Kekuatan Putus (Breaking Strength) Benang dan Jaring PA Multifilamen pada Kondisi Cuaca dan Perlakuan yang Berbeda

7 10 2009

Oleh: Andhika Prima Prasetyo, S.Pi
Mahasiswa Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, FPIK-IPB

1. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Benang dan jaring polyamide (PA) merupakan salah satu jenis benang dan jaring yang umum digunakan di bidang perikanan (Klust, 1983; Nielsen dan Jhonson, 1992 vide Al-Oufi, 2004). Menurut Molin (1959) vide Thomas dan Hridayathan (2006) serat polyamide memiliki kelemahan dalam penggunaannya dibidang perikanan, yakni memiliki sensitifitas yang relatif tinggi terhadap sinar ultraviolet (UV). Kekuatan putus (breaking strength) umum digunakan untuk mengukur ketahanan suatu serat sintetis (Egerton dan Shah, 1968 vide Thomas dan Hridayathan, 2006). Semakin cepat penurunan kekuatan putus, maka akan meningkatkan biaya untuk perbaikan dan pembelian. Sehingga sangat terkait dengan kelanjutan usaha (Thomas dan Hridayathan, 2006). Weathering (pencuacaan) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penurunan kekuatan putus benang dan jaring. Faktor cuaca yang paling dominan adalah radiasi matahari (Klust, 1983). Fakta di lapangan menunjukkan nelayan Indonesia memiliki kebiasaan menjemur alat tangkap khususnya yang berbahan dasar benang dan jaring di bawah sinar matahari langsung tanpa pelindung, baik setelah operasi penangkapan atau pada saat tidak beroperasi (Thomas dan Hridayathan, 2006). Ter umum digunakan untuk melindungi alat tangkap dari kerusakan akibat penjemuran. Selain perendaman pada ter, di atas  kapal alat tangkap sering terkena solar atau oli. Penelitian ini mencoba untuk mengkuantifikasikan pengaruh lokasi penyimpanan (tertutup dan terbuka), cairan perendam (solar, oli dan ter) serta lama waktu pengamatan terhadap penurunan nilai kekuatan putus benang dan jaring. Hingga diketahui bagimana penanganan (handling) yang baik untuk menjaga ketahanan alat tangkap.

1.2  Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah:

(1)   Menentukan perbandingan kekuatan putus benang dan jaring antara benang dan jaring yang mengalami penjemuran dan tanpa penjemuran;

(2)   Menentukan pengaruh lama penjemuran terhadap kekuatan putus benang dan jaring; serta

(3)   Menentukan kekuatan putus benang dan jaring pada perlakuan dan lama penjemuran yang berbeda pada bahan benang dan jaring yang terkena aspal, oli dan solar.

1.3  Manfaat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi nelayan untuk memperbaiki tata cara penanganan jaring yang baik sehingga diharapkan dapat memperbaiki kekuatan jaring.

2. METODOLOGI

2.1  Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2008 sampai dengan Januari 2009. Pelaksanaan penelitian ini berlokasi di Stasiun Klimatologi Darmaga Bogor dan Bagian Teknologi Alat Penangkapan Ikan, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan – Institut Pertanian Bogor.

2.2  Bahan dan Alat Penelitian

Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini meliputi benang PA multifilamen 210D/6, jaring PA multifilamen 210D/6 ◊ ¾ inchi, ter, thinner, oli, solar, gunting, alat tulis, panel dan toples.

2.3  Metode Penelitian

Metode penelitian ini adalah experimental laboratory (penelitian pada skala laboratorium). Pengumpulan data kekuatan putus dan unsur cuaca dilakukan setiap bulan. Panjang 1 sampel benang adalah 20 cm, sedangkan jumlah mata jaring yang digunakan adalah 3 x 3 mata. Sebelum diletakkan di ruang penyimpanan (terbuka dan tertutup), benang dan jaring terlebih dahulu direndam pada cairan solar, oli dan ter selama 48 jam agar cairan menyerap ke dalam serat. Selanjutnya untuk penyimpanan di ruang terbuka benang dan jaring dipasangkan pada panel yang berukuran P x L (200 cm x 50 cm) tanpa tegangan (tension). Adapun untuk penyimpanan di ruang tertutup, benang dan jaring diletakkan di dalam ruang tertutup dan dihamparkan di lantai yang beralas. Selanjutnya setiap bulan benang dan jaring diuji kekuatan putusnya dengan mesin Breaking Strength Tester merek Shimadzu AUTOGRAPH AGS-D series. Setiap perlakuan dilakukan 10 kali ulangan. Data unsur-unsur cuaca (intensitas radiasi matahari, curah hujan, suhu, kelembaban, dll) tercatat selama periode penelitian. Jumlah ulangan yang digunakan adalah 10 buah untuk satu perlakuan.

2.4  Analisis Data

Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak faktorial (RAF) dengan taraf uji (α = 0,05), dengan lokasi penyimpanan, cairan perendam dan waktu pengamatan sebagai faktor. Selanjutnya dilakukan uji lanjutan jika hasil ANOVA menunjukkan ada pengaruh (P < 0,05) dengan uji lanjutan BNT (Beda Nyata Terkecil). Keputusan berbeda secara nyata diambil jika P-value < 0,05. Adapun untuk melihat perubahan kekuatan putus terhadap waktu pengamatan digunakan analisis regresi linear. Aplikasi yang digunakan untuk membantu dalam analisi adalah  Microsoft Excel 2007 dan SPSS 12.

3. HASIL PENELITIAN

3.1  Kondisi Umum Cuaca saat Penelitian

Kondisi cuaca selama periode penelitian, yakni bulan Mei 2008 – Januari 2009. Benang dan jaring polyamide disimpan untuk waktu pengamatan 6 bulan (185 hari). Unsur cuaca yang diduga mempengaruhi kekuatan putus benang dan jaring adalah intensitas radiasi matahari, curah hujan, suhu dan kelembaban. Intensitas tertinggi terjadi pada bulan September 2008 yakni sebesar 9526 cal/cm2, sedangkan terendah terjadi pada bulan Januari 2009, yakni sebesar 6299 cal/cm2. Adapun curah hujan tertinggi terjadi pada bulan November 2008 yakni sebesar 509 mm, sedangkan terendah terjadi pada bulan Juni 2008 yakni sebesar 171,5 mm. Selanjutnya suhu tertinggi terjadi pada bulan September 2008 yakni sebesar 25,94°C, sedangkan terendah terjadi pada bulan Juli 2008 yakni sebesar 25,03°C. Selanjutnya Kelembaban tertinggi terjadi pada bulan Januari yakni sebesar 87,97%, sedangkan terendah terjadi pada bulan Juli yakni sebesar 77,45%. Grafik unsur cuaca Mei 2008 – Januari 2009 disajikan pada Gambar 1.

[GAMBAR]

Keterangan: (a) Total intensitas radiasi matahari bulanan; (b) Total curah hujan bulanan; (c) Suhu rata-rata, suhu maksimum dan suhu minimum bulanan; (d) Rata-rata kelembaban bulanan

Sumber: Stasiun Klimatologi Darmaga Bogor, 2009

Gambar 1 Kondisi cuaca saat penelitian.

3.2 Perbandingan Pengaruh antara Cairan Perendam terhadap Kekuatan Putus Jaring dan Benang Polyamide pada Penyimpanan Ruang Tertutup

Hasil analisis ragam (ANOVA) dengan taraf uji sebesar 5% (α = 5%) untuk jaring polyamide menunjukkan bahwa interaksi antara cairan perendam dan waktu pengamatan berpengaruh terhadap nilai kekuatan putus (breaking strength) jaring polyamide pada ruang tertutup (P < 0,05). Kekuatan putus jaring polyamide semakin menurun pada perlakuan cairan perendam per satuan waktu. Hasil uji lanjutan BNT menunjukkan bahwa nilai kekuatan putus jaring polyamide berbeda nyata untuk jaring yang diberi pelakuan cairan perendam solar, oli dan ter terhadap jaring kontrol (P < 0,05). Kekuatan putus jaring polyamide pada ruang tertutup disajikan pada Gambar 2. Hasil analisis regresi antara kekuatan putus (Y) jaring polyamide terhadap waktu pengamatan (X) diperoleh persamaan:

[GAMBAR]

Gambar 2 Kekuatan putus jaring polyamide pada ruang tertutup.

Adapun hasil analisis ragam (ANOVA) dengan taraf uji sebesar 5% (α = 5%) untuk benang polyamide menunjukkan bahwa interaksi antara cairan perendam dan waktu pengamatan berpengaruh terhadap nilai kekuatan putus (breaking strength) benang polyamide pada ruang tertutup (P < 0,05). Kekuatan putus benang polyamide semakin menurun pada perlakuan cairan perendam per satuan waktu. Hasil uji lanjutan BNT menunjukkan bahwa nilai kekuatan putus benang polyamide berbeda nyata terhadap benang kontrol untuk benang yang diberi pelakuan cairan perendam oli dan ter (P < 0,05). Kekuatan putus benang polyamide pada ruang tertutup disajikan pada Gambar 3. Hasil analisis regresi antara kekuatan putus (Y) benang polyamide terhadap waktu pengamatan (X) diperoleh persamaan:

[GAMBAR]

Gambar 3 Kekuatan putus benang polyamide pada ruang tertutup.

3.2 Perbandingan Pengaruh antara Cairan Perendam terhadap Kekuatan Putus Jaring dan Benang Polyamide pada Penyimpanan Ruang Terbuka

Hasil analisis ragam (ANOVA) dengan taraf uji sebesar 5% (α = 5%) untuk jaring polyamide menunjukkan bahwa interaksi antara cairan perendam dan waktu pengamatan berpengaruh terhadap nilai kekuatan putus (breaking strength) jaring polyamide pada ruang terbuka (P < 0,05). Kekuatan putus jaring polyamide semakin menurun pada perlakuan cairan perendam per satuan waktu. Hasil uji lanjutan BNT menunjukkan bahwa nilai kekuatan putus jaring polyamide hanya berbeda nyata untuk jaring yang diberi pelakuan cairan perendam solar terhadap jaring kontrol (P < 0,05). Kekuatan putus jaring polyamide pada ruang terbuka disajikan pada Gambar 4. Hasil analisis regresi antara kekuatan putus (Y) jaring polyamide terhadap waktu pengamatan (X) diperoleh persamaan:

[GAMBAR]

Gambar 4 Kekuatan putus jaring polyamide pada ruang terbuka.

Adapun hasil analisis ragam (ANOVA) dengan taraf uji sebesar 5% (α = 5%) untuk benang polyamide menunjukkan bahwa interaksi antara cairan perendam dan waktu pengamatan berpengaruh terhadap nilai kekuatan putus (breaking strength) benang polyamide pada ruang terbuka (P < 0,05). Dimana kekuatan putus benang polyamide semakin menurun pada perlakuan cairan perendam per satuan waktu. Hasil uji lanjutan BNT menunjukkan bahwa nilai kekuatan putus benang polyamide berbeda nyata untuk benang yang direndam pada solar, oli dan ter terhadap jaring kontrol  (P < 0,05). Kekuatan putus benang polyamide pada ruang terbuka disajikan pada Gambar 5. Hasil analisis regresi antara kekuatan putus (Y) benang polyamide terhadap waktu pengamatan (X) diperoleh persamaan:

[GAMBAR]

Gambar 5 Kekuatan putus benang polyamide pada ruang terbuka.

3.3 Perbandingan Pengaruh antara Ruang Penyimpanan terhadap Kekuatan Putus Benang dan Jaring Polyamide

Berdasarkan hasil analisis ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa interaksi antara faktor ruang penyimpanan, cairan perendam dan waktu pengamatan berpengaruh terhadap penurunan nilai kekuatan putus (breaking strength) jaring polyamide (P < 0,05). Jaring polyamide yang disimpan pada ruang terbuka secara signifikan mempunyai kekuatan putus yang lebih rendah dibandingkan dengan jaring yang disimpan di ruang tertutup  (P < 0,05). Hasil uji lanjutan BNT juga menunjukkan bahwa kekuatan putus jaring yang direndam pada solar, oli dan ter tidak berbeda secara nyata (P > 0,05) terhadap jaring kontrol. Selanjutnya dilakukan analisis regresi antara selisih nilai kekuatan putus jaring yang disimpan pada ruang tertutup dan ruang terbuka, sehingga diperoleh persamaan:

[GAMBAR]

Gambar 6 Analisis regresi selisih kekuatan putus jaring polyamide.

Berdasarkan hasil analisis ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa interaksi antara faktor ruang penyimpanan, cairan perendam dan waktu pengamatan berpengaruh terhadap penurunan nilai kekuatan putus (breaking strength) benang polyamide (P < 0,05). Benang polyamide yang disimpan pada ruang terbuka secara signifikan mempunyai kekuatan putus yang lebih rendah dibandingkan dengan benang yang disimpan di ruang tertutup  (P < 0,05). Hasil uji lanjutan BNT juga menunjukkan bahwa kekuatan putus benang yang direndam pada solar, oli dan ter berbeda secara nyata (P < 0,05) terhadap benang kontrol. Selanjutnya dilakukan analisis regresi antara selisih nilai kekuatan putus benang yang disimpan pada ruang tertutup dan ruang terbuka, sehingga diperoleh persamaan:

[GAMBAR]

Gambar 6 Analisis regresi selisih kekuatan putus benang polyamide.

4. PEMBAHASAN

Secara umum jika dibandingkan pengaruh cairan perendam (solar, oli dan ter) terhadap kekuatan putus benang dan jaring polyamide kontrol (tanpa perendam) yang disimpan pada ruang tertutup menunjukkan bahwa perendam berupa ter memberikan pengaruh terbaik dalam mengurangi laju kerusakan akibat umur. Karena prosentase perubahan kekuatan putus benang dan jaring polyamide yang sebelumnya direndam pada ter memiliki nilai terendah dibandingkan benang dan jaring dengan perendam lain. Jika dibandingkan antara ter dengan oli, ter bersifat lebih kental dan ikatan antara molekulnya relatif kuat (Giwangkara, 2007). Namun karena titik bekunya tinggi, sehingga ter lebih cepat kering dibandingkan dengan oli. Adapun solar memiliki viskositas yang lebih rendah dibandingkan dengan ter (Giwangkara, 2007), sehingga solar lebih mudah menguap. Selain itu baik oli maupun solar tidak mengisi rongga pada serat secara konsisten, karena keduanya memiliki titik beku yang lebih rendah dibandingkan dengan ter.

Menurut Warenzeichenverband (1959) vide Al-Oufi et al. (2004) penggunaan ter untuk serat sintetis tidak hanya meningkatkan ketahanan terhadap radiasi, tetapi juga meningkatkan kekakuan (stiffness), kecepatan tenggelam (sinking speed), ketahanan gesekan (abrasion resistance) dan stabilitas simpul (knot stability). Kelebihan ter dalam melindungi serat dari kerusakan akibat weathering diduga karena nilai specific gravity dari ter paling besar dibandingkan dengan cairan lain, yakni sebesar ±996 kg/m3 untuk suhu 60°F atau 15,56°C (IOWA Department of Transportation, 2003), sehingga keterikatan molekul ter dan molekul serat menjadi kuat. Hingga akhirnya mampu untuk mengurangi efek weathering. Selaras dengan pendapat Klust (1983) yang menyatakan bahwa fungsi ter adalah meniadakan rongga antar serat.

Kerusakan akibat pengaruh weathering (pencuacaan) terhadap serat sintetis berbeda untuk setiap musim dan lokasi pengamatan yang berbeda (Klust, 1983). Kebiasaan nelayan juga berperan penting terhadap kerusakan benang dan jaring. Sebagai contoh  penanganan yang tepat dan penyimpanan pada ruang terlindung sangat baik untuk mengurangi efek kerusakan serat sintetis akibat pengaruh langsung dari radiasi matahari (Saravanan, 2007; Warenzeichenverband, 1959 vide Al-Oufi et al., 2004). Tingkat pendidikan nelayan yang umumnya rendah membuat pengetahuan nelayan mengenai ketahanan serat sintetis terhadap pelapukan terbatas, sehingga nelayan berpikir bahwa penjemuran akan meningkatkan umur pemakaian alat tangkap (Al-Oufi et al., 2000 vide Al-Oufi et al., 2004).

5. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1  Kesimpulan

(1)     Kekuatan putus benang dan jaring yang tidak mengalami penjemuran lebih tinggi dibandingkan dengan kekuatan putus benang dan jaring yang mengalami penjemuran;

(2)     Lama penjemuran akan berpengaruh secara nyata (P < 0,05) terhadap kekuatan putus benang dan jaring. Bertambahnya waktu penjemuran akan menurunkan kekuatan putus benang dan jaring;

(3)     Perendaman benang dan jaring dengan menggunakan cairan ter menghasilkan nilai kekuatan putus yang lebih baik dibandingkan dengan perendaman dengan menggunakan solar dan oli; serta

(4)     Kekuatan putus jaring PA lebih besar dibandingkan dengan kekuatan putus benang PA.

4.2  Saran

(1)     Penelitian lanjutan mengenai dampak cairan perendam solar, oli dan ter terhadap serat sintetis lain, seperti PE maupun serat alami.

(2)     Penelitian lanjutan mengenai dampak cairan perendam lain, seperti minyak tanah, thiner, cairan lumpur terhadap kekuatan putus serat sintetis dan alami; serta

(3)     Sosialisasi kepada nelayan untuk mengubah kebiasaan menjemur alat tangkap berbahan dasar serat sintetis di terik matahari langsung.

5. DAFTAR PUSTAKA

Al-Oufi, H., McLean, E., Kumar, A.S., Claereboundt, M. Al-Habsi, M. 2004. The Effects of Solar Radiation Upon Breaking Strength and Elongation of Fishing Nets. Fiheries Research Volume 66: pp 115-119. [terhubung tidak berkala]. http://elsevier.com/locate/fishres. [15 Maret 2009]

Thomas, Saly N., Hridayathan, C. 2006. The Effects of Natural Sunlight on the Strength of Polyamide 6 Multifilament and Monofilament Fishing Net Materials. Fiheries Research Volume 81: pp 326-330. [terhubung tidak berkala]. http://elsevier.com/locate/fishres. [15 Maret 2009]

Klust, Gerhard. 1983. Bahan Jaring untuk Alat Penangkapan Ikan. Edisi ke-2. (Penterjemah Team BPPI Semarang). Terjemahan dari  Netting Materials for Fishing Gear. Semarang: BPPI Semarang. 187 hal.

Giwangkara, Eg. 2007. Cara bikin LPG, Bensin, Minyak Tanah, Solar, dll. [terhubung tidak berkala]. http://givangkara.multiply.com/journal/item/50. [30 Februari 2009]

IOWA Department of Transportation. 2003. Method of Determining Specific Gravityof Asphalt Binder. [terhubung tidak berkala]. http://www.iowadot.gov/erl/archives/Apr_2005/IM/content/369.pdf. [2 April 2009]

Saravanan, D. 2007. UV Protection Textile Materials. AUTEX Volume 7/Number 1: pp 53-62. [terhubung tidak berkala]. http://www.autexrj.org. [20 Maret 2009]

About these ads

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: