Selamat datang di Official Blog Saya!!

Berbagi Cinta, Infomasi dan Pengetahuan
Mari kita Berbagi
Selamat datang di Official Blog Saya!!

Berbagi Cinta, Infomasi dan Pengetahuan
Mari kita Berbagi
Cirebon, 27 Juni – 1 Juli 2011
Tim:
Reny Puspitasari
Setiya Tri Haryuni
Andhika Prima Prasetyo
PENDAHULUAN
Cumi-cumi merupakan salah satu sumberdaya ikan yang bernilai ekonomis. Hasil tangkapan Cephalopoda dunia pada thaun 1977 sebesar 1,2 juta ton, meningkat menjadi 2,7 juta ton pada tahun 1992 (Hartati, 1998). Indonesia yang mempunyai wilayah perairan laut seluas sekitar 5,8 juta km2, hasil tangkapan cumi-cumi pada tahun 1995 hanya sekitar 27.575 ton atau 0,8% dari produksi total perikanan Indonesia. Chepalopoda terdiri dari 700 spesies yang telah diketahui hidup tersebar di lapisan permukaan laut, baik di perairan kutub maupun di perairan tropis (Hanlon & Messenger, 1996; Vecchione et al., 2001; Day, 2002). Beberapa Cepahlopoda memiliki nilai komersial dan merupakan salah satu sumberdaya hayati yang penting dalam sector perikanan laut (Roper at al. 1984).
Cephalopoda yang hidup di perairan Indonesia dan teridentifikasi berjumlah sekitar 100 jenis, namun yang memiliki nilai komersial berjumlah sekitar 24 jenis (Djajasasmita et al., 1993). Salah satu jenis cumi-cumi yang tersebar di seluruh pesisir laut Indonesia dan memilki potensi yang cukup besar adalah Sepioteuthis lessoniana (Chikuni, 1983). Cumi-cumi jantan dapat mencapai ukuran panjang mantel 36 cm dengan bobot tubuh 1,8 kg, sedangkan yang betina mampu mencapai ukuran mantel 8-20 cm (Silas et al., 1982 vide Roper et al., 1984).
Potensi sumberdaya perikanan Cirebon menunjukkan kondisi yang memungkinkan untuk dikembangkan. Sumberdaya tersebut didukung pula oleh lokasi daerah yang strategis sebagai jalur perekonomia regional dan nasional. Berdasarkan Peta Komoditi Utama Sektor Primer, dan Pengkajian Peluang Pasar serta Peluang Investasinya di Indonesia (2006) produksi total Kabupaten Cirebon sebesar 19.875 ton. Dimana sentra perikanan di Kabupaten Cirebon terdiri dari 5 lokasi, yaitu: Babakan, Astanajapura, Mundu, Cirebon Utara, Kapetakan. Cirebon adalah salah satu tempat pendaratan ikan pelagis kecil di Utara Jawa yang. Aktifitas perikanan di Kabupaten Cirebon difasilitasi oleh pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kejawanan. Armada penangkapan yang dominan berbasis di PPN Kejawanan adalah pancing cumi yang menggunakan alat bantu lampu. Hasil tangkapan utama nelayan Cirebon ialah ikan kembung dan cumi-cumi. Namun akhir-akhir ini dilaporkan produksi perikanan tangkapan di Kabupaten Cirebon menurun. Hal tersebut disebabkan oleh ombak besar akhir Desember 2010 sampai sekarang, sehingga nelayan tidak berani berlayar jauh (Anonimus, 2011). Oleh karena itu Cirebon dipilih sebagai salah satu lokasi penelitian dalam kegiatan ini.
METODE
Kegiatan survey dilaksanakan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Kejawanan dan tempat pendaratan ikan (TPI) di Kabupaten Cirebon. Survey dilakukan dengan cara melakukan wawancara dan mengambil sample untuk mendapatkan data biologi cumi-cumi. Adapun data yang diperoleh berupa :
1. Data statistik perikanan PPN Kejawanan tahun 2010
2. Data Produksi bulanan peralat tangkap tahun 2005-2010
3. Data jumlah kapal
4. Data produksi perikanan Kabupaten Cirebon tahun 2005-2009
5. Data sampling cumi-cumi
HASIL
Dari hasil pengamatan di tempat-tempat perdaratan ikan, jenis cumi-cumi yang didaratkan di Cirebon terdapat tiga (tiga) jenis, yaitu, Loligo duvaucelli,Loligo chinensi, Loligo vulgaris. Untuk mendapatkan gambaran biologi cumi-cumi ini, dilakukan pengambilan sampel secara acak dari hasil tangkapan jaring apolo yang beroperasi di perairan Cirebon. Hasil pengamatan sampel cumi-cumi ini dapat dilihat seperti terlihat dibawah ini.
Komposisi jenis dan nisbah kelamin
Gambar 1. Komposisi spesies hasil tangkapan dan nisbah kelamin.
Berdasarkan Gambar 1 terlihat bahwa cumi-cumi dengan spesies L. duvaucelli lebih banyak tersampling, kemudian L. Chinensis dan L. Vulagaris. Untuk jenis L. Duvaucelli komposisi jantan dan betina sangat kontras, yakni 84:16. Sedangkan L. Chinensis memiliki rasio kelamin J:B sebesar 71:28. Adapun L. Vulagaris memilik rasio kelamin hampir seimbang, yakni J:B sebesar 63:57.
Gambar 2. Komposisi spesies hasil tangkapan dan tingkat kematangan gonad.
Jika dilihat tingkat kematangan gonad masing-masing spesie cumi-cumi seperti telihat pada Gambar 2. Jenis spesies L. duvaucelli TKG dominan ada pada TKG tingkat 2 (belum matang/40%). Jenis L. Chinensis dominan berada pada kondisi TKG tingkat 2 (belum matang/34%). Sedangkan L. Vulagaris umumnya berada pada kondisi TKG tingkat 2 (belum matang gonad/87%).
Hubungan panjang dan TKG
Sebaran tingkat TKG terhadap panjang untuk jenis L. duvaucelli seperti terlihat pada Gambar 3 menunjukkan ada over-lapping panjang mantel yang sama terhadap tingkat TKG yang berbeda dengan kisaran panjang 4-12 cm). Jenis L. Chinensis ada pergeseran tingkat kematangan gonad terhadappanjang mantel, yakni sebesar 1-3 cm (Gambar 4). Sedangkan hubungan panjang dan TKG untuk jenis L. Vulagaris belum bisa dibahas karena sampling yang masih terlalu sedikit (Gambar 5).
Gambar 3. Hubungan panjang dan TKG Loligo duvaucelli.
Gambar 4. Hubungan panjang berat Loligo chinensis.
Gambar 5. Hubungan panjang berat Loligo vulgaris.
Hubungan panjang-berat
Hasil analisis panjang-berat ketiga jenis cumi-cumi yang berhasil disampling L. Duvaucelli, L. Chinensis dan L. Vulagaris diperoleh nilai a berturut-turut 0,097; 0,358; dan – (belum bisa dianalisis, karena minimnya data). Sedang nilai b diperoleh berturut-turut 2,60; 2,21; dan – (belum bisa dianalisis, karena minimnya data) (Gambar 6, 7 dan 8).
Gambar 6. Hubungan panjang-berat Loligo chinensis.
Gambar 7. Hubungan panjang-berat Loligo duvaucelli.
Gambar 8. Hubungan panjang-berat Loligo vulgaris.
Frekunsi Panjang
Hasil histogram panjang matel ketiga jenis cumi-cumi diketahui bahawa spesies L. Duvaucelli umumnya sampel yang diperoleh berukuran panjang 4-6 cm (Gambar 9). Jenis L. Chinensis memiliki panjang dominan pada ukuran 6-7 cm (Gambar 10). Sedangkan L. Vulagaris memiliki kisaran yang seimbang di masing-mnasing kisaran panjang (perlu penambahan data) (Gambar 11).
Gambar 9. Kisaran panjang Loligo duvaucelli.
Gambar 10. Kisaran panjang Loligo chinensis.
Gambar 11. Kisaran panjang Loligo vulgaris.
PENANGKAPAN
Pemanfaatan sumberdaya cumi-cumi oleh armada penangkapan yang berbasis di Cirebon dilakukan oleh beberapa alat tangkap, yaitu bouke ami (stick held dip net), bagan dan jaring appolo (mini trawl). Walaupun demikian ada juga alat tangkap lain yang berbasisi di PPN Kejawanan, namun tidak menergetkan cumi-cumi yaitu jaring liong bun (gillnet pari dan cucut) serta bubu.
Bouke ami merupakan alat tangkap yang paling dominan memanfaatkan cumi dalam skala besar. Kapal bouke ami di PPN Kejawanan memiliki ukuran kapal dengan kisaran 19-118 GT, dengan lama hari melaut 2-3 bulan tergantung jumlah hasil tangkapan. Bouke ami sendiri termasuk kedalam klasifikasi jaring angkat (lift net) dimana jaring dipasang disatu sisi kapal saja. Dalam operasinya bouke ami menggunakan alat bantu lampu dengan daya 1000-1500 watt sebanyak 24-90 buah. Dalam satu hari dilakukan 5-8 kali setting, dimana lama waktu yang dibutuhkan 1 jam untuk setting dan ½ jam untuk hauling. Dengan waktu tunggu ½ jam. Operasi penangkapan dilakukan pada malam hari mulai dari jam 6 sore hingga jam 5 pagi. Frame jaring yang digunakan berukuran 8-16 meter dengan kedalaman jaring 10-15 m; mesh size 1 inch. Kapal penangkapan dlengkapi dengan palka untuk menyimpan hasil tangkapan sebanyak 8 buah dengan kapasitas 8 ton/palka. Pada perikanan bouke ami hasil tangkapan langsung dikemas diatas kapal, disortir berdasarkan ukuran dan jenis. Umumnya 1 bungkus/pack memiliki berat ±10 Kg.
Gambar ?. Kapal bouke ami.
Gambar ?. Operasi penangkapan bouke ami.
Selain dimanfaatkan oleh bouke ami, cumi-cumi juga tertangkap dengan jaring appolo, nama lokal untuk mini trawl. Namun alat tangkap tersebut tidak berbasis di PPN Kejawanan, namun berbasis di TPI (Tempat Pendaratan Ikan) yang merupakan daerah yang menjadi kewenangan pemerintah kabupaten, yakni di TPI Gebang, Sambung Mulyo dan Karang Reja. Ukuran armada penangkapan appolo didaerah tersebut hampir seragam. Kapal yang digunakan berukuran 8 x 2,8 x 1,5 m (4 GT) dengan dua mesin kapal @ 24 PK berbahan bakar solar diawaki oleh 2-3 ABK. Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk ke daerah penangkapan ialah 4-5 jam dengan lama operasi 2-3 hari. Dalam satu hari dilakukan 4 kali setting. Trawling dilakukan selama 3-4 jam. Menggunakan alat bantu winch yang dihubungkan dengan mesin kapal. Panjang alat tangkap tangkap yang digunakan ±37,5 meter (12 sayap; 18 badan; dan 7,5 buntut). Pelampung yang digunakan berjumlah 6 buah. Jaring ini juga dilangkpi dengan siwakan (otter board) berukuran 50×70 m. Tali selambar yang digunakan sepanjang 60-70 m tergantung kedalamn dasar perairan. Kapal ini memiliki izin resmi berupa garpas (pas kecil).
DAERAH PENANGKAPAN
Berdasarkan hasil wawancara dan data SIPI kapal diperoleh daerah penangkapan armada penangkapan yang berbasisi di PPN Kejawanan dan TPI di Kabupaten. Daerahnya ialah: Laut Jawa; Laut Natuna; Selat Karimata; Selat Makasar; Perairan Laut Utara Jawa; Laut Cina Selatan; Laut Flores serta Laut Timor
Gambar ?. Daerah penangkapan bouke ami yang berbasisi di PPN Kejawanan.
Gambar ?. Daerah penangkapan jaring appolo yang berbasis di TPI di wilayah Kabupaten.
PRODUKSI
Berdasarkan data dari PPN Kejawanan, data produksi cumi-cumi dibedakan dalam tiga sumber, yaitu PPN Kejawanan, perusahaan dan pasar ikan. Produksi cumi-cumi di Cirebon baru ada pada tahun 2004, dimana pada tahun-tahun sebelumnya hasil tangkapan cumi tidak didaratkan di Cirebon melainkan di tempat lain (contohnya muara angke). Hasil tangkapan cumi bukan merupakan hasil tangkapan yang paling besar, produksinya hanya sekitar 21-22 % dari total hasil tangkapan. Kecenderungan produksi di Cirebon mulai meningkat sejak tahun 2004 hingga 2008 yang mencapai ± 850 ton, lalu turun di tahun berikutnya.
Gambar ?. Produksi perikanan berdasarkan sumber informasi.
Adapun produksi cumi-cumi berdasarkan data PPN Kejawanan menunjukkan fluktuasi menurut musim dan kecenderungan meningkat. Produksi cumi-cumi tinggi pada akhir tahun Oktober-Desember setiap tahunnya. Kecenderungan musim penangkapan juga didukung oleh kencederungan aktifitas penangkapan, terlihat bahwa aktifitas kapal keluar tertinggi terjadi saat mendekati bulan oktober. Sedangkan aktifitas kapal rendah pada awal tahun.
Gambar ?. Produksi bulanan cumi-cumi di PPN Kejawanan
Gambar ?. Aktifitas kapal bouke ami.
Sumber:
- Sri Hartini, SP, S.Pi (Kasie. Pengembangan PPN Kejawanan)
- Jajang, S.St.Pi (Staf Syahbandar PPN Kejawanan)
- ABK Kapal Bouke Ami
- Sudarto, S.Pi (Staf Bidang Perikanan Tangkap – Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Cirebon)
- Sobhik, S.St.Pi (Staf Bidang Perikanan Tangkap – Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Cirebon)
- Sunandar (Kepala TPI Gebang)
- Najib (Kepala KUD Karang Reja)
- Karnaji (Kepala KUD Sambung Mulyo)
Lokasi percontohan kawasan minipolitan terdiri dari 41 lokasi yang dibagi menjadi 3 fokus kawasan, yaitu:
- 9 lokasi ikan tangkap
- 24 lokasi ikan budidaya dan
- 8 lokasi pengembangan sentra garam
Berikut adalah 24 lokasi percontohan Minapolitan berbasis ikan budidaya yaitu:
Muoro Jambi (patin), Kampar (patin), Bogor (lele), Banyumas (gurame), Blitar (ikan koi), Gunung Kidul (lele), Morowali (rumput laut), Sumbawa (rumput laut), Sumba Timur (rumput laut), Banjar Kalsel (patin dan nila), Pohuwatu (udang), Boyolai (lele), Klaten (nila), Gresik (udang Vanamae), Serang (rumput laut dan kekerangan(, Maros (udang), Pangkep (udang), Pesawaran (kerapu), Bintan (kerapu), Bangli (rumput laut), Muri Rawas (nila dan mas), Pandeglang (nila dan mas), dan Kapuas (patin).
Lokasi minapolitan ikan tangkap ada sebanyak 9 lokasi yaitu:
Sukabumi (pelabuhan ratu), Cilacap, Pacitan, Banyuwangi, Ternate, Bangka, Bitung, Medan, dan Ambon.
Lokasi minapolitan garam di 8 lokasi yaitu:
Cirebon, Indramayu, Rembang, Pati, Pamekasan, Sampang, Sumenep, dan Nagakeo.
PPN Pengambengan – Bali, 13-18 April 2011
Tim:
Rudy Masuswo Purwoko
Andhika Prima Prasetyo
PENDAHULUAN
Secara umum diakui bahwa sumber utama terjadinya krisis perikanan global adalah buruknya tata kelola pemanfaatan sumberdaya ikan dan rendahnya kepatuhan terhadap implementasi kebijakan pengelolaannya. Eksploitasi berlebihan pada sumber daya perikanan adalah masalah serius yang dihadapi saat ini, berbagai kebijakan pengelolaan ditujukan untuk memperjuangan pemecahan masalah tersebut. Rumusan Seminar Nasional Peringatan Hari Pangan Sedunia 29 (2009) memberi solusi bagi sektor perikanan tangkap adalah mengendalikan perikanan tangkap dalam tingkat yang lestari, pengelolaan konservasi sumberdaya ikan, pemulihan sumberdaya ikan (fish stock enhancement).
Strategi pemulihan produktivitas perikanan berkaitan langsung dengan keberhasilan pengelolaan perikanan dan upaya pemulihan stok ikan. Secara umum, tindakan yang perlu untuk membangunan kembali stok adalah tidak berbeda, faktor pokok berhubungan dengan keberhasilan strategi pemulihan, yakni:
1. mengurangi mortalitas melalui pengurangan upaya penangkapan dan pengurangan bycatch sampai moratorium apabila sangat dibutuhkan;
2. mengurangi atau mengeliminasi degradasi lingkungan;
3. meningkatkan faktor-faktor pertumbuhan, sebagai contoh melalui stock enhancement dan rehabilitasi habitat.
Suatu prasyarat untuk membangunan kembali stok ikan dalam pendekatan ekosistem adalah rehabilitasi ekosistem. Di dalamnya termasuk penurunan tekanan penangkapan yang drastis atau adopsi lain tindakan pengelolaan untuk mengurangi kondisi-kondisi yang mendukung stock’s overexploitation & depletion.
Pengelolaan perikanan adalah mengelola manusia, yang melibatkan pertimbangan biologi, ekonomi, sosial dan politik. Masalah sumber daya ikan bukanlah semata mata masalah lingkungan melainkan masalah manusia yang timbul berkali kali diberbagai tempat dalam konteks politik, sosial, dan sistem ekonomi yang berbeda. ”Managing fisheries is managing people”, pemahaman perilaku nelayan adalah suatu kunci utama terhadap kesuksesan pengelolaan perikanan. Kumpulan perilaku tentang armada penangkapan dapat diramalkan dan dikelola dengan insentif yang sesuai, serta untuk memperoleh keberlanjutan, akses perlu dibatasi dan pengembangan upaya penangkapan perlu dikendalikan.
Pengambengan sebagai salah satu sentra perikanan yang khas untuk komoditas lemuru di Indonesia, yakni di Selat Bali menjadikan PPN Pengambengan (PPNP) memiliki peran penting. PPNP terletak pada posisi 080 23’ 46” Lintang Selatan dan 1140 34’ 47” Bujur Timur, terletak di desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Propinsi BALI. Berjarak 9 KM dari Kota Negara dan 105 KM dari Kota Denpasar, menghadap ke Wilayah Pemanfaatan Perairan (WPP) 9 Samudera Hindia dan Selat Bali. PPNP merupakan pusat kegiatan perikanan rakyat terbesar di Bali dan merupakan salah satu Outerring Fishing Port yang tidak hanya dimanfaatkan oleh nelayan asal Bali tetapi juga oleh nelayan asal Jawa Timur dan diharapkan juga dari daerah lain di Indonesia dan internasional yang beroperasi di Selat Bali dan di Samudera Indonesia.
METODE
Survei ini dilakukan di PPN Pengambengan selama periode 13-18 Maret 2011. Pengumpulan data diperoleh dari statistik pelabuhan, cruise singkat (onboard observer) serta wawancara dengan stakeholders perikanan.
Keterangan:
Lokasi Survei
Gambar 1. Lokasi survey.
PPN Pengambengan
Pelabuhan Perikanan Pantai Pengambengan (PPPP) awal mulanya adalah PPI Pengambengan yang dibangun pada tahun 1976/1977 secara bertahap di kembangkan dan berdasarkan studi kelayakan oleh Fisheries Infrastructure Sector Project dengan Consultant Roger Consulting Marine Gmbh pada tahun 1988. PPPP dilengkapi dengan berbagai prasarana dan fasilitas darat antara lain turap, gedung TPI, bengkel, rumah genzet, tower air WC Umum, Balai Pertemuan Nelayan, kantor, mess operator, gudang es, tempat penimbangan ikan, sarana peribadatan, paving block, jalan lingkungan, tempat parkir, drainase dan pagar keliling, break water, kolam labuh dan dermaga. Berdasarkan Surat Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara RI Nomor : B/2712/M.PAN/12/2005. Tanggal 30 Desember 2005. Hal Penataan organisasi unit pelaksana teknis dilingkungan Kemneterian Kelautan dan Perikanan. PPI Pengambengan berubah nama menjadi Pelabuhan Perikanan Pantai Pengambengan (PPPP). Dan pada tahun 2010 PPN Pengambengan dinaikkan statusnya menjadi Pelabuhan Perikanan Nusantara Pengambengan (PPNP ).
PPNP terletak pada posisi 080 23’ 46” Lintang Selatan dan 1140 34’ 47” Bujur Timur, terletak di desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Propinsi BALI. Berjarak 9 KM dari Kota Negara dan 105 KM dari Kota Denpasar, menghadap ke Wilayah Pemanfaatan Perairan (WPP) 9 Samudera Hindia dan Selat Bali. PPNP merupakan pusat kegiatan perikanan rakyat terbesar di Bali dan merupakan salah satu Outerring Fishing Port yang tidak hanya dimanfaatkan oleh nelayan asal Bali tetapi juga oleh nelayan asal Jawa Timur dan diharapkan juga dari daerah lain di Indonesia dan internasional yang beroperasi di Selat Bali dan di Samudera Indonesia.
Diharapkan PPPP dapat melayani kegiatan operasi kapal-kapal penangkap ikan Indonesia maupun kapal-kapal penangkap ikan internasional. PPNP saat ini ditunjang oleh industri pengalengan ikan dan penepungan ikan berjumlah 14 unit (di luar komplek pelabuhan), industri pengolahan ikan rakyat berupa pengasinan/pengeringan ikan sebanyak 10 unit ( di dalam kawasan Pelabuhan ).
Sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Departemen Kelautan dan Perikanan, PPNP mempunyai Tugas Pokok melaksanakan fasilitasi produksi dan pemasaran hasil Perikanan Tangkap di wilayahnya dan pengawasan pemanfaatan sumberdaya penangkapan untuk pelestariannya.
AKTIFITAS PENANGKAPAN
Perikanan di PPN Pengambengan berbasis pada komoditas lemuru di Selat Bali. Lemuru Sardinella lemuru (Bleeker, 1853) meruka spesies yang unik dan hanya di temukan di Selat Bali. Dalam memenfaatkan lemuru nelayan menggunakan pukat cincin. Metode operasi yang digunakan pukat cincin Pengambengan menggunakan sistem 2 kapal (2 boats system). Adapun pukat cincin yang berbasis di Pengambengan memiliki ukuran teknis kapal, sbb:
Nilai
P
L
D
PK
Max
21,00
5,50
1,85
30
Min
14,50
3,40
1,00
23
Masing-masing kapal memiliki fungsinya sendiri, nelayan umumnya menyebauk kapal jaring (atau kapal pemburu) dan kapal sleret. Kapal jaring berfungsi meletakkan jarring, melingkarkan jaring ke gerombolan ikan, penarikan jaring. Sedangkan kapal sleret berfungsi untuk menjaga posisi awal jaring dan menarik sleret/tali kerut/purse line. Hampir 3/4 ABK berada di kapal jaring, pemasangan mesin di kapal jaring hanya disatu sisi (kanan) berjumlah 4-5 buah, sedangkan pada kapal sleret mesin dipasang seimbang sebanyak 4 buah.
Berdasarkan data registrasi kapal dari satker PSDKP Pengambengan menunjukkan bahwa kapal yang dominan berlabuh di PPN Pengambengan ialahckapal dengan ukuran panjang 15-16 m; lebar 5-6 m; dalam 1-2 m; serta ukuran mesin kapal berukuran 29-30 PK.
Gambar 2. Kisaran dimensi kapal pukat cincin.
Ukuran 2 kapal yang digunakan dalam operasi memiliki ukuran yang hampir sama. Adapun spesifikasi alat tangkap yang digunakan, sbb:
Panjang Jaring: 285 meter;
Dalam jarring: 113 meter
Ukuran mata jaring: ¾ inci;
Jumlah ring: 170 buah;
Jumlah pemberat: 234 buah @ 0,33 kg
Jumlah pelampung: 1425 buah
Gambar 3. Kapal pukat cincin yang berbasis di Pengambengan.
Karena daerah penangkapannya berada di Selat Bali, yang merupakan wilayah pengelolaan 2 provinsi, yakni Jawa Timur dan Bali. Salah satu cara pengelolaan, maka dibuatlah Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Pemerintah Daerah (Pemda) Jawa Timur dan Bali dengan nomor SKB No. 238/1992-647/1992 yang berisi, yaitu:
1.) Membatasi jumlah kapal yang beroperasi sebanyak 273 unit, 83 unit untuk Bali dan 190 unit untuk Jawa Timur;ukuran kapal < 30 GT ;
2.) Besar mata jaring pada bagian kantong adalah ukuran satu inci (2,54 cm) berdasarkan SK Mentan No. 123/Kpts/Um/3/1975. Ukuran maksimum pukat cincin adalah 300 m (panjang) dan 60 m (dalam); dan
3.) Pembagian dua daerah penangkapan di perairan Selat Bali, yaitu Zona penangkapan I dialokasikan untuk alat-alat tangkap tradisional, dan Zona penangkapan II untuk alat-alat yang dapat bergerak dan kapal-kapal penangkapan yang lebih besar seperti pukat cincin.
Gambar 4. Pembagian lokasi pengelolaan (PPN Pengambengan, 2011)
PRODUKTIFITAS
Produktivitas ialah nilai produksi berdasarkan upaya yang telah dilakukan, umumnya kita mengenal CPUE (catch per unit effort) sebagai parameter produktifitas. Upaya yang dimaksud dapat berupa jumlah alat tangkap, jumlah kapal, jumlah trip, jumlah haul, dll. Selanjutnya hasil analisis data produktifitas perikanan PPN Pengambangan menunjukkan tren penurunan produktifitas. Penurunan drastic terjadi pada tahun 2010 hal tersebut membuat kegiatan perikanan di Pengambengan terpuruk, hanya sedikit kapal yang melakukan penangkapan dan hasil tangkapannya dominan ikan tongkol yang berukuran panjang 21-25 cm dan berat 123,3-152,3 gram. Hal tersebut didukung oleh data tren penurunan CPUE lemuru yang merupakan spesies dominan tangkapan pukat cincin. Tidak hanya penurunan terhadap CPUE, upaya penangkapan pun mengalami penurunan. Hal tesebut disebabkan hasil penjualan hasil tangkapan tidak sepadan dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan. Hasil penelitian Purwanto (2010) menjelaskan bahwa produktifitas di Selat Bali khususnya untuk komoditas lemuru dipengaruhi oleh kondisi ENSO (El Nino Southern Oscillation)
Gambar 5. Tren produktivitas PPN Pengambengan.
Gambar 6. Tren produktivitas penangkapan lemuru.
Berikut disajikan kondisi CPUE dan upaya sebagai indicator produktivitas total terhadap fluktuasi nilai SOI. Hasil plot tersebut menunjukkan hal yang sedikit kontradiktif, dimana pengaruh fluktuasi SOI hanya terlihat nyata pada tahun 2010. Kondisi tahun 2010 merupakan kondisi periode La Nina, dimana curah hujan akan tinggi. Kondisi SOI tahun 2010 menunjukkan nilai diatas normal (>10). Jika dilihat tren upaya yang menurun drastic di tahun 2010 disebabkan oleh lemuru yang meupakan target tangkap tidak tertangkap dalam berbulan-bulan, selain tiu juga dipearuhi oleh kondisi cuaca yang sering hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi.
Gambar 7. Fluktuasi CPUE terhadap kondisi SOI.
Gambar 8. Fluktuasi upaya terhadap kondisi SOI.
Sebagaimana diketahui komoditas utama di Selat Bali ialah lemuru.Berdasarkan data statistik produktivitas tahun 2007-2010 PPN Pengambengan komposisi lemuru sebesar 95,01% dan dua spesies yang mendominasi setelah lemuru ialah tongkol (2,99%) dan layang (2%).
Gambar 9. Komposisi hasil tangkapan pukat cincin.
Dikutip dari
Sumber : Koran Tempo 05 April 2011,hal. B1
==============================
JAKARTA – Pemerintah akan mengirim kembali (reekspor) 88 kontainer berisi ikan impor ilegal yang ditahan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Pada tahap pertama, sebanyak 74 kontainer akan dikembalikan ke negara asal dan negara lainnya.
“Sisa kontainer yang masih tertahan akan dilihat dulu dokumen-dokumen penolakannya,” kata Kepala Pusat Komunikasi Badan Karantina Kementerian Kelautan dan Perikanan Hari Ma-ryadi kemarin. Setiap kontainer berisi 25,8-26 ton ikan.
Kasus ini berawal dari ditemukannya sekitar 200 kontainer berisi ikan impor ilegal. Ikan yang diimpor terdiri atas ikan kembung, ikan asin, dan ikan makerel.
Puluhan kontainer ikan ilegal, kata dia, akan dikembalikan ke negara asal impor, seperti Cina, Pakistan, Amerika Serikat, Thailand, dan Myanmar. Dari jumlah ini, 51 kontainer ikan asal Cina seluruhnya dikembalikan ke negara itu. Delapan kontainer ikan asal Pakistan hanya 2 kontainer yang dikembalikan. Sedangkan dari 12 kontainer ikan asal Amerika, sebanyak 5 kontainer dire-ekspor. Adapun 9 kontainer ikan ilegal dari Thailand semuanya dikembalikan dan dari 2 kontainer asal Myanmar hanya satu kontainer yang dikembalikan.
==============================
Jika ditinjau kembali agaknya kebijakan pemerintah untuk me re-ekspor kontainer-kontainer ilegal tersebut kurang tepat. Karena kondisi di lapangan menunjukkan ketersedian bahan baku pengalengan sangat kurang. Sebagai contoh perikanan lemuru di Selat Bali (lokasi perikanan yang khas) hampir setahun sedang panceklik, hal tersebut diduga karena pengaruh periode La-Nina. Dimana diduga kolom renang lemuru berubah. Industri pengalengan sardin disana menjadi bingung mencari bahan baku, dan terpaksa dengan margin keuntungan yang tipis mereka mengimpor ikan dari China walaupun dengan ukuran yang kecil dan kualitas yang lebih rendah serta harga yang mahal dibandingkan dengan harga bahan baku lokal (Hasil Survei IUU Fishing, 2011).
Disisi lain peran pemerintah dalam hal ini sangat kurang, pemerintah tidak memberikan alternatif solusi mengenai hal tersebut. Menurut hemat penulis seharusnya kontainer tersebut dilakukan penyitaan, dan segera dilelang kepada perusahaan Indonesia. Mengingat kulitas ikan akan cepat sekali menurun. Walalupun begitu perlu juga diperhatikan asal dan kondisi (kesehatan dan bebas kontaminan) ikan tersebut. Agar tidak menjadi masalah yakni wabah penyakit ikan dikemudian hari.
Recent Comments