berisi hancuran halus dari sisa-sisa makanan yang berwarna hitam, namun masih dapat dikenali sisa-sisa bagian tubuh cumi-cumi (squids) yang berupa tentakel didalamnya yang berwarna putih. Gonad tidak ditemukan, artinya diperkirakan bahwa specimen tersebut masih tergolong ikan muda (immature) dan belum mencapai masa reproduktif.

2. Kepustakaan dan prospeknya
Ikan Mola (Fam. Molidae), dikenal sebagai Ocean Sunfish, walaupun diketahui memiliki penyebaran luas di daerah tropik maupun sub-tropik tetapi species ini tergolong species yang jarang dan populasinya sedikit (endanger species ?). Hidup di perairan open ocean pelagic, dari permukaan hingga kedalaman 360 m (Nakabo, 2002; Hutchins In Carpenter & Niem, 2001). Ikan Mola adalah bony fish terberat di dunia (berat rata-rata
1000 kg), panjang dapat mencapai 3 m atau lebih. Bagian kepala dan badan nampak dominan, tidak memiliki caudal peduncle dan tipical cudal-fin yang disebut ’ekor’ tetapi ekornya adalah ekor palsu (pseudo-caudal fin).

Belum banyak informasi terinci dari species Mola ramsayi seperti yang tertangkap di Banggai. Informasi berikut adalah sifat-sifat biologi dari kerabat dekatnya, yaitu Mola mola (common Mola) berdasarkan publikasi dari Wikipedia. Ikan Mola biasanya ditemukan solitair, berpasangan atau dalam kelompok. Mereka sering terlihat berenang di permukaan tetapi kadang-kadang terlihat di sekitar alga laut dimana ikan-ikan kecil lainnya akan memakan parasit-parasit yang menempel pada kulitnya, atau sering terlihat bermalas-malasan di permukaan untuk memberi kesempatan kepada burung-burung laut untuk memakan parasit-parasit tersebut (Blue Ocean). Ikan Mola terutama memakan jellyfish dalam jumlah banyak, tetapi juga memangsa salps, comb jellies, zooplankton, squid, crustacea, ikan-ikan kecl, larva ikan dan eel grass.

Karena makanannya dalam jumlah banyak, kehadiran dari endangered species tersebut di suatu perairan bisa digunakan sebagai indikator perairan yang kaya nutrient. Perburuan untuk kepeluan ilmiah (penelitian) di sekitar Banggai mungkin diperlukan dengan mempertimbangkan beberapa hal berikut: termasuk species langka (endangered species), kekayaan jenis dan unsur biodiversity, fungsi ekologi-ekosistim, dan hubungan
kekerabatan dengan ikan sejenis di berbagai belahan dunia seperti Australia, Taiwan, Afrika Selatan, dll. (Bass et all., 2005).

DAFTAR PUSTAKA
Bass, A. L., H. Dewar, T. Thys, J. T. Streelman & S. A. Karl. 2005. Evolutionary divergence among lineages of the Ocean Sunfish family, Molidae (Tetraodontiformes). Marine Biology,DOI 10.1007/s00227-005-0089-z.

Hutchins, J. B. MOLIDAE, Molas (ocean sunfish). 1999. In: K. E. Carpenter and V. H. Niem (Eds.). FAO Species Identification Guide for Fishery Purposes: The Living Marine Resources of the Western Central Pasific. Vol. I-VI. FAO, Rome.

Nakabo, Tetsuji (Ed.). 2002. Fishes of Japan: with pictorial keys to the species. Vol. I-II. English edition. Tokai University Press. Tokyo.

http://en.wikipedia.org/Ocean_sunfish





Tingkat Kematangan Gonad Ikan

16 08 2010

Sumber:
1. Suwarso (Peneliti Senior pada Balai Riset Perikanan Laut)
2. Effendie, Moch. Ichsan. 2002. Biologi Perikanan. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama.

TKG (tingkat kematangan gonad) menunjukkan suatu tingkatan kematangan sexual ikan. Sebagian besar hasil metabolisme digunakan selama fase perkembangkan gonad. Umumnya pertambahan berat gonad pada ikan betina sebesar 10-25% dari berat tubuh, sedangkan untuk ikan jantan berkisar antara 5-10%. Dalam mencapat kematangan gonad, dapat dibagi daam beberapa tahapan. Secara umum tahap tersebut adalah akan memijah, baru memijah atau sudah selesai memijah. Ukuran ikan saat pertama kali matang gonad (length at first maturity, Lm) bergantung pada pertumbuhan ikan itu sendiri dan faktor lingkungan. Pembagian tahap kematangan gonad dilakukan dalam dua cara, yakni analisis laboratorium dan pengamatan visual. Cara yang umum digunakan ialah metode pengamatan visual berdasarkan ukuran & penampakan gonad, sebagi catatan metode ini bersifat subyektif. Indikator pembagian tahapan kematangan gonad dengan cara visual ialah:
1. Ukuran gonad dalam menempati rongga badan (kecil, 1/4 bag, 1/2 bag, 3/4 bag atau penuh);
2. Berat gonad segar (ditimbang);
3. Penampakan: warna gonad;
4. Penampakan butiran telor (ova) utk ikan betina (opaque, translucens/ripe/gravid),
5. Ada tidaknya pembuluh darah, dll.

Semakin besar ukuran gonad (beratnya makin tinggi), maka semakin tinggi pula TKG-nya. Nilai TKG juga berbading lurus dengan nilai GSI (Gonado Somatic Index) dan atau GI (Gonad Index). Rumus GSI menurut Batts (1972):
GI=(Wg/L^3)*10^8
Keterangan:
GI: Gonado Somatic Index;
Wg: Berat Gonad (gram);
L Panjang ikan (mm).

Karena sifatnya yang subjektif, sering terjadi perbedaan tahap TKG baik karena perbedaan observer maupun perbedaan waktu. Sebagai acuan standar, umum digunakan 5 tahap TKG (Five stage of visual maturity stage for partial spawning fishes) , yakni:
1. TKG I (immature, dara);
2. TKG II (developing, dara berkembang);
3. TKG III (maturing/ripening, pematangan);
4. TKG IV (mature/ripe/gravid, matang);
5, TKG V (spent, salin).

Diantara kelima kematangan standar tersebut, TKG III biasanya memiliki nilai GSI/GI dalam kisaran yang luas, menunjukkan tahap pematangan itu berlangsung relatif lebih lama dibanding TKG lainnya. Perbedaan spesifik dari tiap TKG bisa diketahui dari pengamatan mikroskopis terhadap ukuran diameter & penampakan ova, atau irisan histologis dari gonad/ovary.





Prosedur Penyimpanan Sampel Gonad dan Isi Perut

17 06 2010

Bagi rekan-rekan yang bermaksud untuk melakukan Analisis Isi Perut, Analisis Tingkat Kematangan Gonad (TKG) dan Histologi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memperlakukan sampel yang ingin dianalisis, khususnya untuk analisis yang dilakukan di tempat dan waktu yang berbeda.

1. Analisis Isi Perut dan histologi
Untuk sampel Isi Perut yang nantinya akan dianalisis Isi Perut, maka sebaiknya sampel tersebut diawetkan dengan menggunakan Formalin 10% atau pun larutan Bouin’s.

2. Analisis Tingkat Kematangan Gonad
Adapun pengawetan sampel untuk keperluanuji fekunditas sebaiknya menggunakan larutan Gilson 10%.

Semoga bermanfaat…
Satu Sampel besar artinya bagi seorang peneliti.

Sumber: Yanto* perscomm, 2010
*: Teknisi Laboratorium BRPL





Sistem Pakar

22 04 2010

Pernah mendengan istilah Sistem Pakar (Expert System)? Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba untuk sharing mengenai sistem pakar. Menurut Feigenbaum vide Harmon & King (1985) vide Marimin (2005), sistem pakar adalah perangkat lunak komputer cerdas yang menggunakan pengetahuan dan prosedur inferensi untuk memecahkan masalah yang cukup rumit atau memerlukan kemampuan seorang pakar untuk memecahkannya. Sistem pakar berbeda dengan program konvensional, karena program yang terakhir hanya dapat dimengerti oleh pembuat program (programmer). Sistem pakar bersifat interaktif dan mempunyai kemampuan untuk menjelaskan apa yang dintakan pengguna (user friendly).

Dalam hal ini, sistem pakar merupakan salah satu alternatif terbaik untuk menyelesaikan persoalan dengan menggunakan komputer yang didukung oleh teknik kecerdasan buatan (artificial intelligence), terutama untuk pemecahan persoalan yang bersifat nalitis (intepretasi dan diagnostik, sintesis) dan integrasi yang sesuai dengan konsep informasi dengan penerapan data dasar (modelisasi konseptual, konsepsi fisik, restrukturisasi data dan administrasi dokumen).

Menurut Oxman (1985) vide MArimin (2005), sistem pakar adalah peranghkat lunak komputer yang menggunakan pengetahuan (aturan-aturan tentang sifat dari suatu unsur masalah), fakta dan teknik inferensi untuk masalah yang biasanya membutuhkan kemampuan seorang ahli.

Pengetahuan yang digunakan dalam sistem pakar terdiri dari akidah-kaidah (rules) atau informasi dari pengalaman tentang tingkah laku suatu unsur dari suatu gugus persoalan. Kaidah-kaidah biasanya memberikan deskripsi tentang kondisi yang diikuti oleh akibat dari prasyarat tersebut.

Tujuan perancangan sistem pakar adalah untuk mempermudah kerja atau bahkan menggantikan tenaga ahli, penggabungan ilmu dan pengalaman dari beberapa tenaga ahli, training tenaga ahli baru, penyediaan keahlian yang diperlukan oleh suatu proyek yang tidak ada atau tidak mampu membayar tenaga ahli. Hal tersebut dapat dipahami secara rasional, karena kaderisasi tenaga ahli dalam suatu organisasi sangat diperlukan, terutama untuk badan usaha yang mempunyai keterbatasan dana untuk menyediakan tenaga ahli.

Penggabungan ilmu dan pengalaman para tenaga ahli bukan merupakan pekerjaan yang mudah, khususnya untuk tenaga ahli bukan merupakan pekerjaan yang mudah, khususnya untuk tenaga ahli yang berbeda bidang keahliaanya. Dalam hal ini sistem pakar direncang untuk menyimpan dan menggunakan ilmu serta pengalaman dari satu atau beberapa tenaga ahli. Untuk itu sustu sistem pakar yang mempunyai kapasitas besar diperkirakan mampu memecahkan suatu persoalan yang tidak dapat dipecahkan oleh satu atau sekelompok kecil tenaga ahli.

Sistem pakar atau sistem berbasisi pengetahuan kecerdasan (Intellegent Knowledge Based System) merupakan salah satu bagian dari kecerdasan buatan yang memungkinkan komputer dapat berpikir dan mengambil kesimpulan dari sekumpulan aturan (aturan biasa dan meta). Dalam proses tersebut seorang pengguna dapat berkomunikasi secara interaktif dengan komputer untuk memecahkan suatu persoalan atau seolah-oleh pengguna berhadapan dengan seseorang yang ahli dengan masalah tersebut.

Dengan berkembangnya teknik kecerdasan buatan (AI), sistem pakar dirancang untuk memiliki kemampuan untuk belajar dan mengajar. Apabila pengguna sistem pakar tersebut seorangtenaga ahli yang lebih kompeten dari ahli yang digunakan sebagai sumber pengetahuan, maka sistem pakar mendapat masukan imu dan pengalaman baru dari tenaga ahli yang bersangkutan dan selanjutnya hal tersebut dapat disimpan untuk digunakan di lain waktu. Kalau pengguna sistem pakar bukan seorang ahli, maka sistem pakar dapat memberikan saran, kesimpulan dan penjelasan untuk menyelesaikan persoalan tertentu.

Sumber:
Marimin. 2005. Teori dan Aplikasi Sistem Pakar dalam Teknologi Manajerial. Bogor: IPB Press.





Istilah-Istilah dalam Pengkajian Stok Part 3

15 04 2010

Stakeholders:
Sekelompok besar individu dan kumpulan individu (termasuk pemerintah dan berbagai institusi non-pemerintah, masyakat tradisional, perguruan tinggi, lembaga penelitian, berbagai agen pembangunan seperti bank, donor, dsb. Dengan perhatian dan tuntutan yang memiliki potensi untuk dipengaruhi oleh atau memiliki pengaruh atas suatu proyek tertentu dan tujuan-tujuannya.

Stock (Stok):
1. Dalam teori, suatu unit stok meliputi semua individu ikan dalam suatu area yang merupakan bagian dari proses reproduksi yang sama. Suatu stok bersifat berdiri sendiri, dengan tanpa emigrasi atau imigrasi individu dari atau ke dalam stok. Dalam prakteknya, suatu bagian dari unit stok diperhitungkan sebagai suatu stok untuk untuk keperluan pengelolaan (atau sebagai suatu unit pengelolaan), sepanjang hasil dari pengkajian dan pengelolaan tetap tidak jauh menyimpang dari yang semestinya terjadi atas unit stok.
2. Suatu kelompok indivisu dalam suatu spesies yang mendiami suatu kisaran spasial tertentu dan bebas dari stok lainnya dari spesies yang sama. Dapat saja terjadi sebaran yang bersifat acak dan migrasi yang berkaitan dengan aktivitas reproduksi. Kelompok seperti itu dapat dianggap sebagai suatu satuan untuk keperluan pengelolaan dan pengkajian. Sejumlah spesies membentuk suatu stok tunggal (misalnya tuna sirip biru selatan) sedang lainnya terdiri dari sejumlah stok (misalnya tuna albakora di Samudera Pasifik yang terdiri dari stok utara dan selatan yang terpisah). Dampak penangkapan atas suatu spesies tidak dapat ditentukan tanpa mengetahui struktur dari stok jenis ikan tersebut.

Stock assessment:
Pengkajian stok meliputi proses pengumpulan dan analisis informasi biologi dan statistik untuk menentukan berbagai perubahan dalam kelimpahan berbagai stok ikan dalam merespon terhadap penangkapan, dan sejauh mungkin memprediksi berbagai kecenderungan mendatang atas kelimpahan stok. Pengkajian stok didasarkan atas sejumlah survei sumber daya, pemahaman terhadap persyaratan habitat, riwayat hidup (life history)
dan perilaku spesies, penggunaan berbagai indeks leingkungan untuk menentukan berbagai dampak atas stok, dan statistik hasil tangkapan. Pengkajian stok digunakan sebagai dasar untuk mengkaji dan menentukan kondisi suatu perikanan saat ini dan berbagai kemungkinannya dimasa mendatang.

Sustainable development:
Pembangunan berkelanjutan adalah:
1. Pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengganggu kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka (World Commission on Environment and Development, 1987)
2. Pengelolaan dan konservasi atas sumber daya dan orientasi teknologidan perubahan kelembagaan sedemikian rupa sehingga menjamin pencapaian kepuasan kebutuhan manusia secara berkelanjutan untuk generasi saat ini dan mendatang.

Sustainable yield:
Hasil tangkapan lestari adalah jumlah atau bobot ikan dalam suatu stok yang dapat diambil oleh penangkapan sementara menjaga biomassa stok pada tingkat tetap dari tahun ke tahun dengan menanggap bahwa kondisi lingkungan tidak berubah. Hasil tangkapan lestari dapat mencakup berbagai tingkatan, dari sangat rendah dalam perikanan yang belum dieksploitasi secara penuh atau dieksploitasi secara berlebihan sampai sangat tinggi untuk perikanan yang dieksploitasi secara memadai. Dalam praktek hasil tangkapan lestari sulit diperoleh dikarenakan adanya fluktuasi lingkungan.

Target species:
Spesies target spesies yang terutama dicari oleh nelayan dalam suatu perikanan tertentu. Dalam suatu perikanan mungkin terdapat spesies target utama dan spesies target kedua.

Yield:
Hasil tangkapan dalam bobot. Hasil tangkapan dalam jumlah individu (catch) dan dalam bobot (yield) sering digunakan secara bergantian.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.