Kalender Akademik IPB 2010

8 01 2010

Kalender Akademik

KALENDER PENDIDIKAN IPB TAHUN AKADEMIK 2009/2010

No. Kegiatan Waktu
Program Sarjana
1 Penerimaan Mahasiswa Baru S1
- Registrasi Mahasiswa Baru Jalur USMI 29 Juni s/d 3 Juli 2009
- Matrikulasi 6 Juli s/d 12 Agustus 2009
- Registrasi Mahasiswa Baru Jalur SNMPTN,
UTM, BUD, PIN
10-12 Agustus 2009
2 KRS A Online 5-8 Agustus 2009
3 Awal Kuliah Semester Ganjil 24 Agustus 2009
4 KRS B Online 31 Agustus s/d 3 September 2009
5 Pendaftaran Wisuda Tahap I 7-11 September 2009
6 Autodebet 11 September 2009
7 Libur Akademik Hari Raya Idul Fitri 17-30 September 2009
8 Wisuda Tahap I 13 dan 14 Oktober 2009
9 UTS Semester Ganjil 26 Oktober s/d 7 November 2009
10 Libur Nasional: Hari Raya Idul Adha 27 November 2009
11 Libur Nasional: Tahun Baru 1431 Hijriyah 18 Desember 2009
12 Libur Nasional: Hari Raya Natal 25 Desember 2009
13 Akhir Kuliah Semester Ganjil 26 Desember 2009
14 Libur Nasional:  Tahun Baru 2010 1 Januari 2010
15 Kuliah Pengganti Hari Libur Nasional 4-6 Januari 2010
16 Ujicoba KRS Online 5-6 Januari 2010
17 Persiapan UAS Semester Ganjil 7-9 Januari 2010
18 UAS Semester Ganjil 11-23 Januari 2010
19 KKN/KKP Periode I Februari s/d April 2010
20 Pendaftaran wisuda Tahap II 1-5 Februari 2010
21 Batas Akhir Pemasukan Nilai 5 Februari 2010
22 Pengumuman Hasil Kemajuan Belajar Semester Ganjil 8 Februari 2010
23 KRS A Online 8-12 Februari 2010
24 Awal Kuliah Semester Genap 15 Februari 2010
25 Wisuda Tahap II 23 dan 24 Februari 2010
26 KRS B Online 22-26 Februari 2010
27 Autodebet 11 Maret 2010
28 UTS Semester Genap 5-17 April 2010
29 Akhir Kuliah Semester Genap 5 Juni 2010
30 Pendaftaran wisuda Tahap III 7-11 Juni 2010
31 Persiapan UAS Semester Genap 7-12 Juni 2010
32 UAS Semester Genap 14-26 Juni 2010
33 Wisuda Tahap III 29 dan 30 Juni 2010
34 Batas Akhir Pemasukan Nilai 9 Juli 2010
35 Pengumuman Hasil Kemajuan Belajar Semester Genap 14Juli 2010
36 KKN/KKP Periode II Juli s/d Agustus 2010
37 Kuliah Alih Tahun Juli s/d Agustus 2010
Program Pasca Sarjana
1 Panggilan Calon Mahasiswa Baru BPPS dan Non BPPS 10 – 14 Agustus 2009
2 Pengumpulan Formulir Rencana Studi Semester Ganjil 17-21 Agustus 2009
3 Kuliah Umum SPs 27-28 Agustus 2009
4 Masa Perkuliahan Semester Ganjil 31 Agustus 2009 – 8 Januari 2010
5 Masa Ujian Tengah Semester Ganjil 2-13 November 2009
6 Masa Ujian Akhir Semester Ganjil 11-22 Januari 2010
7 Batas Akhir Penyerahan Nilai Semester Ganjil 5 Februari 2010
8 Registrasi Ulang/Pengambilan FRS Sem. Genap 8-19 Februari 2010
9 Pengumpulan Formulir Rencana Studi Semester Genap 22-26 Februari 2010
10 Masa Perkuliahan Semester Genap 1 Maret – 25 Juni 2010
11 Masa Ujian Tengah Semester Genap 19-30 April 2010
12 Masa Ujian Akhir Semester Genap 24 Juni-2 Juli 2010
13 Batas Akhir Penyerahan Nilai Semester Genap 16 Juli 2010
14 Kuliah Umum Seminar 26-30 April 2010
Program DIPLOMA
1 Matrikulasi ke TA 2009/2010 21 Juli s/d 12 Agustus 2009
2 Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur USMI Juli 2009
3 Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur Reguler Agustus 2009
4 Registrasi Ulang Agustus 2009
5 Pembayaran SPP SMT Ganjil (Autodebet 1) 5 Agustus 2009
6 Pembayaran SPP SMT Ganjil (Autodebet 2) 19 Agustus 2009
7 Pendaftaran Wisuda Diploma 19-23 Oktober 2009
8 Wisuda Program Diploma 17 dan 18 November 2009
9 Pembayaran SPP SMT Genap (Autodebet 1) 3 Februari 2010
10 Pembayaran SPP SMT Genap (Autodebet 2) 17 Februari 2010
11 Masa Perkuliahan Semester Ganjil 24 Agustus 2009
12 Masa Perkuliahan Semester Genap 22 Februari 2010
13 Masa Ujian Tengah Semester (UTS) Ganjil 2009/2010 2 s/d 14 Nopember 2009
14 Masa Akhir Semester (UAS) Ganjil 2009/2010 21 Januari s/d 4 Februari 2010
15 Masa Ujian Tengah Semester (UTS) Genap 2009/2010 15 s/d  29 April 2010
16 Masa Ujian Akhir Semester (UAS) Genap 2009/2010 24 Juni s/d 8 Juli 2010
17 Batas Akhir Pemasukan Nilai Semester Ganjil 2009/2010 11 Februari 2010
18 Batas Akhir Pemasukan Nilai Semester Genap 2009/2010 15 Juli 2010
19 Pengumuman Hasil Kemajuan Semester Ganjil 2009/2010 25 Februari 2010
20 Pengumuman Hasil Kemajuan Semester Genap 2009/2010 29 Juli 2010
*) Dapat berubah dengan pemberitahuan terlebih dahulu
Bogor, 1 Juni 2009
Wakil Rektor
Bidang Akademik dan Kemahasiswaan
Prof. Dr. Ir. Yonny Koesmaryono, MS
NIP. 131 473 999

Sumber: http://ipb.ac.id





BEBERAPA ALGORITMA UNTUK PENENTUAN KLOROFIL DI PERAIRAN UNTUK SENSOR MODIS

8 01 2010

Oleh: Andhika P. Prasetyo
Berdasarkan tugas laporan PJJK Mayor TEK

Sebelum membahas menganai algoritma untuk mengetahui konentrasi korofil, maka sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu mengenai klasifikasi perairan berdasarkan pembentuk warna perairan. Berdasarkan materi pembentuk warna perairan, maka perairan dibagi menjadi dua (case), yakni (Susilo dan Gaol, 2008):

1)      Case I, merupakan daerah perairan lepas pantai, komponen utama yang mempengaruhi sifat optik/biooptik air laut adalah pigmen-pigmen fitoplankton (khusunya klorofil-a);

2)      Case II, merupakan daerah pesisir, maka sifat optik ait laut kemungkinan besar disominasi oleh bahan sedimen (suspended material) dan material organik (yellow substances).

Gambar ?  Konsep perairan Case-1 dan Case-2 (IOCCG, 2000)

Ada beberapa algoritma yang umum digunakan untuk mengektrak nilai klorofil perairan dari citra satelit, dalam hal ini citra satelit MODIS. Algoritma tersebut antara lain:

1. Algoritma Carder, 1999

Algoritma OC3M termasuk algoritma semianalitik (semianalytic algorithm), yaitu algoritma yang mengkombinasikan model teoritis dari Rrs yang bergantung pada hamburan-balik (backscatter) dan penyerapan (absorpsi) dengan formula empirik yang menjelaskan hamburan-balik (backscatter) dan penyerapan (absorpsi) bergantung pada CDOM dan pigmen fitoplankton. Algoritma Carder menggunakan bentuk dari rasio Rrs, dimana Rrs (λ) dikembangkan untuk melihat kontribusi hamburan dan penyerapan dari daerah pemilihan yang berbeda. Berikut adalah persamaan dari algoritma Carder:

Dalam algoritma Carder, absorpsi dibagi tiga yakni kontribusi dari air laut jernih (aw), fitoplankton (aΦ) dan CDOM (aCDOM); banckscatter (hamburan-balik) dibagi menjadi dua, yakni  kontribusi dari air laut jernih (bbw), partikel(bbp) dan CDOM (bCDOM) . Carder et al. (1999) menunjukkan bahwa distribusi ukuran partikel bervariasi berdasarkan musim dan daerah, menjadi semakin besar jika berdekatan dengan mulut sungai utama.

Algoritma semianalitik memiliki dua input tambahan, yakni SST (Se Surface Temperature) dan NDT (Nitrate Depletion Temperature). Menurut Carder et al. (1999) NDT adalah suhu dekat permukaan yang mana nitrat di permukaan tidak dapat lai dideteksi. Saat SST melebihi NDT, maka perairan akan miskin nutrien da ini ditandai dengan pertumuhan cell fitoplankton yang kecil dengan pigmen yang tidak terbungkus, begitu pula sebaliknya. Hubungan antara SST dan NDT digunakan untuk mengklasifikasikan lautan kedalam tiga region bio-optik: (1) region hangat termasuk tropis, subtropis dan perairan musim panas dengan klorofil yang tidak terbungkus pada setiap cell (unpackaged); (2) region transisi; (3) region dingin, terdiri dari lintang tinggi dan daerah upwelling dimana fitoplankton yang terdiri dari diatom yang tumbuh cepat dengan klorofil yang terbungkus (packaged).Untuk daerah rendah dan khususnya lintang tinggi, klasifikasi ini menyedikan koreksi yang penting untuk estimasi empirik kandungan klorofil (Martin, 2004).

Dari klasifikasi SST dan NDT, serta perbedaan regional dari properti daerah pemilihan hamburan dan penyerapan, lautan dibagi ke dalam daerah geografis yang berbeda. Untuk mengukura Rrs, konsentrasi pemilihan dari masing-masing daerah dijelaskan dengan multi persamaan dan multi ketidaktahuan. Input terrnasuk MODIS-derived SST,  NDT regional  dan radiasi dari 412, 443, 488, 531 dan 551 nm; keluaran yang dihasilkan termasuk konsentrasi klorofil-a, penyerapan radiasi (absorbed radiation) oleh fitoplankton (ARP), 400-nm penyerapan CDOM aCDOM (400) dan 675-nm penyerapan fitoplankton aΦ (675). Untuk kedua terakhir, ada formula untuk memperbesar aCDOM dan aΦ berseberangan keseluruhan spektrum visible. Total daerah ini adalah total absorpsi aT (λ), sehingga radiasi visibel yang diserap di kolom perairan dapat diturunkan. Variasi komponen dari absorpsi selanjutnya dapat diubah menjadi konsentrasi hasil dari fitoplankton dan CDOM (Martin, 2004).

Cara kerja algoritma Carder adalah memasukan nilai Rrs(λ) sistem pemrosesan data MODIS ke dalama model, inversi model, kemudisn menghitung (estimasi) konsentrasi klorofil-a. Jika algoritma Carde tersebut tidak menghasilkan nilai terhadap aΦ (675) yang berarti Rrs (412) rendah pada perairan eutrophic, maka Carder et al. (1999) menggunakan persamaan berikut untuk menghitung konsentrasi klorofil:

Dimana r35 = Rrs (488) / Rrs (551), c0, c1, c2, dan c3 merupakan konstanta yang diturunkan secara empirik. Bilamana algoritma Carder menghasilkan nilai aΦ (675) diantara 0,015 – 0,03/m, maka konsentrasi klorofil-a dihitung dengan formula berikut:

Dimana [CHL]sa merupakan nilai yang diturunkan secara empirik dan [CHL]sa merupakan nilai yang diturunkan secara empirik dengan faktor pemberat w = [0,03 - aΦ (675] / 0,015.

Algoritma Carder cocok untuk mengektrak konsentrasi klorofil perairan Case II dari citra MODIS, karena algoritma Carder mempertimbangkan perbedaan lokasi pengambilan data. Berdasarakan penelitian Smyth (2002) yang membandingkan konsentrasi klorofil berdasarkan  data in situ dan algoritma OC4 dan Carder menunjukkan algoritma Carder memberikan model yang paling akurat dalam memperkirakan konsentrasi klorofil. Dimana algoritma Carder menunjukkan nilai yang lebih dekat pengukuran in situ untuk nilai konsentrasi klorofil tertinggi (> 1 mg/m3) dan terendah (<1 mg/m3).

2. Algoritma OC4v4 (Ocean Chlorophyll 4-bands)

Algoritma OC3M termasuk algoritma empirik (emphirical algorithm). Algoritma OC4v4 merupakan hubungan antara rasio band dan klorofil menggunaka fungsi polinomial, tetapi algoritma ini berbasaikan rasio band maksimum yang didefinisikan sebagai rasio tertinggi (Rmax) anatra Rrs(443)/Rrs(555)Rrs(490)/Rrs(555), dan Rrs(510)/Rrs(555) kedalam persamaan dengan ordo 4. Dimana nilai R adalah log10 (Rmax). Berikut adalah persamaan dari algoritma OC4v4 dimana CHL adalah konsentrasi klorofil:

dimana R = Rmax

Namun dalam pengaplikasiannya hasil perhitungan klorofil dengan menggunakan algoritma OC4v4 sering kali lebih dari (overestimating) dengan hasil pengukuran in situ Chl-a (Kampel et al, 2009). Berdasarkan studi yang dilakukan Martin (2004) menunjukkan bahwa meninkannya nilai Rrs maka nilai Klorofil akan menurut. Diduga untuk nilai klorofil yang rendah, rasio-443 yang mendominasi, untuk nilai klorofil sedang rasio-490 yang mendominasi, sedangkan untuk nilai klorofil yang besar maka rasio-510 yang mendominasi. Selain itu beberapa studi menyebutkan algoritma OC4v4 dianggap gagal dalam  menentukan konsentrasi klorofil untuk perairan Case II (perairan yang dipengaruhi material organik dan padatan tersuspensi).

3. Algoritma OC3M (Ocean Chlorophyll 3-bands)

Algoritma OC3M termasuk algoritma empirik (emphirical algorithm). Algoritma OC3M merupakan hubungan antara rasio band dan klorofil menggunaka fungsi polinomial, tetapi algoritma ini berbasaikan rasio band maksimum yang didefinisikan sebagai rasio tertinggi (Rmax) anatra Rrs(443)/Rrs(550),  dan Rrs(490)/Rrs(550) kedalam persamaan dengan ordo 4. Dimana nilai R adalah log10 (Rmax). Berikut adalah persamaan dari algoritma OC3M dimana C adalah konsentrasi klorofil:

dimana R = Rmax

Namun dalam pengaplikasiannya hasil perhitungan klorofil dengan menggunakan algoritma OC3M sering kali lebih dari (overestimating) dengan hasil pengukuran in situ Chl-a (Weghorst, 2008). Selain itu algoritma OC3M juga kurang dari (underestimating) hasil pengukuran in situ Chl-a untuk konsentrasi di bawah 1 mg/m-3 dan berlebih (overestimating) untuk nilai yang lebh besar lagi (Martin, 2004). Selain itu beberapa studi menyebutkan algoritma OC3M dianggap gagal dalam  menentukan konsentrasi klorofil untuk perairan Case II (perairan yang dipengaruhi material organik dan padatan tersuspensi).

SUMBER:

Carder, K.L., Chen, F.R., Lee, Z., Hawes, S.K., and Kamykowski, J. 1999.  Semianalytic Moderate-Resolution Imaging Spectrometer algorithms for chlorophyll a and absorption with bio-optical domains based on nitrate-depletion temperatures.  Journal of Geophysical Research.  104 (C3):5403-5421.

Guneroglu, Abdulaziz et al. 2002. Maping and Comparison of Different Sensors’ Geophysical Products in the Eastern Black Sea Region. Karadeniz Technical University, Geodesy and Photogrametry Department, 61080 Trabzon, Turkey.

Kampel, Milton et al. 2009. Simultaneous Measurements of Chlorophyll Concentration by Lidar, Fluorometry, above-Water Radiometry, and Ocean Color MODIS Images in the Southwestern Atlantic. Sensors 2009, 9, 528-541; doi:10.3390/s90100528.

Martin, Seelye . 2004. An introduction to ocean remote sensing. USA: Cambridge University Press. 426 pages.

Susilo, S. B. dan J. L. Gaol. 2008. Dasar-Dasar Penginderaan Jauh Kelautan. Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Weghorst, Pamela L.2008. Modis Algorithm Assessment And Principal Component Analysis Of Chlorophyll Concentration In Lake Erie. Thesis [Not Publish]. Kent State University.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.