Pengawetan Benang dan Jaring

4 01 2010

Klust (1983a) menjelaskan bahwa tujuan dari pengawetan adalah untuk meningkatkan ketahanan benang dan jaring terhadap pembusukan. Sejumlah metode pengawetan telah dikembangkan oleh nelayan, lembaga penelitian perikanan, industri kimia, dan industri tekstil. Metode yang digunakan nelayan umumnya adalah penggunaan ter batu bara, ter kayu atau karbon, dengan atau tanpa dicampur dengan minyak tanah atau benzene. Metode lain adalah penyamakkan dengan ekstrak kulit kayu pohon. Penggunaan persenyawaan metalik, seperti potasium bichromate, copper naphtenate, copper sulphate, coprous, oxide (seperti testalin) diperkenalkan oleh lembaga-lembaga penelitian perikanan dan industri kimia. Dari aneka macam metode pengawetan, 2 metode yang sangat efisien adalah 1) metode testalin dan 2) metode tannin + potassium bichromate.

1) Metode testalin

Pertama-tama benang dan jaring didihkan selama 30 menit dalam larutan yang mengandung 2% tannin (catechu atau ekstrak mangrove) dengan tambahan 1% coprous oxide (testalin). Setelah jaring dikeringkan perlakuan diulangi dengan menambah 2% tannin, tetapi tanpa testalin. Sebagai tambahan, ketika masih basah jaring dimasukkan ke dalam carbolineum.

2) Metode tannin + potassium bichromate

Mula-mula benang dan jaring direbus selam 30 menit dalam larutan 2% tannin. Setelah dikeringkan, jaring diletakkan ke dalam larutan 3% potassium bichromate selama 1 jam. Setelah dibilas dengan air, jaring dikeringkan. Proses ini dulangi lagi dengan larutan 2% tannin. Jika benang dan jaring dimasukkan kembali ke dalam larutan carbolineumthree-bath-method”, maka akan diperoleh hasil pengawetan terbaik.

Pengaruh pengawetan yang dilakukan dengan menggunakan berbagai metode pengawetan sangat dipengaruhi oleh kohesi antara bahan pengawet dan serat. Ter dan carbolineum tidak dapat melapisi permukaan benang dan jaring secara rapat, tetapi tetap menyisakan celah. Penggunaan kedua bahan pengawet tersebut kurang efektif jika dibandingkan dengan kedua metode di atas. Kedua metode akan menyebabkan bakteri tidak dapat menembus kulit luar serat. Keuntungan lainnya, zat pengawet yang digunakan oleh kedua metode tersebut tidak mudah dibersihkan dengan air. Benang kapas yang diawetkan dengan kedua metode ini akan memiliki daya tahan yang tinggi terhadap pembusukan (Klust, 1983a).





Unsur Cuaca yang Mempengaruhi Ketahanan Benang dan Jaring

4 01 2010

Saat alat tangkap dioperasikan atau  tidak sedang dioperasikan alat tangkap tetap akan terpengaruh  oleh unsur-unsur cuaca. Unsur-unsur cuaca tesebut akan mempengaruhi daya tahan benang dan jaring (Klust, 1983a). Unsur-unsur cuaca yang berpengaruh terhadap daya tahan benang dan jaring adalah:

a. Intensitas Radiasi Matahari

Menurut Turyanti et al.(2006) intensitas radiasi matahari (emittance) ialah kerapatan aliran energi cahaya yang dipancarkan oleh suatu benda atau permukaan. Satuan yang digunakan adalah W.m-2.

Cahaya sendiri didefinisikan sebagai radiasi elektromagnetik yang dapat ditangkap mata manusia, tetapi pada buku ini yang dimaksud dengan cahaya akan pula mencakup radiasi elektromagnetik pada kisaran panjang gelombang yang tidak dapat ditangkap mata manunsia, yakni mencakup cahaya inframerah dan ultraviolet (Lakitan, 1994).

Sehubungan  dengan sifat fisika cahaya, maka ada beberapa hal yang harus diingat kembali, yaitu:

  1. Berkas cahaya terdiri dari beberapa komponen dengan panjang gelombang yang berbeda, sebagaimana didemonstrasikan oleh Newton tahun 1966 dengan menggunakan prisma.
  2. Cahaya bergerak lebih lambat pada media yang lebih rapat dibanding pada media yang lebih renggang. Sebagai contoh cahaya bergerak lebih lambat di dalam air dibandingkan pada udara.
  3. Cahaya dapat pula dipandang sebagai kumpulan paket diskrit (kuanta) dimana masing-masing memiliki energi yang spesifik.

Intensitas penyinaran dapat diukur dengan 3 jenis alat yang umum digunakan, yaitu fotometer, quantum meter, dan radiometer.

b. Lama Penyinaran

Pada saat bumi mengelilingi  matahari, posisi sumbu bumi tidak selalu tegak lurus terhadap garis hubung antara inti bumi dengan inti matahari. Garis hubung antara inti bumi dengan inti matahari pararel dengan radiasi matahari. Sudut yang terbentuk bervariasi sekitar 90 ± 23,5°C. Variasi dari sudut yang terbentuk ini menyebabkan garis edar matahari secara teratur bergeser ke belahan bumi utara ke belahan bumi selatan (Lakitan, 1994).

Pergeseran garis edar matahari ini menyebabkan perubahan panjang hari (lama penyinaran) yang diterima pada lokasi-lokasi di permukaan bumi. Perubahan panjang hari tidak begitu besar pada daerah tropis yang dekat dengan garis ekuator. Untuk lokasi-lokasi di belahan bumi utara (BBU), lama penyinaran yang panjang (> 12 jam) akan terjadi saat garis edar matahari berada antara garis ekuator dengan garis lintang 23,5°LU. Lama penyinaran pendek (<12 jam), terjadi pada saat garis edar matahari di belahan bumi selatan (BBS) (Turyanti et al., 2006).

Lama penyinaran dapat diukur dengan alat yang diberi nama Campbell-Stokes.  Prinsip kerja alat tesebut adalah mengukur lama penyinaran berdasarkan kertas grafik khusus yang terbakar akibat fokus penyinaran oleh bola kristal jernih (Turyanti et al., 2006).

c. Hujan

Hujan merupakan satu bentuk presipitasi, atau turunan cairan dari angkasa, seperti salju, hujan es, embun, dan kabut. Hujan terbentuk apabila titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Tidak semua air hujan sampai ke permukaan bumi, sebagian menguap ketika jatuh melalui udara kering, sejenis presipitasi tersebut yang dikenali sebagai virga (Turyanti et al., 2006).

Hujan memainkan peranan penting dalam kitaran hydrologik dimana kelembaban dari laut menguap, bertukar menjadi awan, terkumpul menjadi awan, lalu turun kembali ke bumi, dan akhirnya kembali ke laut melalui sungai dan anak sungai untuk mengulangi daur ulang itu semula (Turyanti et al., 2006).

Jumlah air hujan diukur menggunakan pengukur hujan. Data tersebut dinyatakan sebagai kedalaman air yang terkumpul pada permukaan rata, dan diukur kurang lebih 0,25 mm. Biasanya hujan memiliki kadar asam pH 6. Hujan di bawah pH 5,6, dianggap hujan asam (Turyanti et al., 2006).

d. Angin

Angin  merupakan efek dari gradien tekanan, gaya Coriolis, gaya apung, dan gaya friksi. Ketika perbedaan tekanan terjadi antara dua massa udara yang berdekatan, udara akan bergerak dari daerah dengan tekanan tinggi menuju daerah bertekanan rendah. Akibat rotasi planet, aliran akan dipengaruhi oleh gaya Coriolis, di daerah yang cukup jauh dari equator dan cukup tinggi dari permukaan. Secara luas yang mempengaruhi pergerakan global angin ialah perbedaan kalor antara equator dan kutub (perbedaan penyerapan dari energi matahari antara kedua zona iklim) dan rotasi dari bumi (Turyanti et al., 2006).

Campbell (1986) menyebutkan bahwa ada tiga sifat angin yang dapat dirasakan secara langsung oleh orang awam, yakni: (1) angin mennyebabkan tekanan terhadap permukaan yang menentang arah angin tersebut, (2) angin mempercepat pendinginan dari benda panas; dan (3) kecepatan angin sangat beragam dari tempat ke tempat dari waktu ke waktu.

e. Kelembaban (humidity)

Kelembaban adalah jumlah uap air yang terkandung dalam udara. Istilah kelembaban biasanya digunakan dalam kehidupan sehari-hari berupa kelembaban relatif (Buck, 1970). Menurut Lakitan (1994), data klimatologi untuk kelembaban udara yang umum dilaporkan adalah kelembaban relatif (relative humidity, disingkat RH). Kelembaban relatif adalah perbandingan antara tekanan uap air aktual (yang terukur) dengan tekanan uap air pada kondisi jenuh. Rumus untuk menentukan relative humidity (RH) adalah sbb (Buck, 1970):

Dimana:

ρA : Tekanan uap air aktual;

ρa : Tekanan uap air pada kondisi jenuh.

Selain kelembaban relatif, kelembaban juga ada yang disebut kelembaban absolut. Kelembaban absolut dianalogikan jika semua air dalam satu m3 dikondensasikan ke dalam suatu wadah, wadah tersebut dapat menjadi timbangan kelembaban absolut. Kelembaban absolut memiliki nilai yang berkisar dari 0 gram/m3 saat udara kering hingga 30 gram/m3 saat uap air menjadi jenuh pada suhu 30°C.

Kelembaban relatif sangat penting dalam memperkirakan cuaca. Kelembaban mengindikasikan likelihood dari presipitasi, embun atau kabut (Turyanti et al., 2006).

f. Suhu

Suhu merupakan karakteristik inherent, yang dimiliki oleh suatu benda yang berhubungan dengan panas dan energi. Jika panas dialirkan pada suatu benda, maka suhu benda tersebut akan meningkat; sebaliknya suhu benda akan turun jika benda yang bersangkutan kehilangan panas. Akan tetapi hubungan antara satuan panas (energi) dengan satuan suhu bukan merupakan suatu konstanta, karena besarnya peningkatan suhu akibat penerimaan panas dalam jumlah tertentu akan dipengaruhi oleh daya tampung panas (heat capacity) yang dimiliki oleh benda penerima tersebut (Lakitan, 1994).

Definisi suhu secara objektif adalah ukuran relatif dari kondisi termal yang dimiliki oleh suatu benda. Besarnya suhu diukur dengan menggunakan thermometer. Suhu sendiri memiliki beberapa satuan, seperti Kelvin (°K), Celcius (°C), Fahrenheit (°F), dan Reamur (°R) (Buck, 1970).

Suhu udara akan berfluktuasi dengan nyata selama setiap periode 24 jam. Fluktuasi suhu udara dan suhu tanah berkaitan erat dengan proses pertukaran energi yang berlangsung di atmosfir. Pada siang hari, sebagian dari radiasi matahari akan diserap oleh gas-gas atmosfer dan partikel-partikel padat yang melayang di atmosfer. Serapan energi radiasi matahari ini akan menyebabkan suhu udara meningkat. Suhu udara harian maksimum tercapai beberapa saat seteleh intensitas cahaya maksimum tercapai. Intensitas cahaya maksimum tercapai pada saat berkas caahaya jatuh tegak lurus, yakni pada waktu tengah hari (Lakitan, 1994).

Sebagian radiasi pantulan dari permukaan bumi juga akan diserap oleh gas-gas dan partikel-partikel atmosfer tersebut. Karena kerapatan udara dekat permukaan lebih tinggi dan lebih berkesempatan untuk menyerap radiasi pantulan dari permukaan bumi, maka pada siang hari suhu udara dekat permukaan akan lebih tinggi dibandingkan pada lapisan udara yang lebih tinggi; sebaliknya pada malam hari, terutama pada saat menjelang subuh, suhu udara dekat permukaan menjadi lebih rendah dibandingkan dengan suhu pada lapisan udara yang lebih tinggi (Lakitan, 1994).





Faktor yang Mempengaruhi Kekuatan Benang dan Jaring

4 01 2010

2.3.1 Penggunaan dan Penanganan (Handling)

Menurut Klust (1983b), menjelaskan bahwa alat tangkap yang berbahan dasar benang dan jaring seharusnya terhindar dari penyinaran oleh matahari atau kontak dengan permukaan yang panas secara berlebihan. Batas teratas suhu yang mampu ditolerir oleh serat sintesis adalah 70°C. Selain radiasi matahari, radiasi ultraviolet (UV) juga dapat menyebabkan kerusakan pada alat tangkap. Sehingga untuk mengurangi kerusakan akibat radiasi matahari sebaiknya alat tangkap tersebut dalam kondisi terlindung dari sinar matahari langsung saat penyimpanan (Saravanan, 2007). Kebiasaan nelayan juga berperan penting terhadap kerusakan benang dan jaring. Sebagai contoh  penanganan yang tepat dan penyimpanan pada ruang terlindung sangat baik untuk mengurangi efek kerusakan serat sintetis akibat pengaruh langsung dari radiasi matahari (Warenzeichenverband, 1959 vide Al-Oufi et al., 2004)

Rahardjo (1978) vide Robinson (1982) menjelaskan bahwa alat tangkap yang terbuat dari jaring ketika dioperasikan akan memperoleh gaya-gaya yang dari luar (eksternal force) dan gaya yang berasal dari alat tangkap (internal force). Gaya luar timbul akibat dari pengaruh gelombang, arus, water resistance dan gesekan dengan dasar perairan. Adapun internal force dalam disebabkan oleh berat jaring itu sendiri beserta komponennya. Fridman (1988) menegaskan  bahwa dalam pembuatan alat tangkap yang menggunakan jaring haruslah memperhatikan spesifikasi jaring, seperti ukuran mata, kontruksi benang, dan jenis serat harus dipilih berdasarkan kondisi daerah penangkapan  ikan (DPI) dan jenis ikan yang menjadi target tangkapan (target species).

Untuk menghindari terbelitnya tali, benang, dan jaring, maka perlu penanganan yang baik saat merapihkan, perhatian arah gulungan dan arah pintalan. Arah pintalan yang dimaksud adalah arah pintalan Z atau S (Klust, 1983b).

2.3.2 Air

Serat alami menyerap air sehingga meningkatkan ukuran diameter dan panjang serat. Tali serat alami menjadi kaku, lebih berat serat lebih sulit untuk ditangani. Selama perendaman dalam waktu yang lama serat alami tersebut akan mengalami pembusukan, berkurangannya kekuatan putus dan berkurangnya ketahanan gesekan. Akibatnya serat tersebut akan cepat rusak. Pembusukan serat alami akan mengakibatkan serat tersebut lapuk, apek, dan rapuh. Sedangkan untuk tali yang terbuat dari serat sintesis tidak terpengaruh oleh air, kecuali tali PA yang mungkin mengalami sedikit penurunan breaking strength dan pengerutan jika tidak dikeringkan (Klust, 1983b).

2.3.3 Cahaya, Suhu dan Zat Kimia

Pencahayaan sinar matahari memberikan pengaruh terbesar terhadap pengurangan kekuatan putus (breaking strength) suatu benang dan jaring hingga akhirnya benang dan jaring tersebut rusak. Benang dan jaring seharusnya terlindung dari radiasi matahari ketika digunakan dalam operasi penangkapan atau ketika sedang tidak digunakan. Hal ini penting apalagi alat tersebut dioperasikan di daerah beriklim tropis, dimana radiasi matahari sangat tinggi. Perlindungan dengan pemberian warna (disarankan hitam) atau dengan mengaplikasikan penstabil cahaya (dalam kegiatan manufaktur). Kerusakan juga dapat dikurangi dengan memilih jenis benang dan jaring yang sensitifitasnya kurang (Klust, 1983b).

Penyinaran oleh matahari atau kontak dengan permukaan yang panas secara berlebihan seharusnya dihindari. Batas teratas suhu yang mampu ditolerir oleh PE adalah 40 – 50°C dan 70°C untuk serat lainnya (Klust, 1983b).

Serat alami lebih riskan terhadap zat kimia dibandingkan dengan serat sintesis. Serat alami sangat sensitif terhadap asam. Serat sintesis juga mengalami kerusakan jika terkena zat kimia tertentu (Klust, 1983b).

2.3.4 Fouling

Fouling adalah penutupan oleh organisme hidup, baik hewan maupun tumbuhan pada alat tangkap, kapal, dan bangunan air. Contoh organisme penyebab fouling adalah alga hijau (Chlorophyceae), diatoms (Diatomeae), hydroid polyps (Hydroidea), anemon laut (Actiniaria), polychaetes (Serpulidae), barnacles (Cirripedia), bryozoans (bryozoa), amphipods (Amphipoda), dll. Di seluruh dunia terdapat lebih dari 130 spesies baik tumbuhan maupun hewan air yang dapat menyebabkan fouling. Fouling dapat terjadi karena perubahan kondisi lingkungan perairan tersebut, seperti perubahan kadar nutrisi, dan DO (Disolve Oxygen) perairan tersebut. Dengan adanya fouling maka alat tangkap akan menjadi bertambah beratnya akibat penumpukan organisme pada alat tangkap. Beberapa organisme penyebab fouling menyebabkan kerusakan mekanik dan sulit untuk dibersihkan. Untuk mengurangi fouling maka saat ini digunakan zat kimia untuk mengurangi organisme yang dilapisi pada alat kapal  atau bangunan air, zat kimia tersebut dikenal dengan sebutan anti-fouling (Klust, 1983b).

2.3.5 Ketegangan Berlebih (Overstressing)

Ketegangan berlebih merupakan akibat dari kelebihan muatan, muatan kaget serta pemuatan berlebih yang sering. Akibatnya benang dan jaring akan mengalami kemuluran permanen (permanent elongation), dengan kata lain benang dan jaring tidak mampu untuk kembali ke bentuk dan ukurannya semula. Untuk itu perlu pengujian kapasitas maksimum muatan yang dapat ditahan oleh benang dan jaring, sehingga benang dan jaring tidak mengalami ketegangan berlebih. Kemuluran permanen dapat mengindikasikan keliatan (toughness) suatu benang dan jaring (Klust, 1983b).

2.3.6 Pembelitan (Kinking)

Pada tali-tali utama, resiko terbelit merupakan penyebab kerusakan yang umum terjadi. Pengaruh utama dari terbelitnya benang dan jaring adalah perubahan struktur yang permanen. Saat digunakan benang dan jaring yang terbelit akan mengakibatkan terjadinya tegangan yang berlebih dibandingkan dalam kondisi normal, kondisi ini memungkinkan benang dan jaring terputus. Akibat perubahan struktur maka bagian yang terbelit akan mempunyai ketahanan terhadap gesekan yang rendah. Akhirnya kekuatan putus akan mengalami penurunan. Selain itu tali yang terbelit akan sulit untuk digulung. Penanganan yang dilakukan untuk menghindari terbelitnya tali dan benang dan jaring adalah penanganan yang baik saat merapihkan, perhatian arah gulungan, dan arah pintalan (Z atau S) (Klust, 1983b).

2.3.7 Gesekan (Abrasion)

Gesekan merupakan penyebab lain yang umum terjadi pada benang dan jaring. Gesekan menyebabkan kerusakan pada benang dan jaring. Gesekan pada alat tangkap terjadi umumnya pada alat tangkap yang dioperasikan di dasar perairan atau di karang. Akibat gesekan tersebut, maka benang dan jaring akan terkikis hingga akhirnya breaking strength benang dan jaring tersebut mengalami penurunan (Klust, 1983b).

2.3.8 Umur (Ageing)

Benang dan jaring tidak akan rusak bila digunakan dan disimpan dengan baik, kualitasnya akan tetap terjaga untuk jangka waktu tertentu. Seperti material lain, material serat akan berubah yang berimplikasi terhadap sifat fisik benang dan jaring. Jika dianalogikan proses ini bisa disebut sebagai penuaan (ageing) (Klust, 1983b). Perubahan akibat umur yang terjadi bisa sangat kompleks, seperti perubahan  struktur molekul dari material serat, yang bergantung pada waktu, dan kondisi lingkungan (Klust, 1983b).

Sumber:

Prasetyo, Andhika P. 2009. Kekuatan Putus (Breaking Strength) Benang  dan  Jaring  PA Multifilamen  pada  Penyimpanan  di Ruang  Terbuka  dan Tertutup. Skripsi [tidak dipublikasikan]. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, FPIK-IPB.

Klust, Gerhard. 1983a. Bahan Jaring untuk Alat Penangkapan Ikan. Edisi ke-2. (Penterjemah Team BPPI Semarang). Terjemahan dari  Netting Materials for Fishing Gear. Semarang: BPPI Semarang. 187 hal.

___________. 1983b. Fibre Ropes for Fishing – FAO Fishing Manual. Surrey: Adlard & Son Ltd.

Fridman, A. L. 1988. Calculation for Fishing Gear Design. Cambridge: Fishing News Books Ltd. 237 pp.

Robinson, S. 1982. Pengaruh Tipe Simpul (knot) Nylon Multifilamen terhadap Nilai Knot Strength [Karya ilmiah]. Bogor: Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor. 42 hal.

Saravanan, D. 2007. UV Protection Textile Materials. AUTEX Volume 7/Number 1: pp 53-62. [terhubung tidak berkala]. http://www.autexrj.org. [20 Maret 2009]

Al-Oufi, H., McLean, E., Kumar, A.S., Claereboundt, M. Al-Habsi, M. 2004. The Effects of Solar Radiation Upon Breaking Strength and Elongation of Fishing Nets. Fiheries Research Volume 66: pp 115-119. [terhubung tidak berkala]. http://elsevier.com/locate/fishres. [15 Maret 2009]





Serat Sintetis

4 01 2010

. Polyester (PES)

Serat PES dikembangkan pada tahun 1940 – 1941 oleh J. R. Whinield dan J. T. Dickson dari Inggris. Polyester dihasilkan dari Polikondensasi terephatic acid dan alcohol ethyleneglycol. Hasil dari senyawa kimia dari asam dan alkohol disebut ester sehingga istilah untuk serabut yang dihasilkan menjadi polyester. Pada mulanya serat ini mempunyai nama perdagangan Terylene (Klust, 1983a).

c. Polyethylene (PE)

Serat PE dikembangkan oleh Ziegler (Jerman) pada permulaan tahun 1950. Sebelum tahun 1950 teknik polimerisasi (UK) memerlukan tekanan tinggi sebesar 1.000 atm atau lebih. Setelah 1950 dikembangkan teknik pembuatan PE yang dilakukan dengan tekanan lebih rendah dan dengan katalisator organometal, seperti alumunium alkyl. Serat yang diproduksi dengan teknik ini mempunyai sifat-sifat fisik yang lebih baik. Monomer ethylene sebagai bahan dasar polyethylene secara normal diperoleh dengan petroleum (Klust, 1983a).

Molekul polyethylene dibuat dari proses inisiasi radikal bebas ke bentuk cabang sehingga menjaga molekul yang cocok tetap bersama. Teknik pembuatan PE berkembang dengan penggunaan katalis seperti Cr2O3, dengan begitu dihasilkan molekul PE dengan cabang yang sedikit. Molekul PE dengan rantai lurus yang disatukan akan menghasilkan PE yang transparan, kaku, dan kuat dibandingkan dengan PE dengan densitas rendah (MPC Faculty, 2008). Struktur kimia polyethylene disajikan pada Gambar 4.

Sumber: IDES, 2008 digambar ulang oleh Prasetyo, 2009

Gambar 4 Struktur kimia Polyethylene (PE).

d. Polypropylene (PP)

Dalam pembuatan PP digunakan teknik yang sama dengan pembuatan serat PE. Bedanya adalah jika PE menggunakan monomer ethylene, maka PP menggunakan monomer propylene. Serat PP dikembangkan pada tahun 1954 oleh Natta (Italy). Bahan ini semula dikenal dengan nama perdagangan Meraklon (Klust, 1983a). Struktur kimia polypropylene disajikan pada Gambar 5.

Sumber: ISSS, - digambar ulang oleh Prasetyo, 2009

Gambar 5 Struktur kimia Polypropylene (PP).

Menurut 3D Chem (2007) orientasi relatif dari tiap grup methyl (CH3) relatif terhadap grup methyl pada monomer tetangga. Seperti halnya vinyl polimer lain, PP juga tidak dapat dibuat dengan radikal polimerisasi.

e. Polyvinyl chloride (PVC)

PVC dikembangkan oleh F. Klate dan H. Hubbert (Jerman) dari monomer vinyl chloride. PVC merupakan serat sintesis pertama yang dihasilkan dalam skala industri (1934). Dalam bidang perikanan PVC yang lebih dikenal dengan “Pe Ce” merupakan serat yang pertama kali memperlihatkan sifat yang tahan pembusukan (Klust, 1983a).

3D Chem (2007) menjelaskan bahwa PVC yang diproduksi dengan polimerisasi dari monomer vinyl chloride menggunakan petroleum lebih sedikit. Banyak produk vinyl mengandung zat kimia tambahan yang merubah konsistensi kimiawi produk. Beberapa zat kimia tambahan yang disebut zat aditif dapat meluluhkan produk vinyl. Untuk membuat PVC fleksibel maka ditambahkan zat yang disebut plasticizers. Perkembangan teknologi telah mampu mendaur ulang PVC, proses ini disebut dengan “Vinyloop” yang dikembangkan oleh negara Eropa dan Jepang. Struktur kimia polyvinyl chloride disajikan pada Gambar 6.

Sumber: IDES, 2008 digambar ulang oleh Prasetyo, 2009

Gambar 6 Struktur kimia PVC (Polyvinyl chloride).

f. Polyvinylidene chloride (PVD)

PVD dikembangkan pada tahun 1939 di USA bahan ini dihasilkan dari co-polimerisasi dari campuran vinylidene chloride (sekurang-kurangnya 80%) dan komponen kedua, misalnya vinyl chloride. Dalam komposisi ini PVD dikenal dengan nama Saran. Kelompok lain dari chloro fibre yang diperoleh dengan Co-polimerisasi dikenal dengan nama “Vinyon” (USA) (Klust, 1983a).

g. Polyvinly alkohol (PVA)

PVA merupakan hasil penelitian dari W. O. Hermaun dan W. Haeknel pada tahun 1931. Di Jepang PVA telah berkembang pesat sejak tahun 1938. PVA dikembangkan lagi dengan pemberian tingkat asetilasi yang tinggi agar tidak larut dalam air. Pengembangan PVA tersebut disimbolkan dengan PVAA, contoh produk PVAA adalah Kuralon (Klust, 1983a).

Sumber:

Prasetyo, Andhika P. 2009. Kekuatan Putus (Breaking Strength) Benang  dan  Jaring  PA Multifilamen  pada  Penyimpanan  di Ruang  Terbuka  dan Tertutup. Skripsi [tidak dipublikasikan]. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, FPIK-IPB.

Klust, Gerhard. 1983a. Bahan Jaring untuk Alat Penangkapan Ikan. Edisi ke-2. (Penterjemah Team BPPI Semarang). Terjemahan dari  Netting Materials for Fishing Gear. Semarang: BPPI Semarang. 187 hal.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.